56 Mahasiswa FBS UNNES Gelar Ujian Tata Rias Pengantin, Angkat Keindahan Empat Gaya Adat Jawa

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > 56 Mahasiswa FBS UNNES Gelar Ujian Tata Rias Pengantin, Angkat Keindahan Empat Gaya Adat Jawa

Sebanyak 56 mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (UNNES), mengikuti Ujian Tata Rias Pengantin yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026 di Teras Gedung B6, Kampus UNNES Sekaran. Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi pembelajaran sekaligus wujud pelestarian budaya melalui keterampilan tata rias dan busana pengantin tradisional.

Mengusung tema tata rias pengantin adat Jawa, para mahasiswa menampilkan empat jenis rias pengantin, yakni Solo Putri, Solo Basahan, Jogja Putri, dan Jogja Paes Ageng. Keempat gaya tersebut dipilih karena memiliki karakteristik, nilai estetika, serta filosofi yang kaya dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Nusantara.

Ujian yang dibimbing oleh dosen pengampu Dr. Eny Kusumastuti, M.Pd. dan Dr. Galuh Fatma Hedianti, M.Pd. ini menghadirkan 28 pasang pengantin dengan rincian: 10 pasang rias gaya Jogja Putri, 4 pasang gaya Jogja Paes Ageng, 4 pasang gaya Solo Basahan, dan 10 pasang gaya Solo Putri.

Proses dan Penilaian yang Komprehensif

Dalam pelaksanaan ujian, mahasiswa tidak hanya dinilai dari hasil akhir riasan, tetapi juga dari keseluruhan proses yang meliputi perencanaan konsep, pemilihan model, tata rias wajah, penataan rambut, pemasangan aksesori, hingga kesesuaian busana dengan pakem adat yang digunakan. Setiap peserta dituntut mampu mengaplikasikan keterampilan secara detail dan teliti agar menghasilkan tampilan pengantin yang indah, harmonis, serta sesuai dengan karakter masing-masing adat.

“Ujian ini bukan sekadar menilai kemampuan teknis merias, tetapi juga pemahaman mahasiswa terhadap filosofi dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap gaya rias pengantin Jawa. Mereka harus mampu menghadirkan keindahan sekaligus menjaga keautentikan pakem adat,” ujar Dr. Eny Kusumastuti, M.Pd., saat ditemui di sela-sela ujian, Kamis (18/6/2026).

Keindahan Empat Gaya Pengantin Jawa

Rias pengantin Solo Putri ditampilkan dengan nuansa anggun dan elegan yang menggambarkan kelembutan perempuan Jawa. Sementara itu, Solo Basahan menghadirkan kesan megah dengan penggunaan dodot dan berbagai aksesori khas Keraton Surakarta.

Pada konsep Jogja Putri, mahasiswa menonjolkan keindahan paes hitam yang memiliki filosofi mendalam tentang perjalanan hidup manusia, sedangkan Jogja Paes Ageng menampilkan kemewahan dan kewibawaan melalui perpaduan tata rias, paes, serta busana yang sarat akan nilai budaya.

Suasana ujian berlangsung dengan penuh antusiasme. Mahasiswa menunjukkan kreativitas serta kemampuan mengolah unsur-unsur seni rupa, tata rias, dan estetika budaya menjadi karya yang menarik dan bernilai artistik tinggi. Berbagai hasil karya yang ditampilkan mencerminkan kesungguhan mahasiswa dalam mempelajari serta mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh selama proses perkuliahan.

Kompetensi Pendukung bagi Mahasiswa Seni Tari

Sebagai bagian dari Program Studi Pendidikan Seni Tari, kemampuan tata rias pengantin menjadi salah satu kompetensi pendukung yang penting untuk dikuasai mahasiswa. Penguasaan bidang ini tidak hanya memperluas wawasan mengenai seni dan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk berkarya di berbagai bidang kreatif, seperti tata rias pertunjukan, tata rias pengantin, hingga industri seni dan budaya.

Dr. Galuh Fatma Hedianti, M.Pd., menambahkan bahwa keterampilan tata rias pengantin menjadi bekal berharga bagi lulusan Pendidikan Seni Tari. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul dalam seni tari, tetapi juga memiliki kompetensi pendukung yang dapat menjadi nilai tambah di dunia kerja. Tata rias pengantin adalah salah satu keterampilan yang sangat aplikatif dan diminati masyarakat,” jelasnya.

Menjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi

Melalui kegiatan Ujian Tata Rias Pengantin ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari FBS UNNES diharapkan mampu menjadi generasi yang kreatif, profesional, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa seni tidak hanya dipelajari sebagai teori, tetapi juga diwujudkan dalam praktik nyata yang mampu menghadirkan keindahan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi Indonesia di tengah perkembangan zaman.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya mahir merias, tetapi juga menjadi duta budaya yang mampu mengenalkan dan melestarikan kekayaan adat istiadat Nusantara, khususnya tata rias pengantin Jawa, kepada generasi muda dan masyarakat luas,” pungkas Dr. Eny.

Kegiatan Ujian Tata Rias Pengantin ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pendidikan vokasi dan keterampilan praktis yang berbasis budaya. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa, serta SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan kompetensi yang membuka peluang kerja di industri kreatif dan budaya.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy