UNNES Mantu 2026: Akad Nikah Massal Gratis dan Pagelaran Adat Jawa Satukan Tradisi dengan Misi Sosial

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > UNNES Mantu 2026: Akad Nikah Massal Gratis dan Pagelaran Adat Jawa Satukan Tradisi dengan Misi Sosial

Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menggelar agenda tahunan UNNES Mantu 2026 pada Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026, di Pendopo Kampung Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Kampus Gunungpati, Semarang. Tahun ini, kegiatan yang semula merupakan ujian praktik mata kuliah Panatacara Program Studi Sastra Jawa dan Pendidikan Bahasa Jawa itu bertransformasi signifikan dengan menghadirkan layanan akad nikah massal gratis bagi masyarakat umum, sekaligus pergelaran adat panggih pengantin lima gaya dari tradisi Surakarta dan Yogyakarta.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III FBS UNNES Bidang Riset, Inovasi, dan Sistem Informasi, Mohamad Yusuf Ahmad Hasyim, Lc., M.A., Ph.D., ini merupakan luaran dari mata kuliah Panatacara yang diampu oleh Dr. Widodo, M.Hum., dan Didik Supriadi, S.Pd., M.Pd.. Sebanyak 96 mahasiswa terlibat sebagai panitia penyelenggara, bertindak layaknya wedding organizer profesional yang mengkoordinasi seluruh proses teknis, administrasi, hingga dokumentasi.

Akad Nikah Massal: Solusi Ekonomi bagi Masyarakat

Sebanyak sembilan pasangan dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Demak, hingga Salatiga, resmi dinikahkan dalam prosesi akad nikah massal yang berlangsung pada Jumat (19/6) pukul 08.00-11.00 WIB. Seluruh proses pernikahan difasilitasi secara gratis oleh panitia, mulai dari administrasi, pendampingan, mahar, hingga dokumentasi, sehingga beban biaya pernikahan telah dihilangkan bagi para peserta.

Salah satu pasangan yang menjadi sorotan adalah Muhammad Ali (69) dan Catur Orbasal Prihati (59), warga Kota Semarang yang akhirnya meresmikan hubungan mereka setelah penantian panjang selama lebih dari 20 tahun akibat keterbatasan ekonomi. “Karena kondisi ekonomi, kami memilih ikut nikah massal. Semuanya difasilitasi kampus,” ujar Ali. Kebahagiaan serupa dirasakan pasangan asal Salatiga, Muhammad Slamet (43) dan Komariah (51). “Selain gratis, kami juga bangga bisa terpilih setelah melalui proses seleksi,” ujar Komariah.

Dosen pengampu mata kuliah Panatacara, Didik Supriadi, menjelaskan bahwa UNNES Mantu telah berlangsung sebanyak 14 kali sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun, hingga tahun 2025, kegiatan ini masih digelar sebagai ujian mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa serta Sastra Jawa. “Pada tahun ini kami menambahkan inovasi berupa akad nikah massal yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Pagelaran Lima Gaya Pengantin Jawa

Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Sabtu (20/6) dengan pergelaran adat panggih pengantin yang menampilkan lima gaya tradisi Jawa, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Kelima gaya tersebut meliputi Gagrag Surakarta Karaton, Sentana Dalem, Saudagar, Pabrayatan, serta Yogyakarta Pabrayatan. Setiap gaya memiliki karakteristik, tata rias, busana, dan filosofi yang kaya akan nilai budaya.

“Pergelaran pengantin ada lima gaya. Dari gaya Surakarta ada empat gaya, yaitu Sentana Dalem, Karaton Surakarta, Saudagar, dan gaya masyarakat umum. Kemudian satu lagi gaya Yogyakarta,” jelas Didik.

Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai panitia, tetapi juga terlibat langsung sebagai model pengantin dan pendukung acara. Mereka melakukan riset mendalam terhadap berbagai sumber, termasuk naskah klasik seperti Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1800-an, untuk memastikan prosesi yang ditampilkan sesuai dengan referensi sejarah dan budaya Jawa.

Transformasi Pendidikan dan Kepedulian Sosial

Wakil Dekan III FBS UNNES, Mohamad Yusuf Ahmad Hasyim, Lc., M.A., Ph.D., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan UNNES Mantu 2026. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi pembelajaran, tetapi juga wujud nyata kepedulian kampus terhadap masyarakat.

“UNNES Mantu 2026 telah bertransformasi menjadi kegiatan yang tidak lagi hanya berfokus pada aspek evaluasi pembelajaran, tetapi juga memberikan solusi sosial bagi masyarakat, terutama bagi pasangan yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Ini adalah perwujudan nyata dari tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat,” ujar Mohamad Yusuf Ahmad Hasyim.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini mencerminkan komitmen UNNES sebagai kampus konservasi yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pemecahan masalah sosial di masyarakat.

Kegiatan UNNES Mantu 2026 sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui penyelenggaraan akad nikah massal gratis bagi masyarakat kurang mampu, kegiatan ini mendukung upaya pengurangan kesenjangan ekonomi dan akses terhadap layanan administratif pernikahan yang layak. Selain itu, pelestarian dan pergelaran adat panggih pengantin Jawa turut mendukung pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat dalam kegiatan ini juga mencerminkan semangat kemitraan yang inklusif dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy