FBS UNNES Gelar Workshop Internasional “Mainstreaming Gender in Our Research and Teaching”

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > FBS UNNES Gelar Workshop Internasional “Mainstreaming Gender in Our Research and Teaching”

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar workshop internasional bertajuk “Mainstreaming Gender in Our Research and Teaching” pada Rabu, 17 Juni 2026, di Ruang Bundar Dekanat FBS UNNES. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan dua pembicara utama dari dalam dan luar negeri, yakni Prof. Mindy Blaise dari Edith Cowan University, Australia, serta Dr. Inaya Rakhmani dari Universitas Indonesia.

Workshop ini menjadi ruang refleksi kritis bagi para akademisi, khususnya di lingkungan FBS UNNES, untuk menelaah bagaimana perspektif gender dapat diintegrasikan secara substantif dalam praktik penelitian dan pengajaran, bukan sekadar formalitas administratif.

Gender sebagai Lensa, Bukan Sekadar Angka

Dr. Inaya Rakhmani, peneliti senior dari Asia Research Centre Universitas Indonesia, membuka sesi dengan pendekatan reflektif. Ia menekankan bahwa pengarusutamaan gender sering kali direduksi menjadi sekadar penghitungan jumlah perempuan di ruang akademik atau penambahan variabel “gender” dalam penelitian tanpa perubahan mendasar pada pertanyaan yang diajukan.

“Gender sebagai lensa analitis mengubah pertanyaan yang kita anggap layak untuk ditanyakan, mengubah metode yang kita pilih, dan mengubah klaim yang dapat kita buat secara jujur. Ia mempertanyakan kerja dan pengetahuan siapa yang dihargai, serta mengapa distribusi itu bersifat gender,” ujar Rakhmani dalam paparannya.

Ia memaparkan bagaimana tiga lapis warisan sejarah, yaitu kolonial Belanda, Orde Baru yang sentralistik, dan neoliberalisme, telah membentuk struktur universitas di Indonesia yang masih sarat dengan logika patriarkal. Menurutnya, neoliberalisme bukanlah pemutusan bersih dari masa lalu, melainkan justru merakit ulang logika kolonial dan patriarkal.

Salah satu temuan paling mengemuka dari riset yang ia lakukan bersama rekan-rekannya adalah adanya temporal scarcity, yaitu kekurangan waktu dan ruang material bagi akademisi perempuan untuk membaca, berdiskusi, dan menanggapi karya sesama. “Kerja merawat dan pastoral, seperti mentoring, mendengarkan, menyatukan kohort dan kolega, adalah kerja yang esensial dan konstan, tetapi tidak pernah dihargai oleh metrik,” tegasnya.

#FEAS: Melawan Seksisme Sehari-hari dengan Cara Kreatif

Sesi kedua diisi oleh Prof. Mindy Blaise, pendiri sekaligus ko-konvenor #FEAS (Feminist Educators Against Sexism) dari Edith Cowan University, Australia. Blaise membawa pendekatan yang berbeda: kreatif, jenaka, dan subversif sebagai strategi menghadapi seksisme struktural maupun sehari-hari di lingkungan akademik.

“#FEAS tidak bertujuan untuk menunjuk, menyalahkan, atau mempermalukan, tetapi tetap mengakui di mana letak masalah, kuasa, dan patriarki. Kami mencari cara-cara kreatif untuk bekerja bersama, mengambil risiko, dan keluar dari zona nyaman,” ujar Blaise.

Ia memaparkan beragam intervensi yang telah dilakukan #FEAS, mulai dari pembuatan zine feminis, survival kits, hingga The #FEAS Wheel of (mis)Fortune—sebuah permainan panggung yang menyindir seksisme di universitas. Blaise juga menyoroti temuan riset bahwa akademisi laki-laki cenderung tidak melihat seksisme sebagai masalah yang memengaruhi kemajuan karier kolega perempuan maupun kolega dari beragam gender.

“Jika universitas benar-benar ingin memperbaiki kesenjangan berbasis gender, perhatian jauh lebih besar perlu diberikan pada ranah mikro, interaksional, yang tampaknya sepele, pada keseharian seksisme,” tegasnya.

Dari Ruang Kelas ke Kebijakan Kampus

Kedua pembicara sepakat bahwa perubahan harus dimulai dari hal-hal kecil. Rakhmani menawarkan sejumlah titik masuk: dalam riset, dengan menyatakan posisi diri, memperlakukan relasi dan kerja merawat sebagai data, serta memilih metode yang berbagi pengambilan keputusan. Dalam pengajaran, ia menyarankan pendekatan dialogis dan problem-posing ala Paulo Freire, serta menghadirkan pemikir-pemikir perempuan dan lokal dalam silabus.

Sementara Blaise mengajak peserta untuk bergabung dalam Cite Club dan mengikuti mikro-kredensial tentang seksisme sehari-hari yang tersedia di laman everydaysexisms.com.

Workshop ditutup dengan ajakan Rakhmani untuk memulai dari lingkaran kecil: “Dua orang dan pertemuan rutin sudah cukup untuk memulai.” Ia juga mengingatkan bahwa harapan bukanlah optimisme naif, melainkan sesuatu yang dipraktikkan bersama, melawan kondisi rapuh (precarity) melalui kepedulian kolektif dan solidaritas.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 5: Kesetaraan Gender, melalui upaya mengintegrasikan perspektif gender ke dalam pendidikan dan penelitian. Selain itu, workshop ini juga mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas dengan mendorong pedagogi kritis yang inklusif, serta SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional antara UNNES, Universitas Indonesia, dan Edith Cowan University.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy