Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan Lomba Bahasa dan Seni Tingkat Nasional sebagai ruang kompetisi, kreativitas, sekaligus apresiasi terhadap talenta mahasiswa dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan komunikasi. Kegiatan ini menghadirkan 16 jenis lomba dengan total hadiah sebesar Rp75 juta, disertai sertifikat, medali, dan uang pembinaan bagi para peraih penghargaan.
Enam belas cabang yang diperlombakan mencakup Lomba Cipta Puisi Indonesia, Tari Kreasi, Solo Vocal, Ilustrasi Kreatif, Desain Poster, Menulis Esai Populer Tema Bahasa dan Sastra Indonesia, Reportase Bahasa Perancis, Presentasi Destinasi Wisata Lokal Berbahasa Perancis, Media Pembelajaran Interaktif Bahasa Arab, Reportase Bahasa Jepang, Speech Contest, English Flash Fiction Contest, Penulisan Puisi Bahasa Daerah/Geguritan, Membaca Macapat, Puisi Modern Bahasa Mandarin, serta Content Personal Branding.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pendaftaran pada 16 Agustus hingga 30 September, dilanjutkan penjurian pada 30 September hingga 2 Oktober, kemudian pengumuman peraih penghargaan pada 3 Oktober. Penilaian dilakukan oleh dewan juri internal dan eksternal berdasarkan rubrik yang telah ditetapkan panitia. Seluruh peserta juga memperoleh sertifikat sebagai finalis.
Wakil Dekan I FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum., memandang kompetisi ini tidak sebatas arena untuk menentukan pemenang. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberi mahasiswa kesempatan membawa pengetahuan keluar dari ruang perkuliahan, lalu mengujinya melalui karya dan pengalaman nyata.
“FBS ingin membuka ruang seluas mungkin bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Bahasa dan seni bukan hanya bidang yang dipelajari di kelas, tetapi juga medium untuk membangun kreativitas, kepekaan budaya, keberanian berekspresi, dan kemampuan berkomunikasi. Kompetisi tingkat nasional seperti ini diharapkan menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan prestasi akademik dengan pengembangan talenta mahasiswa,” ungkap Dr. Eko Raharjo, M.Hum.
Keragaman cabang lomba menjadi warna tersendiri. Bahasa Indonesia hadir berdampingan dengan bahasa Arab, Inggris, Jepang, Mandarin, Perancis, serta bahasa daerah. Seni tari, ilustrasi, desain, sastra, hingga personal branding juga memperoleh ruang yang sama. Dengan demikian, kompetisi tidak hanya menguji keterampilan teknis peserta, tetapi sekaligus mempertemukan berbagai ekspresi bahasa dan kebudayaan dalam satu panggung nasional.
Penyelenggaraan kegiatan ini juga beririsan dengan komitmen UNNES terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, kegiatan mendukung SDG 4: Quality Education melalui penyediaan pengalaman belajar yang mendorong pengembangan kompetensi, kreativitas, keterampilan komunikasi, serta penguatan kapasitas mahasiswa di luar pembelajaran formal.
Selain itu, terbukanya ruang kompetisi dalam beragam bahasa dan bentuk kesenian memiliki relevansi dengan SDG 10: Reduced Inequalities, terutama melalui semangat memberikan ruang partisipasi dan apresiasi terhadap keragaman bahasa dan budaya. Kehadiran cabang lomba seperti penulisan puisi bahasa daerah atau geguritan dan membaca macapat juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan serta ekspresi budaya lokal di tengah perubahan zaman.
Melalui Lomba Bahasa dan Seni Tingkat Nasional, FBS UNNES terus menguatkan ekosistem akademik yang tidak berhenti pada capaian di ruang kelas. Prestasi, kreativitas, bahasa, dan kebudayaan dipertemukan dalam pengalaman kompetitif yang sehat. Semangat tersebut sejalan dengan ikhtiar FBS UNNES untuk “Raih Prestasi, Lestarikan Budaya”, sekaligus membawa karya dan talenta mahasiswa menuju ruang perjumpaan yang lebih luas.













