Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Rerengkuh Universitas Negeri Semarang (UNNES) berhasil menemukan sejumlah nilai kearifan lokal dalam Serat Wedha Tanaya yang relevan untuk dijadikan model edukasi dalam mengenali dan mencegah ancaman child grooming, khususnya dalam relasi yang berpotensi mengarah pada pernikahan dini.
Temuan penting ini diperoleh melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan dua budayawan ternama, Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. dan Dr. Doni Dwi Hartanto, S.Pd., M.Pd. Kegiatan yang menjadi bagian penting dari penelitian Tim Rerengkuh ini bertujuan menggali, menginterpretasikan, dan mengontekstualisasikan nilai-nilai dalam Serat Wedha Tanaya dengan persoalan yang dihadapi perempuan masa kini.
Melalui FGD tersebut, Tim Rerengkuh memperoleh temuan bahwa Serat Wedha Tanaya tidak hanya berbicara mengenai kehidupan rumah tangga, tetapi juga memuat nilai-nilai yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan karakter pasangan, membangun relasi yang sehat, mengembangkan pengendalian diri, mencapai kematangan dalam mengambil keputusan, serta memahami tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga.
Salah satu temuan utama dalam FGD adalah nilai-nilai dalam Pupuh Dhandhanggula, yaitu momong (mengasuh), asih (kasih sayang), bertanggung jawab, dan pengayom. Keempat nilai tersebut kemudian direinterpretasikan dalam Model Rerengkuh sebagai prinsip preventif untuk membantu perempuan mengevaluasi hubungan dan mengenali potensi manipulasi. Selain itu, FGD juga memperkuat pemahaman Tim Rerengkuh terhadap ajaran dalam Pupuh Kinanthi, khususnya konsep empat lamak yang dapat dimaknai sebagai landasan dalam memilih pasangan, meliputi lamaking wanci (ketepatan waktu), lamaking warni (ketepatan warna/penampilan), lamaking rukmi (ketepatan harta), dan lamaking budi (ketepatan budi pekerti).
Penelitian ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menekankan pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua, serta poin ke-5 tentang Kesetaraan Gender yang bertujuan menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Melalui Model Rerengkuh, Tim PKM-RSH UNNES berupaya menghadirkan kearifan lokal Jawa sebagai bagian dari edukasi yang kontekstual dan relevan dengan tantangan kekinian. Nilai-nilai dalam Serat Wedha Tanaya tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikaji kembali agar dapat memberikan perspektif bagi perempuan dalam menghadapi ancaman child grooming.
Dengan tagline “Rerengkuh: Merengkuh Diri, Menguatkan Perempuan, Melindungi Masa Depan,” Tim PKM-RSH UNNES berharap penelitian ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam upaya perlindungan perempuan dan anak di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi UNNES sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan kearifan lokal dalam menjawab persoalan sosial kontemporer.













