FBS UNNES Garda Terdepan Pelestarian Budaya Lewat Pagelaran Wayang Orang “Gatutkaca Winisuda”

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > FBS UNNES Garda Terdepan Pelestarian Budaya Lewat Pagelaran Wayang Orang “Gatutkaca Winisuda”

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali mengukuhkan perannya sebagai lembaga yang tidak hanya unggul dalam pendidikan seni, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya bangsa. Hal ini dibuktikan melalui pagelaran wayang orang berjudul “Gatutkaca Winisuda” yang dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2026, pukul 19.00 WIB, di Auditorium Prof. Wuryanto. Pagelaran ini resmi dibuka oleh Wakil Dekan 1 FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum.

Kegiatan ini merupakan output dari mata kuliah Wayang Orang yang menjadi penciri Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS UNNES, sekaligus ujian kolaborasi antara mata kuliah Wayang Orang untuk angkatan 2023 dan mata kuliah Tata Rias Karakter Pewayangan untuk angkatan 2025. Pagelaran wayang orang ini dibimbing oleh dua dosen pengampu, yaitu Dr. Restu Lanjari, M.Pd. dan Andhika Wahyu Kurniyawan, S.Pd., M.Pd. Melalui pendampingan yang intensif, para mahasiswa tidak hanya belajar teknik tari dan dialog, tetapi juga didorong untuk menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam lakon wayang.

Koordinator Program Studi Seni Tari FBS UNNES, Dr. Eny Kusumastuti, M.Pd., menyampaikan harapan besarnya terhadap keberlanjutan pagelaran ini. “Harapan saya, pagelaran wayang orang ini akan dilaksanakan secara rutin, sejalan dengan visi konservasi UNNES. Syukur-syukur nanti bisa menjadi pagelaran rutin yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Kami ingin wayang orang tidak hanya menjadi ujian akademik semata, tetapi juga menjadi tontonan yang membudaya dan dirindukan oleh publik,” ujarnya.

Saat membuka acara, Wakil Dekan 1 FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum., menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pagelaran ini. “Pagelaran wayang orang ‘Gatutkaca Winisuda’ adalah bukti nyata komitmen FBS UNNES dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ajang ujian mahasiswa, tetapi juga dapat terus dikembangkan sebagai agenda rutin yang melibatkan masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan visi UNNES sebagai universitas konservasi serta mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan,” tuturnya.

Lakon “Gatutkaca Winisuda” mengisahkan perjalanan hidup Gatotkaca, putra Werkudara dan Arimbi, yang memiliki darah campuran manusia dan raksasa. Cerita dimulai dari pertarungan Werkudara melawan Arimba, kelahiran Gatotkaca yang semula bernama Jebeng Tetuko, hingga ia mendapatkan kesaktian dari kahyangan dan berganti nama menjadi Gatotkaca. Lakon ini juga menampilkan adegan perebutan takhta di Kerajaan Pringgadani, perlawanan terhadap paman-paman dari pihak raksasa yaitu Brajamusti dan Brajadenta, hingga puncaknya saat Gatotkaca menggunakan aji Brajamusti dan berperang dalam Bharatayudha. Melalui pementasan ini, FBS UNNES ikut melestarikan warisan budaya wayang orang yang sarat dengan nilai kepahlawanan, keadilan, dan pengorbanan.

Proses latihan dilaksanakan selama dua bulan secara bertahap dan terstruktur. Dimulai dengan casting untuk menentukan tokoh berdasarkan kemampuan gerak, penghayatan karakter, vokal, serta kesesuaian fisik dan ekspresi. Setelah pembagian peran, peserta dikenalkan dengan alur cerita dan karakter tokoh. Latihan difokuskan pada penguasaan gerak dasar tari wayang orang, teknik olah tubuh, ekspresi, dan pendalaman karakter. Latihan adegan secara berkelompok dilakukan dengan memadukan tari, dialog, dan penghayatan. Evaluasi berkala dilakukan untuk memperbaiki teknik dan kekompakan. Pada tahap akhir, dilakukan gladi kotor dan gladi bersih menggunakan kostum serta properti pendukung. Kegiatan ini didukung penuh oleh Tata Rias Pewayangan Pendidikan Seni Tari angkatan 2025, Manajemen Pendidikan Seni Magister Program Studi Pendidikan Seni, Sanggar Swagatra FBS UNNES, serta para penari Babalu dan penari Lengger Sontoloyo dari mahasiswa Pendidikan Seni Tari.

Melalui pagelaran ini, FBS UNNES kembali menegaskan posisinya sebagai pusat unggulan pendidikan seni yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga menjadi rujukan utama dalam pelestarian dan pengembangan wayang orang di tengah masyarakat.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy