Dari Solo ke Semarang: UNNES Bawa Pulang Juara, Sekaligus Buktikan Macapat Masuk Agenda Pendidikan Global

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > Dari Solo ke Semarang: UNNES Bawa Pulang Juara, Sekaligus Buktikan Macapat Masuk Agenda Pendidikan Global

Gemuruh tembang macapat yang meliuk dari panggung Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akhirnya menemukan titik puncaknya. Setelah bersaung dengan 51 peserta terbaik dari berbagai universitas di Indonesia, delegasi Universitas Negeri Semarang (UNNES) tidak hanya pulang dengan tangan hampa. Tiga piala kejuaraan resmi diboyong rombongan dari Kota Bengawan menuju Kota Lumpia. Lebih dari sekadar kemenangan, perjalanan dari Solo ke Semarang kali ini menjadi bukti nyata bahwa seni macapat selaras dengan agenda pendidikan global.

Tim UNNES yang terdiri atas 16 mahasiswa — delapan putra dan delapan putri — tampil percaya diri di tengah persaingan ketat. Total peserta lomba mencapai 51 orang dengan rincian 29 putra dan 22 putri yang berasal dari kampus-kampus di seluruh Indonesia. Mereka tidak hanya beradu ketepatan paugeran, namun juga penghayatan dan karakter dalam membawakan tembang macapat. Hasilnya, nama mahasiswa FBS UNNES menghiasi papan juara. Diva Setiandra Rara R, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, keluar sebagai juara pertama putri. Adapun juara kedua putri diraih oleh Agistya Rizki Fierdana dari Pendidikan Seni Musik, sementara di kategori putra, posisi juara kedua berhasil direbut Ipang Puji Saputro, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa.

Di sela-sela kebersamaan tim, sosok yang selama ini setia mendampingi dan melatih anggota UKM Kesenian Jawa Panembrama Langen Sekar, Indrawan Nur Cahyono, S. Sn., mengaku bersyukur sekaligus bersyukur atas makna yang lebih besar di balik raihan ini. Indrawan yang berperan sebagai pembina sekaligus pelatih dan mendampingi langsung para mahasiswa di lokasi lomba, menegaskan bahwa macapat bukan sekadar warisan leluhur yang perlu dilestarikan, melainkan juga medium untuk mencapai target global.

“Alhamdulillah perjuangan adik-adik tidak sia-sia. Tiga piala ini adalah hasil dari latihan dan kecintaan mereka pada seni tradisional. Namun saya ingin meluruskan bahwa kegiatan macapat seperti ini sejatinya adalah implementasi nyata dari SDGs, khususnya Goal 4: Pendidikan Berkualitas yang menekankan pendidikan karakter dan pelestarian budaya, serta Goal 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan yang di dalamnya mencakup upaya melindungi warisan budaya dunia,” ujar Indrawan di sela-sela pendampingan.

Lebih jauh, pria yang kesehariannya aktif membina UKM kesenian Jawa tersebut juga mengaitkan prestasi ini dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi. “Kami menyadari bahwa capaian ini relevan dengan IKU 2 yakni mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, karena mereka berkompetisi di ajang nasional lintas universitas. Juga IKU 5 di mana hasil kerja pembina dan pelatih, dalam hal ini pendampingan kesenian, dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai model pelestarian budaya. Dan tentu saja IKU 7 tentang kelas yang kolaboratif dan partisipatif,” jelas Indrawan, yang dengan tegas menyebut dirinya sebagai pembina, bukan dosen.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum., memberikan apresiasi mendalam. Ia menilai bahwa prestasi tiga piala ini menunjukkan FBS UNNES tidak hanya unggul di ruang kelas, tetapi juga dalam pengembangan bakat seni tradisional. “Kami bangga dengan capaian ini. Kegiatan seperti lomba macapat tingkat nasional selaras dengan target SDGs dan IKU yang dicanangkan pemerintah. Fakultas akan terus mendukung UKM kesenian Jawa Panembrama Langen Sekar dan para pembinanya seperti Indrawan, untuk terus berkarya dan membawa nama harum UNNES,” ujar Dr. Eko Raharjo.

Setelah pengumuman pemenang, rombongan UNNES segera bersiap pulang ke Semarang. Di dalam bus yang melaju mulus meninggalkan Solo, tiga piala kejuaraan diletakkan dengan hati-hati di kursi paling depan. Bagi Indrawan dan 16 mahasiswanya, perjalanan kali ini bukan sekadar membawa pulang piala, melainkan juga sebuah narasi besar: bahwa tembang macapat —yang kerap dianggap klasik— nyatanya masih sangat relevan dan bahkan menjadi bagian dari agenda pendidikan global. Dari Solo ke Semarang, UNNES membuktikannya.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy