Program rutin Sarasehan Selasa Legen kembali digelar di Ruang Gamelan Kampung Budaya, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (UNNES), pada Senin, 18 Mei 2026. Pada penyelenggaraan ke-125 ini, kegiatan mengangkat tema “Dolanan Tradisional Anak, Masihkah Semarak?” dan berlangsung mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.
Sarasehan menghadirkan praktisi dolanan anak dari Kabupaten Semarang, Trisno, S.Psi., sebagai narasumber dengan dipandu oleh dosen Program Studi Sastra Indonesia FBS UNNES, Suseno, S.Pd., M.A. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa, dosen, serta pegiat budaya yang tertarik pada isu pelestarian permainan tradisional di tengah perkembangan era digital.
Dalam pemaparannya, Trisno menjelaskan bahwa permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial bagi anak-anak. Menurutnya, permainan tradisional mampu membangun interaksi langsung antaranak sehingga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan sikap kebersamaan.
“Permainan tradisional itu bukan sekadar bermain. Di dalamnya ada proses belajar bersosialisasi, belajar sabar, belajar menang dan kalah, serta belajar menghargai teman,” jelasnya.
Ia juga menilai permainan tradisional masih cukup semarak di beberapa wilayah pedesaan karena anak-anak masih memiliki ruang untuk bermain bersama secara langsung. Kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan anak-anak di perkotaan yang mulai banyak bergantung pada permainan berbasis gawai.
Menurut Trisno, tantangan terbesar saat ini bukan hanya mempertahankan eksistensi permainan tradisional, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi muda.
“Banyak anak bermain, tetapi belum memahami pelajaran yang bisa didapat dari permainan itu sendiri. Padahal nilai utama dari dolanan tradisional ada pada proses pembentukan karakter,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif ketika salah satu peserta, Arman Maulana, mahasiswa Sastra Jawa FBS UNNES, menanyakan peluang permainan tradisional untuk tetap diminati di tengah maraknya gim daring seperti Mobile Legends dan permainan digital lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Trisno menyampaikan bahwa permainan tradisional masih memiliki peluang besar untuk bertahan apabila dikemas secara menarik dan diperkenalkan secara konsisten kepada anak-anak. “Salah satu caranya dengan memperbanyak festival permainan tradisional dan melibatkan anak-anak secara langsung. Kalau mereka merasakan keseruannya, minat itu akan tumbuh dengan sendirinya,” ungkapnya.
Selain membahas eksistensi dolanan tradisional, sarasehan ini juga menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya menjaga warisan budaya lokal di tengah arus modernisasi. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa permainan tradisional bukan sekadar bagian dari nostalgia masa lalu, melainkan juga sarana pendidikan karakter yang relevan hingga saat ini.
Kegiatan Sarasehan Selasa Legen ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Widodo Wikandono serta diskusi santai antarpeserta mengenai pengalaman bermain dolanan tradisional di masa kecil.
Kegiatan Sarasehan Selasa Legen ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, melalui upaya mengenalkan nilai pendidikan karakter dalam permainan tradisional. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal sebagai identitas masyarakat. Diskusi mengenai ruang bermain anak dan interaksi sosial juga relevan dengan upaya menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan inklusif bagi generasi muda.











