Sabtu malam, 20 Desember 2025, Lapangan Gilisari, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Semarang, berubah menjadi panggung kebudayaan yang semarak. Ratusan warga tumpah ruah memenuhi area lapangan, duduk berdesakan di bawah langit malam untuk menyaksikan puncak dari program pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Acara bertajuk Festival Budaya “Jai Gayapatri” ini menjadi momen bersejarah bagi Kelurahan Purwosari, sekaligus penanda lahirnya sebuah ikon budaya baru: Tari Dandang Gembyang.
Tari Dandang Gembyang bukan sekadar tarian biasa. Ia adalah hasil dari proses panjang pelatihan yang berlangsung secara bertahap selama dua bulan, melibatkan Tim PPK Ormawa DPM FBS UNNES dan delapan remaja putri anggota karang taruna Kelurahan Purwosari. Tarian ini terinspirasi dari kearifan lokal setempat yang dikenal dengan nama Tugu Sidandang—sebuah monumen berbentuk replika dandang atau tempat menanak nasi pada zaman dulu yang menjadi ikon sekaligus pusat kesenian warga Purwosari. Melalui gerakan-gerakan yang diekspresikan dalam Tari Dandang Gembyang, Tim PPK Ormawa DPM FBS UNNES berupaya mereformulasi seni pertunjukan Sidandang agar lebih eksis, berkembang, dan dikenal oleh masyarakat luas.
Kegiatan yang berlangsung selama dua bulan penuh ini bukanlah program seremonial belaka. Di balik gemerlap panggung dan alunan musik pengiring, terdapat komitmen mendalam FBS UNNES sebagai institusi pendidikan untuk hadir di tengah masyarakat desa binaan. FBS memberikan bantuan nyata kepada Kelurahan Purwosari melalui pendekatan pendidikan dan pengembangan sumber daya yang relevan. Para mahasiswa tidak hanya mengajarkan gerak tari, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai konservasi seni dan budaya yang selama ini sempat terabaikan. Tugu Sidandang yang dulu menjadi tempat pementasan kesenian warga kini nyaris tak terurus dan dipenuhi semak belukar. Kehadiran Tim PPK Ormawa DPM FBS UNNES menjadi angin segar bagi kebangkitan kembali semangat berkarya dan melestarikan warisan leluhur di Purwosari.
Lebih dari sekadar pelatihan tari, program ini merupakan wujud nyata dukungan finansial dan sosial FBS UNNES bagi masyarakat Purwosari. Melalui pendanaan yang diperoleh dari Program PPK Ormawa—sebuah program penguatan kapasitas organisasi mahasiswa melalui serangkaian proses pembinaan yang diimplementasikan dalam program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat—Tim DPM FBS UNNES mampu menyelenggarakan pelatihan secara berkelanjutan, mempersiapkan perlengkapan, hingga menggelar festival budaya sebagai ajang peluncuran tarian baru tersebut. Dukungan finansial ini menjadi modal awal bagi Kelurahan Purwosari untuk memiliki produk budaya yang dapat menjadi daya tarik dan kebanggaan bersama.
Meningkatkan Akses terhadap Layanan Dasar melalui Pendidikan dan Pelatihan
FBS UNNES juga berperan aktif dalam meningkatkan akses terhadap layanan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat melalui program-program pelatihan dan pendidikan yang inklusif. Pelatihan Tari Dandang Gembyang yang melibatkan remaja putri Karang Taruna menjadi bukti bahwa FBS hadir untuk memberikan kesempatan belajar yang setara bagi generasi muda di desa binaan. Delapan remaja putri yang sebelumnya mungkin tidak memiliki akses terhadap pelatihan seni tari profesional kini mendapatkan bimbingan langsung dari mahasiswa FBS UNNES yang kompeten di bidangnya. Mereka tidak hanya belajar gerak tari, tetapi juga memahami filosofi dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal Tugu Sidandang. Pengalaman ini menjadi bekal berharga yang dapat meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri mereka sebagai generasi penerus budaya.
Tidak hanya remaja putri, seluruh masyarakat Kelurahan Purwosari turut merasakan dampak dari program ini. Festival Budaya yang digelar sebagai acara puncak launching Tari Dandang Gembyang dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari mahasiswa UNNES dan perwakilan warga setempat, mulai dari Jaran Eblek dari RW 2 Sodong, Solo Vokal dari RW 1 Gilisari, hingga Tari Bambangan Cakil dan Tari Gambyong dari UKM Tari Klasik UNNES. Acara ini dihadiri oleh Kepala Kelurahan Purwosari, Budi Saryanto, beserta staf dan seluruh jajaran RT/RW, yang menunjukkan dukungan penuh pemerintah kelurahan terhadap program pemberdayaan ini. Kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, karang taruna, dan masyarakat inilah yang menjadi kunci keberhasilan program.
Peran FBS dalam Pengambilan Kebijakan untuk Pelaksanaan Program
Keberhasilan program Pelatihan Tari Dandang Gembyang tidak terlepas dari partisipasi aktif FBS UNNES dalam pengambilan kebijakan di tingkat desa. Tim PPK Ormawa DPM FBS UNNES bersama perangkat desa dan karang taruna Kelurahan Purwosari secara bersama-sama merumuskan program kerja yang tujuannya untuk mengembangkan potensi dan promosi kearifan lokal. Proses perumusan ini melibatkan dialog intensif antara mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan tokoh masyarakat, sehingga program yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh Kelurahan Purwosari.
Keterlibatan FBS UNNES dalam pengambilan kebijakan ini sejalan dengan semangat program PPK Ormawa yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada penguatan kapasitas organisasi mahasiswa melalui pembinaan yang berkelanjutan. Melalui pendekatan partisipatif ini, FBS UNNES membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah desa dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada pengembangan potensi lokal dan kesejahteraan masyarakat.
Menuju Pemberdayaan yang Berkelanjutan
Jika ditelisik lebih dalam, program Pelatihan Tari Dandang Gembyang ini memiliki keterkaitan erat dengan misi besar pembangunan global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Setidaknya ada tiga pilar SDGs yang direspons secara nyata melalui kegiatan ini.
Pertama, dari sisi pendidikan, pelatihan tari ini menjadi wadah pembelajaran non-formal yang memperkaya wawasan remaja putri Karang Taruna tentang seni, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka tidak hanya belajar gerak tari, tetapi juga memahami filosofi di balik Tugu Sidandang dan bagaimana melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang. Hal ini sejalan dengan semangat SDGs ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang mendorong terciptanya proses pembelajaran yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan kehidupan nyata.
Kedua, upaya merevitalisasi Tugu Sidandang dan melahirkan Tari Dandang Gembyang sebagai ikon budaya baru merupakan langkah strategis dalam menciptakan kota dan pemukiman yang berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan dalam SDGs ke-11. Warisan budaya yang lestari akan memperkuat identitas dan ketahanan budaya masyarakat di tengah arus globalisasi. Ketika generasi muda terlibat aktif dalam merawat tradisi, maka kualitas hidup bersama pun meningkat. Festival Budaya yang digelar di Lapangan Gilisari menjadi ruang publik yang inklusif, di mana mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat dapat bersama-sama menghargai dan melestarikan kekayaan budaya.
Ketiga, kolaborasi antara Tim PPK Ormawa DPM FBS UNNES, perangkat desa, karang taruna, dan masyarakat dalam merumuskan dan melaksanakan program ini mencerminkan semangat SDGs ke-17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Program ini tidak akan terwujud tanpa dukungan pendanaan dari pemerintah melalui Program PPK Ormawa, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa. Ini adalah bukti nyata bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kemitraan yang erat antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat sipil.
Dengan terselenggaranya program Pelatihan Tari Dandang Gembyang dan Festival Budaya sebagai acara puncaknya, FBS UNNES tidak hanya sekadar menciptakan tarian baru. Lebih dari itu, FBS UNNES telah menanam benih kesadaran akan pentingnya melestarikan kearifan lokal, memberdayakan generasi muda, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan dengan masyarakat desa binaan. Tari Dandang Gembyang kini bukan sekadar gerak dan irama, melainkan simbol dari sinergi antara pendidikan, seni, dan pemberdayaan yang diharapkan terus menginspirasi lahirnya program-program serupa di masa mendatang. FBS UNNES pun kembali mengukuhkan diri sebagai fakultas yang tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang peduli dan berkontribusi nyata bagi keberlanjutan budaya dan kesejahteraan masyarakat.













