Gemuruh tepuk tangan memecah keheningan di Gedung Auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jumat pagi, 19 Desember 2025. Ratusan pasang mata tertuju pada narasumber yang tengah memaparkan data yang mengiris hati: setiap tahun, puluhan ribu perempuan Indonesia didiagnosis mengidap kanker payudara, dan sebagian besar baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Di ruangan yang dipenuhi mahasiswi, dosen, dan tenaga kependidikan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNNES, suasana haru sekaligus penuh tekad menyelimuti acara yang sengaja digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 2025.
Seminar bertajuk “Perempuan Sehat, Keluarga Kuat: Deteksi Dini Kanker Payudara sebagai Langkah Perlindungan Diri” ini bukanlah kegiatan seremonial biasa. Di balik deretan kursi yang tertata rapi dan layar presentasi yang menampilkan ilustrasi anatomi payudara, tersimpan misi besar: meningkatkan kesadaran, memberdayakan perempuan, dan menanamkan budaya sadar kesehatan sejak dini. Auditorium UNNES yang megah dengan kapasitas ratusan orang dipilih sebagai lokasi kegiatan agar pesan tentang pentingnya deteksi dini dapat menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai fakultas dan latar belakang.
“Kanker payudara adalah momok yang mengancam setiap perempuan. Namun, ancaman ini bisa kita lawan dengan langkah sederhana: SADARI dan SADANIS. Pemeriksaan payudara sendiri secara rutin dan pemeriksaan klinis ke tenaga kesehatan adalah benteng pertama kita,” ujar narasumber dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.
Hari Ibu: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Pengingat akan Kesehatan Perempuan
Pemilihan tanggal 19 Desember sebagai hari pelaksanaan seminar bukanlah kebetulan. Pekan ketiga bulan Desember selalu menjadi momen istimewa bagi bangsa Indonesia untuk memperingati Hari Ibu, sebagai pengakuan atas jasa dan perjuangan perempuan dalam berbagai sendi kehidupan. Namun, panitia penyelenggara dari FBS UNNES ingin memberikan makna yang lebih mendalam. Mereka ingin Hari Ibu tidak hanya dirayakan dengan bunga dan kata-kata manis, tetapi juga dengan aksi nyata untuk melindungi kesehatan perempuan.
“Seorang ibu adalah nafas kehidupan bagi keluarganya. Ketika ibu sehat, anak-anaknya tumbuh dengan kasih sayang, suaminya mendapatkan dukungan, dan rumah tangga pun harmonis. Namun, sering kali kesehatan ibu dan perempuan pada umumnya menjadi hal yang terakhir diperhatikan. Kami ingin mengubah paradigma itu. Karena melindungi kesehatan perempuan berarti melindungi masa depan bangsa,” ungkap ketua panitia kegiatan di sela-sela acara.
SADARI dan SADANIS: Dua Jurus Andalan Melawan Kanker
Sepanjang seminar berlangsung, peserta diajak untuk tidak sekadar mendengar, tetapi juga mempraktikkan. Dalam sesi interaktif, narasumber mendemonstrasikan langkah-langkah SADARI, Pemeriksaan Payudara Sendiri, yang sebaiknya dilakukan setiap bulan, 7 hingga 10 hari setelah menstruasi selesai. Peserta perempuan diajak untuk merasakan sendiri bagaimana cara memeriksa payudara mereka dengan benar, sementara peserta laki-laki yang hadir juga diberikan pemahaman tentang cara mendukung istri, ibu, atau saudara perempuan mereka agar rutin melakukan deteksi dini.
“Deteksi dini adalah kunci. Jika kanker ditemukan pada stadium awal, peluang kesembuhan mencapai lebih dari 90 persen. Sayangnya, masih banyak perempuan yang takut atau malu untuk memeriksa diri sendiri. Padahal, langkah kecil ini bisa menyelamatkan nyawa. Kami ingin menghilangkan rasa takut itu hari ini,” tegas narasumber dengan penuh semangat.
SDGs 5: Kesetaraan Gender dalam Bentuk Nyata
Jika ditelisik lebih dalam, seminar deteksi dini kanker payudara ini memiliki keterkaitan erat dengan misi besar pembangunan global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini secara khusus menjadi kontribusi nyata FBS UNNES terhadap pencapaian SDGs poin 5, yaitu Kesetaraan Gender (Gender Equality).
Kesetaraan gender tidak hanya tentang akses yang sama terhadap pendidikan atau pekerjaan. Lebih dari itu, kesetaraan gender mencakup hak perempuan atas kesehatan dan otonomi atas tubuhnya sendiri. Kanker payudara adalah penyakit yang secara tidak proporsional menimpa perempuan. Ketika akses terhadap informasi deteksi dini dan layanan kesehatan masih timpang, maka ketidaksetaraan gender pun semakin melebar. Dengan menyediakan edukasi kesehatan reproduksi yang setara bagi seluruh sivitas akademika, FBS UNNES turut meruntuhkan hambatan tersebut.
Memberikan pengetahuan tentang deteksi dini kanker payudara berarti memberikan senjata bagi perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri—sebuah bentuk pemberdayaan yang nyata dan berdampak langsung. Perempuan yang sehat adalah perempuan yang berdaya. Perempuan yang berdaya adalah fondasi dari masyarakat yang setara.
Selain SDGs 5, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDGs poin 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being). Kesehatan yang baik adalah hak dasar setiap manusia, tanpa memandang gender. Dengan meningkatkan kesadaran akan deteksi dini kanker payudara, FBS UNNES turut berperan dalam memastikan bahwa seluruh sivitas akademikanya dapat hidup sehat dan sejahtera secara holistik.
Auditorium sebagai Simbol Akses dan Keterbukaan
Pemilihan Gedung Auditorium UNNES sebagai lokasi seminar bukan tanpa makna. Sebagai salah satu fasilitas kampus yang paling representatif dan sering digunakan untuk acara-acara berskala besar, auditorium menjadi simbol bahwa isu kesehatan perempuan adalah isu yang layak mendapat tempat di panggung utama. Tidak ada lagi ruang pinggiran untuk membicarakan kanker payudara. Tidak ada lagi sekat yang membatasi akses perempuan terhadap informasi yang menyelamatkan nyawa.
“Kami sengaja memilih auditorium karena kami ingin pesan ini menjangkau sebanyak mungkin orang. Kanker payudara tidak mengenal status, tidak mengenal jabatan, tidak mengenal usia. Semua perempuan berisiko. Dan semua perempuan berhak mendapatkan pengetahuan untuk melindungi diri mereka sendiri,” jelas ketua panitia.
Dukungan Kelembagaan yang Berkelanjutan
Melalui seminar ini, FBS UNNES secara kelembagaan membuktikan bahwa kampus tidak hanya peduli pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan fisik dan mental seluruh warganya. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program berkelanjutan FBS dalam mendukung kesehatan reproduksi perempuan di lingkungan kampus. Ke depan, FBS berencana untuk menyelenggarakan kegiatan serupa secara rutin, bahkan memperluas cakupannya dengan membuka layanan konsultasi kesehatan reproduksi bagi seluruh sivitas akademika.
“Kami ingin menegaskan bahwa FBS adalah ruang yang aman dan inklusif bagi semua, terutama bagi perempuan. Tidak ada lagi rasa takut atau malu untuk membicarakan kesehatan reproduksi. Ini adalah komitmen kami,” tegas salah satu perwakilan dekanat FBS yang turut hadir dalam acara tersebut.
Harapan di Balik Ruang yang Penuh
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan penuh keterbukaan. Banyak peserta yang dengan berani bertanya tentang mitos seputar kanker payudara, faktor risiko, hingga langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan setelah menemukan benjolan. Narasumber merespons dengan empati dan memberikan jawaban berbasis ilmu kedokteran yang mudah dipahami.
Hingga acara usai, suasana haru dan optimisme terasa menyelimuti ruang auditorium yang megah. Para peserta tidak hanya membawa pulang pengetahuan baru, tetapi juga kesadaran bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Dengan adanya seminar ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini kanker payudara dapat terus tumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya hidup sehat di lingkungan UNNES.
Tidak ada lagi rasa takut untuk memeriksa diri sendiri. Tidak ada lagi rasa malu untuk bertanya. Perempuan yang sehat adalah fondasi keluarga yang kuat, masyarakat yang tangguh, dan bangsa yang berdaya saing. Dan di auditorium megah UNNES pada hari itu, FBS telah menabur benih kesadaran yang kelak akan menuai generasi perempuan Indonesia yang lebih sehat, lebih berdaya, dan lebih setara.




