Dharma Wanita FBS UNNES Gelar Pelatihan Melipat Jarik ala Jogja dan Solo: Merawat Budaya, Memberdayakan Perempuan

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Languages and Arts > Kabar Kampus > Dharma Wanita FBS UNNES Gelar Pelatihan Melipat Jarik ala Jogja dan Solo: Merawat Budaya, Memberdayakan Perempuan

Suasana berbeda terasa di ruang pertemuan setengah bundar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Senin pagi, 22 Desember 2025. Di dalam ruangan yang dipenuhi puluhan ibu-ibu anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) FBS UNNES, tampak kain-kain jarik bermotif batik berwarna-warni terbentang di atas meja. Jari-jari lentur para peserta dengan tekun melipat, menggulung, dan membentuk kain panjang itu menjadi busana Jawa yang anggun, ada yang bergaya Solo, ada pula yang bergaya Jogja. Kegiatan pelatihan bertajuk “Wiru Jarik Jogja dan Solo: Merawat Tradisi, Menguatkan Perempuan” ini sengaja digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ibu tahun 2025.

Pelatihan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan narasumber yang kompeten dalam tata busana Jawa, yang memaparkan secara mendalam perbedaan filosofis dan teknis antara gaya wiru Jarik Solo dan Jogja. Para peserta tidak hanya diajarkan cara melipat dan mengenakan jarik dengan benar, tetapi juga diberikan pemahaman tentang makna budaya di balik setiap lipatan dan motif yang dikenakan.

“Wiru Jarik Solo cenderung menyembunyikan bagian tumpal atau ujung kain sehingga dilipat ke dalam, sementara wiru gaya Jogja justru membiarkan tumpal terlihat atau dilipat ke luar. Ini bukan sekadar perbedaan teknis, tetapi mencerminkan filosofi dan nilai-nilai yang hidup di kedua keraton tersebut,” jelas narasumber di hadapan peserta yang tampak antusias menyimak.

Hari Ibu sebagai Momentum Penguatan Peran Perempuan

Pemilihan momen Hari Ibu sebagai hari pelaksanaan kegiatan bukanlah tanpa makna. Bagi Dharma Wanita FBS UNNES, peringatan Hari Ibu adalah saat yang tepat untuk merefleksikan peran perempuan dalam menjaga dan mewariskan budaya kepada generasi penerus. Kegiatan melipat jarik, yang selama ini mungkin dianggap sebagai keterampilan sederhana, sesungguhnya adalah bentuk pelestarian budaya yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Seorang ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ketika seorang ibu mengenakan jarik dengan benar, ia tidak hanya tampil anggun, tetapi juga mengajarkan anak-anaknya tentang identitas budaya dan harga diri sebagai bangsa Indonesia. Kami ingin para ibu di lingkungan FBS UNNES tidak hanya terampil, tetapi juga bangga dengan warisan leluhur,” ujar ketua Dharma Wanita FBS UNNES dalam sambutannya.

Merawat Warisan, Memperkuat Identitas

Pelatihan ini juga menjadi ruang bagi para anggota Dharma Wanita untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang busana tradisional. Banyak di antara peserta yang mengaku baru pertama kali mengetahui perbedaan detail antara jarik gaya Solo dan Jogja, mulai dari arah lipatan, posisi wiru, hingga motif-motif tertentu yang memiliki makna filosofis tersendiri.

“Saya kira semua jarik itu sama saja cara memakainya. Ternyata ada aturan dan filosofi yang berbeda antara Solo dan Jogja. Ini sangat menarik dan membuat saya semakin cinta pada budaya sendiri,” ujar salah satu peserta dengan mata berbinar.

Jika ditelisik lebih dalam, pelatihan melipat jarik ini memiliki keterkaitan erat dengan misi besar pembangunan global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini secara khusus menjadi kontribusi nyata Dharma Wanita FBS UNNES terhadap pencapaian SDGs poin 5, yaitu Kesetaraan Gender (Gender Equality) .

Kesetaraan gender tidak hanya tentang akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, atau posisi kepemimpinan. Lebih dari itu, kesetaraan gender juga mencakup pengakuan dan penghargaan terhadap peran perempuan dalam melestarikan budaya dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Selama ini, keterampilan seperti melipat jarik sering dianggap sebagai pekerjaan domestik yang kurang bernilai. Padahal, di balik setiap lipatan jarik, terkandung pengetahuan turun-temurun tentang estetika, etika, dan identitas budaya yang tak ternilai harganya.

Dengan menyelenggarakan pelatihan ini, Dharma Wanita FBS UNNES secara tidak langsung menegaskan bahwa keterampilan tradisional perempuan adalah bagian penting dari warisan budaya yang layak dihargai dan dilestarikan. Perempuan tidak hanya menjadi objek pelestarian budaya, tetapi juga subjek aktif yang menjaga, mengembangkan, dan mewariskan tradisi. Inilah esensi dari pemberdayaan perempuan yang sesungguhnya, ketika perempuan diberikan ruang untuk belajar, berkarya, dan diakui kontribusinya.

Selain SDGs 5, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDGs poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education) . Pelatihan ini adalah bentuk pendidikan non-formal yang memperkaya wawasan peserta tentang budaya dan kearifan lokal. Mereka tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis di balik tradisi yang selama ini mungkin terabaikan.

Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Di tengah gempuran budaya global dan modernisasi yang kian deras, pelestarian budaya tradisional seperti busana Jawa menjadi tantangan tersendiri. Banyak generasi muda yang mungkin tidak lagi mengenal cara melipat jarik dengan benar, apalagi memahami makna di balik setiap motif dan lipatannya. Melalui pelatihan ini, Dharma Wanita FBS UNNES berharap dapat menjadi salah satu benteng yang menjaga agar tradisi melipat jarik tidak punah ditelan zaman.

“Kami ingin para ibu di lingkungan FBS UNNES menjadi agen pelestarian budaya. Dengan kemampuan melipat jarik yang benar, mereka bisa mengajarkan anak-anak dan cucu-cucu mereka. Ini adalah investasi budaya jangka panjang yang tidak kalah pentingnya dengan investasi materi,” tegas ketua panitia.

Harapan di Balik Setiap Lipatan

Hingga acara usai, suasana hangat dan penuh kebanggaan terasa menyelimuti ruangan. Setiap peserta membawa pulang tidak hanya keterampilan baru, tetapi juga kesadaran bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab bersama. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya melestarikan busana tradisional dapat terus tumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan perempuan.

Tidak ada lagi anggapan bahwa melipat jarik adalah keterampilan kuno yang tidak relevan. Sebaliknya, ia adalah simbol identitas, kebanggaan, dan keanggunan perempuan Indonesia. Dan di ruang pertemuan FBS UNNES pada hari itu, Dharma Wanita telah menabung benih kecintaan pada budaya yang kelak akan tumbuh dan mekar di hati generasi mendatang.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy