Suasana di halaman Gedung B11, Jumat pagi, 14 November 2025, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) terasa berbeda dari biasanya. Para mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tampak bergerak serempak mengikuti gerakan senam bersama yang diiringi musik ceria. Namun, di balik kegiatan rutin yang menyehatkan ini, tersembunyi sebuah misi sosial yang jauh lebih dalam: mengatasi persoalan kerawanan pangan yang selama ini kerap menjadi bayang-bayang di kalangan mahasiswa.
Program yang diberi nama “FBS Peduli Pangan” ini merupakan inisiatif kelembagaan yang diluncurkan secara resmi pada awal November 2025 sebagai respons atas keprihatinan terhadap masih adanya mahasiswa yang mengalami kesulitan akses terhadap makanan bergizi. Setiap hari Jumat pagi, setelah sesi senam bersama selesai, panitia menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi seluruh peserta. Menu yang disajikan pun beragam dan kaya nutrisi, mulai dari bubur kacang hijau, puding jagung, hingga olahan pangan lokal lainnya yang mudah didapatkan di sekitar Semarang.
“Kami tidak ingin ada satu pun mahasiswa FBS yang harus kuliah dalam keadaan lapar. Program ini adalah wujud nyata bahwa kampus peduli dan hadir untuk mereka,” ujar Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, Prof. Dr. Tommi Yuniawan, M.Hum., dalam sambutannya pada peluncuran program.
Intervensi Kelembagaan Melawan Kelaparan
FBS UNNES secara kelembagaan melakukan intervensi sistematis untuk mencegah dan mengatasi kelaparan di kalangan mahasiswanya. Langkah pertama yang diambil adalah membuka akses ke bank pangan kampus yang dikelola secara transparan oleh unit layanan terpadu fakultas. Bank pangan ini menerima donasi bahan pangan dari berbagai pihak, termasuk dosen, tenaga kependidikan, dan mitra usaha, yang kemudian didistribusikan kepada mahasiswa yang membutuhkan melalui mekanisme yang terverifikasi.
“Kami membangun sistem yang memastikan bantuan tepat sasaran. Mahasiswa yang membutuhkan dapat mengakses bank pangan ini tanpa rasa malu atau stigma. Ini tentang martabat dan kesetaraan,” jelas Koordinator Program FBS Peduli Pangan.
Tidak hanya menyediakan akses darurat, FBS juga memastikan ketersediaan pilihan makanan berkelanjutan bagi semua orang di lingkungan kampus. Kantin dan warung makan di area FBS kini diwajibkan menyediakan menu makanan sehat dan terjangkau, termasuk pilihan vegetarian, dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa. Kebijakan ini diambil setelah survei internal menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa sering kali melewatkan waktu makan karena keterbatasan biaya.
“Kami ingin menciptakan ekosistem pangan yang adil di kampus. Makanan sehat bukanlah hak istimewa, tetapi hak dasar setiap mahasiswa,” tambahnya.
Menjangkau Staf dan Dosen
Program ini tidak hanya menyasar mahasiswa. FBS UNNES juga menyadari bahwa tenaga kependidikan dan dosen dengan penghasilan terbatas tidak luput dari ancaman kerawanan pangan. Oleh karena itu, program serupa juga diperluas untuk mencakup staf kampus. Setiap Jumat pagi, setelah senam bersama, seluruh peserta dari kalangan staf dan dosen juga berhak atas porsi makanan bergizi yang sama.
“Sering kali kita lupa bahwa di balik layar, ada staf administrasi, petugas kebersihan, dan tenaga pendukung lain yang juga membutuhkan perhatian. Mereka adalah bagian dari keluarga besar FBS,” ujar salah satu perwakilan tenaga kependidikan yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Transfer Ilmu Pengetahuan kepada Petani Lokal
Lebih dari sekadar menyediakan makanan, FBS UNNES juga menyelenggarakan kegiatan yang memungkinkan petani dan produsen pangan lokal saling terhubung dengan dunia akademik. Melalui program ini, FBS menjadi jembatan yang menghubungkan petani binaan dengan akses ke fasilitas universitas, termasuk laboratorium dan teknologi pertanian berkelanjutan.
Salah satu bentuk nyata dari program ini adalah pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada petani di sekitar Semarang tentang teknik pertanian modern, pengolahan pasca-panen, hingga strategi pemasaran hasil pertanian. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa FBS yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi, pemasaran, dan pengelolaan sumber daya.
“Kami tidak hanya memberi ikan, tetapi juga mengajarkan cara memancing. Petani lokal kami latih agar mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen mereka. Pada gilirannya, ini akan memperkuat rantai pasok pangan lokal yang pada akhirnya juga menguntungkan mahasiswa dan staf kampus,” jelas salah satu dosen pengampu program.
FBS juga membuka akses laboratorium dan teknologi kampus bagi petani untuk melakukan uji kualitas tanah, riset varietas tanaman, dan inovasi pengolahan pangan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Menuju Kampus Berkelanjutan
Jika ditelisik lebih dalam, program FBS Peduli Pangan ini memiliki keterkaitan erat dengan misi besar pembangunan global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Setidaknya ada tiga pilar SDGs yang direspons secara nyata melalui kegiatan ini.
Pertama, upaya mengatasi kelaparan di kalangan mahasiswa dan staf merupakan kontribusi langsung terhadap SDGs ke-2, yaitu Tanpa Kelaparan. Dengan menyediakan akses makanan bergizi melalui bank pangan dan program sarapan bersama setiap Jumat, FBS turut berperan dalam memastikan tidak ada anggota sivitas akademika yang mengalami kelaparan.
Kedua, penyediaan pilihan makanan sehat dan terjangkau, termasuk menu vegetarian, sejalan dengan SDGs ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Kampus yang peduli terhadap gizi mahasiswanya akan melahirkan generasi yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
Ketiga, program kemitraan dengan petani lokal dan transfer teknologi pertanian berkelanjutan merupakan perwujudan dari SDGs ke-17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara dunia akademik, petani, dan masyarakat sekitar menunjukkan bahwa ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama yang erat dan saling menguntungkan.
Hingga siang hari, kegiatan senam bersama dan pembagian makanan bergizi berlangsung dengan lancar dan penuh keakraban. Wajah-wajah ceria terlihat di antara para peserta yang menikmati bubur kacang hijau hangat di sela-sela kesibukan akademik. Dengan program ini, FBS UNNES tidak hanya menanam benih kepedulian terhadap sesama, tetapi juga membangun fondasi bagi terciptanya kampus yang sehat, adil, dan berkelanjutan.













