Jumat pagi, 26 September 2025, menjadi saksi dari sebuah aksi kolektif yang mengubah suasana di sejumlah lahan kosong dan bantaran permukiman Kelurahan Mangunsari, Semarang. Hiruk-pikuk kendaraan yang biasa memenuhi pagi hari seolah tergantikan oleh keriuhan suara cangkul, sekop, dan tawa muda-mudi. Sebanyak 401 mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) tumpah ruah di area tersebut, bahu-membahu menanam 135 bibit pohon buah dalam sebuah gerakan yang tak hanya bertujuan menghijaukan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi serius pengelolaan karbon dan pengurangan emisi karbon dioksida di kawasan kampus dan sekitarnya.
Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari 15 program studi di lingkungan FBS ini bukanlah proyek dadakan. Sebelum menentukan titik tanam, panitia pelaksana telah melakukan observasi lapangan secara cermat dan serangkaian wawancara mendalam dengan para ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat. Pendekatan partisipatoris ini dilakukan untuk memastikan bahwa lahan yang digunakan benar-benar produktif, tidak mengganggu tata ruang pemukiman, dan tepat sasaran dalam menciptakan ruang terbuka hijau yang sangat dibutuhkan di tengah kawasan urban yang kian padat.
Pagi itu, acara dibuka secara resmi oleh perwakilan dari Gugus Konservasi UNNES, Teguh Prihanto, S.T., M.T. Dalam sambutannya yang menggebrak semangat para peserta, ia menekankan bahwa aksi menanam pohon adalah wujud keberpihakan akademisi terhadap isu-isu krusial lingkungan hidup.
“Ini bukan sekadar seremonial tahunan atau kegiatan pengabdian yang berakhir saat foto bersama. Ini adalah investasi ekologis jangka panjang. Setiap bibit yang kita tanam hari ini adalah paru-paru baru bagi kota Semarang. Ia akan menyerap karbon, menghasilkan oksigen, dan menjadi saksi bisu bahwa generasi muda peduli pada masa depan bumi,” ujar Teguh Prihanto dengan nada penuh optimisme di hadapan ribuan mata yang memandangnya.
Koordinator lapangan yang memimpin langsung jalannya penanaman, Dr. U’um Qomariyah, S.Pd., M.Hum., turut menyampaikan bahwa semangat kolektif ini dibangun di atas kesadaran lintas disiplin. “Kami dari FBS memang bergerak di bidang bahasa dan seni, tetapi kepedulian pada lingkungan adalah bahasa universal. Mahasiswa dari 15 prodi yang berbeda bisa bersatu padu di sini, menggali tanah dan merawat bibit. Ini adalah kelas lapangan yang tidak akan mereka dapatkan di ruang kuliah,” tuturnya di sela-sela mendampingi mahasiswanya yang tengah berinteraksi dengan warga sekitar.
Yang membuat program ini istimewa adalah pemilihan jenis pohonnya. Tidak sekadar pohon keras atau pelindung, 135 bibit yang ditanam kali ini seluruhnya merupakan jenis tanaman buah produktif, yakni mangga, kelengkeng, sawo, durian, dan alpukat. Konsep satu pohon dirawat oleh tiga mahasiswa pun diterapkan untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup tanaman yang tinggi. Pilihan ini memiliki misi ganda. Pertama, secara ekologis, tajuk pohon buah yang rimbun menjadi penyerap karbon alami yang efektif untuk memitigasi emisi gas rumah kaca. Kedua, secara sosial-ekonomi, beberapa tahun mendatang warga Kelurahan Mangunsari akan memanen buah-buahan tersebut, memberikan ketahanan pangan sekaligus nilai ekonomi tambahan bagi komunitas setempat.
Lebih dari sekadar aksi tanam-menanam, gerakan hijau mahasiswa FBS UNNES ini ternyata memiliki keterkaitan erat dengan misi besar pembangunan global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jika ditelisik lebih dalam, setidaknya ada lima pilar SDGs yang direspons secara nyata melalui kegiatan ini.
Dari sisi pendidikan, keterlibatan 401 mahasiswa yang turun langsung ke masyarakat menjadikan program ini sebagai laboratorium sosial yang hidup. Mereka belajar tentang kepedulian, tanggung jawab, dan kerja sama tim di luar tembok kampus, sebuah perwujudan nyata dari upaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan tantangan zaman, yang sejalan dengan semangat SDGs ke-4. Di sisi lain, proses penentuan lokasi melalui musyawarah dengan RT dan RW merupakan contoh ideal bagaimana sebuah perguruan tinggi turut serta menciptakan kota dan pemukiman yang berkelanjutan sesuai dengan SDGs ke-11, di mana ruang publik direklamasi menjadi area hijau yang inklusif dan aman bagi warga.
Namun, denyut nadi utama dari kegiatan ini tentu saja adalah responsnya terhadap krisis iklim. Di tengah ancaman pemanasan global yang kian nyata, menanam 135 pohon bukanlah angka kecil. Setiap helai daun pada pohon mangga, durian, dan alpukat yang tertanam akan bekerja tanpa lelah menyerap karbon dioksida, menjadikan kegiatan ini sebagai kontribusi konkret dalam penanganan perubahan iklim (SDGs ke-13) sekaligus pelestarian ekosistem daratan (SDGs ke-15). Keanekaragaman hayati mikro di tanah Kelurahan Mangunsari pun akan pulih seiring dengan tumbuhnya akar-akar pohon yang memperkuat struktur tanah dan mencegah degradasi lahan.
Dr. U’um Qomariyah menegaskan bahwa semua ini tidak akan terwujud tanpa kolaborasi yang solid. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari Gugus Konservasi UNNES, antusiasme mahasiswa, dan sambutan hangat dari warga serta perangkat kelurahan adalah kunci sukses hari ini. Ini adalah bukti bahwa untuk mencapai tujuan besar, kita membutuhkan kemitraan yang erat antara dunia pendidikan, lembaga, dan masyarakat sipil,” pungkasnya. Semangat kemitraan inilah yang menjadi fondasi terakhir, mengingatkan bahwa agenda pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai jika semua elemen bergerak bersama, yang merupakan inti dari SDGs ke-17.
Hingga siang hari, kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh keakraban. Lahan-lahan kosong yang sebelumnya tampak gersang kini berdiri rapi deretan bibit buah yang menjanjikan masa depan yang lebih hijau. Dengan program ini, FBS UNNES tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama. UNNES pun kembali mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi konservasi yang tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan alam dan kemanusiaan.













