Semarang — Universitas Negeri Semarang melalui Fakultas Bahasa dan Seni terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran dan pengukuran capaian yang berorientasi pada standar internasional. Salah satu bentuknya dilakukan melalui keikutsertaan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis dan Sastra Prancis dalam Diplôme d’Études en Langue Française (DELF) yang diselenggarakan oleh Alliance Française de Semarang.
DELF merupakan sertifikasi kemampuan bahasa Prancis yang mengukur kompetensi peserta berdasarkan enam tingkat kemahiran, yaitu A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sistem sertifikasi bertingkat ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengetahui dan membuktikan capaian kemampuan bahasa Prancis mereka secara objektif sesuai dengan tingkat kompetensi masing-masing. Keikutsertaan dalam tes DELF tidak dibatasi oleh semester tertentu, sehingga mahasiswa dapat mengikuti ujian berdasarkan kesiapan dan tingkat kemampuan bahasa yang dimilikinya.
Kegiatan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education. Penguasaan bahasa asing dan sertifikasi kompetensi merupakan bagian dari upaya menyediakan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan global. Melalui sertifikasi DELF, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengukur capaian kompetensinya berdasarkan standar internasional yang diakui.
Selain mendukung SDG 4, penguatan kompetensi bahasa asing juga berkontribusi terhadap SDG 8: Decent Work and Economic Growth. Kemampuan berbahasa asing yang terukur dapat meningkatkan daya saing lulusan dan memperluas peluang mereka untuk mengakses pendidikan lanjutan, pekerjaan, program pertukaran, maupun peluang profesional dengan dimensi internasional.
Dari perspektif SDG 17: Partnerships for the Goals, penguasaan bahasa asing juga berperan penting dalam membangun komunikasi dan kolaborasi lintas negara dan lintas budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam jejaring akademik dan profesional yang lebih luas serta mendukung kolaborasi global.
Pelaksanaan tes DELF juga mencerminkan pendekatan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui perkuliahan, tetapi juga didorong untuk secara aktif mengidentifikasi tingkat kompetensinya, mengikuti asesmen eksternal, serta meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, keikutsertaan mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis dan Sastra Prancis dalam tes DELF tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh sertifikasi kemampuan bahasa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pengembangan human capital yang kompeten, adaptif, dan berwawasan global. Inisiatif tersebut mendukung implementasi SDGs di lingkungan perguruan tinggi melalui penguatan kualitas pendidikan serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan global.
Dalam konteks pengukuran literasi keberlanjutan mahasiswa, kegiatan DELF dapat dipandang sebagai salah satu bentuk pengukuran kompetensi mahasiswa yang terstruktur dan berbasis standar internasional. Namun, karena DELF secara khusus mengukur kompetensi bahasa Prancis, pengukuran sustainability literacy tetap perlu dilakukan melalui instrumen atau kegiatan yang secara eksplisit mengukur pengetahuan, sikap, dan kompetensi mahasiswa terkait pembangunan berkelanjutan.













