Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan The 2nd International Conference on Dance and Education (ICODE) 2026 pada Rabu (7/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema “Embodied Futures: Transforming Dance Education in a Changing World”, konferensi internasional ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan pendidikan tari dalam merespons perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika kebudayaan global.
Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, ICODE mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan praktisi seni dari berbagai negara untuk mendiskusikan inovasi pembelajaran tari, keberlanjutan warisan budaya, serta penguatan peran pendidikan seni dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Konferensi menghadirkan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum., sebagai keynote speaker. Sejumlah pembicara internasional turut memberikan perspektif dari berbagai latar belakang pendidikan dan kebudayaan, yakni Dr. Sang Woo Ha dari Universiti Malaya, Malaysia; Dr. Anastasia Melati Lystiorini, Ph.D. dari Taipei National University of the Arts, Taiwan; serta Vladimir Kiri dari Thalun International School, Yangon, Myanmar. Hadir pula Prof. Dr. Hartono, M.Pd. dari Universitas Negeri Semarang.
Dalam paparannya, Dr. Eko Raharjo menekankan pentingnya pengembangan pendidikan seni yang adaptif terhadap perubahan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai kebudayaan.
“Pendidikan seni tari memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang kreatif, kritis, dan memiliki kepekaan budaya. Perubahan dunia menuntut perguruan tinggi untuk terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan relevan. Melalui ICODE, kami mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru yang dapat memperkuat kualitas pendidikan seni sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik di tingkat internasional,” ungkapnya.
Tema Embodied Futures menjadi landasan diskusi mengenai pentingnya tubuh dan pengalaman gerak sebagai sumber pengetahuan dalam pendidikan tari. Pendekatan ini membuka peluang pengembangan pembelajaran yang lebih partisipatif, kreatif, dan responsif terhadap keberagaman peserta didik.
Diskusi konferensi mencakup empat fokus kajian, yaitu Embodied Pedagogy and Innovative Dance Education; Cultural Sustainability, Living Heritage, and Local Knowledge; Inclusive Dance Education, Diversity, and Social Justice; serta Social Transformation in Dance Education. Keempatnya memperlihatkan bahwa pendidikan tari memiliki keterkaitan erat dengan persoalan pendidikan, identitas budaya, keberagaman, dan transformasi sosial.
Dukung Pencapaian SDGs melalui Pendidikan Seni
Penyelenggaraan ICODE 2026 juga menjadi bagian dari upaya UNNES mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Kontribusi terhadap SDG 4 diwujudkan melalui pertukaran pengetahuan dan pengembangan inovasi pedagogi tari yang mendorong terciptanya pendidikan berkualitas, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, perhatian terhadap keberagaman dan akses pendidikan seni yang setara sejalan dengan SDG 10.
Pembahasan mengenai pelestarian warisan budaya, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan tradisi tari juga mendukung semangat SDG 11, khususnya dalam menjaga warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Di sisi lain, keterlibatan akademisi dari Indonesia, Malaysia, Taiwan, dan Myanmar memperkuat implementasi SDG 17 melalui perluasan jejaring akademik, pertukaran keilmuan, serta peluang kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian seni.
Koordinator Program Studi Pendidikan Seni Tari FBS UNNES, Dr. Eny Kusumastuti, M.Pd., menyampaikan bahwa penyelenggaraan ICODE merupakan agenda akademik berkelanjutan yang diarahkan untuk memperkuat kontribusi pendidikan seni tari dalam menghadapi tantangan global.
“Melalui ICODE, kami ingin membangun ruang dialog yang mempertemukan pengetahuan lokal dengan perspektif global. Pendidikan tari memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitas, memperkuat identitas budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap keberagaman dan keberlanjutan. Kami berharap konferensi ini dapat menghasilkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti melalui pengembangan pembelajaran, penelitian bersama, dan kolaborasi internasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, Eny menegaskan bahwa keterlibatan akademisi dari berbagai negara menjadi kesempatan penting untuk memperluas wawasan mahasiswa dan dosen mengenai perkembangan pendidikan tari di tingkat global.
Melalui penyelenggaraan The 2nd ICODE 2026, Program Studi Pendidikan Seni Tari FBS UNNES berupaya memperkuat posisinya sebagai ruang pengembangan keilmuan seni tari yang terbuka terhadap inovasi, kolaborasi, dan keberagaman budaya. Konferensi ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan pendidikan tari yang semakin berkualitas, inklusif, dan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.












