Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan bahasa dan seni sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan martabat bangsa di tengah perkembangan global. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertema “Mewujudkan Bahasa dan Seni yang Bermartabat dan Berdaulat” yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bahasa dan Seni FBS UNNES 2026 tersebut menghadirkan Mendikdasmen RI untuk memberikan penguatan wawasan mengenai kedudukan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta pentingnya penguasaan bahasa asing dalam menghadapi tantangan global.
Dalam kuliah umumnya, Prof. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya konsep Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang memiliki identitas kebangsaan kuat sekaligus mampu berkomunikasi dan berinteraksi dalam lingkungan internasional.
Melalui kegiatan ini, FBS UNNES mengajak sivitas akademika untuk terus menjaga martabat bahasa Indonesia, merawat keberagaman bahasa daerah, serta mengembangkan kemampuan berbahasa asing sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
Trigatra Bangun Bahasa sebagai Landasan Kedaulatan Bahasa
Dalam pemaparannya, Prof. Abdul Mu’ti menempatkan Trigatra Bangun Bahasa sebagai prinsip penting dalam membangun keseimbangan antara identitas nasional, pelestarian budaya lokal, dan keterbukaan terhadap perkembangan dunia.
Mengutamakan bahasa Indonesia berarti menempatkan bahasa nasional sebagai sarana utama komunikasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahasa Indonesia tidak hanya memiliki fungsi komunikatif, tetapi juga menjadi simbol persatuan, identitas, dan kedaulatan bangsa.
Sementara itu, pelestarian bahasa daerah merupakan bagian dari upaya menjaga keberagaman budaya Indonesia. Bahasa daerah menyimpan pengetahuan lokal, nilai-nilai sosial, tradisi, serta cara pandang masyarakat yang diwariskan antargenerasi.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing menjadi kompetensi penting untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kerja sama internasional.
Ketiga prinsip tersebut tidak perlu dipertentangkan, melainkan dapat dikembangkan secara seimbang. Penguatan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan berbahasa asing.
Dalam konteks pendidikan, pemahaman terhadap Trigatra Bangun Bahasa menjadi penting untuk membangun generasi yang memiliki kesadaran kebangsaan, menghargai keberagaman budaya, dan mampu berpartisipasi dalam masyarakat global.
Tema kuliah umum yang juga menempatkan seni sebagai bagian dari kedaulatan budaya memperluas pemaknaan tersebut. Bahasa dan seni merupakan dua unsur yang saling berkaitan dalam membentuk identitas, menyampaikan nilai, dan merepresentasikan kekayaan budaya bangsa.
FBS UNNES Dorong Penguatan Bahasa dan Seni dalam Pendidikan
Pelaksana Harian (Plh.) Dekan FBS UNNES, Prof. Heri Yanto, M.B.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI menjadi momentum penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga martabat bahasa dan mengembangkan seni budaya Indonesia.
“Kehadiran Bapak Menteri memberikan penguatan bagi kami bahwa bahasa dan seni memiliki peran strategis dalam membangun karakter, identitas, dan daya saing bangsa. Perguruan tinggi, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi global tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan kekayaan budaya Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Prof. Heri Yanto, konsep Trigatra Bangun Bahasa memiliki relevansi yang kuat dengan pengembangan pendidikan di FBS UNNES, terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing, sastra, dan seni.
Ia menilai bahwa penguatan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional perlu disertai upaya pelestarian bahasa daerah dan pengembangan kompetensi bahasa asing secara berkelanjutan.
“FBS UNNES terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga warisan budaya bangsa. Kemampuan berbahasa asing harus menjadi jembatan untuk memperkenalkan bahasa, sastra, dan seni Indonesia kepada dunia, bukan justru menjauhkan generasi muda dari identitas budayanya,” tambahnya.
Kuliah umum tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen FBS UNNES dalam mengembangkan pendidikan yang mengintegrasikan penguatan kompetensi, karakter, serta apresiasi terhadap keberagaman bahasa dan seni.
Perkuat Literasi Budaya dan Relevansi Pendidikan
Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Sumber Daya FBS UNNES, Dr. Muhamad Burhanudin, S.S., M.A., menyoroti pentingnya menerjemahkan gagasan kedaulatan bahasa dan seni ke dalam praktik pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran bahwa bahasa dan seni bukan sekadar bidang kajian akademik, tetapi juga merupakan bagian dari kekuatan budaya dan sumber daya strategis bangsa.
“Pesan mengenai Trigatra Bangun Bahasa perlu diwujudkan dalam kegiatan nyata, baik melalui pembelajaran, penelitian, pengembangan bahan ajar, maupun pemanfaatan teknologi digital. Kita perlu memastikan bahwa bahasa Indonesia semakin kuat, bahasa daerah tetap hidup, dan penguasaan bahasa asing berkembang tanpa mengurangi kecintaan terhadap budaya sendiri,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi pembelajaran dan memperluas jangkauan pelestarian budaya.
“Mahasiswa perlu didorong menjadi generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menghasilkan karya dan inovasi yang memperkuat identitas bangsa. Bahasa dan seni harus terus dikembangkan agar tetap relevan, memiliki daya saing, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Melalui penguatan literasi bahasa dan budaya, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya Indonesia.
Bulan Bahasa dan Seni sebagai Ruang Penguatan Identitas Bangsa
Penyelenggaraan kuliah umum bersama Mendikdasmen RI menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Bulan Bahasa dan Seni FBS UNNES 2026.
Kegiatan ini memperkuat semangat pengembangan bahasa dan seni sebagai bagian dari pendidikan yang berorientasi pada penguatan karakter, kreativitas, serta identitas kebangsaan.
Melalui berbagai kegiatan akademik, kompetisi, dan apresiasi karya, Bulan Bahasa dan Seni menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas pemahaman mengenai peran bahasa dan seni dalam kehidupan masyarakat.
Kehadiran Mendikdasmen RI juga mempertegas pentingnya sinergi antara kebijakan pendidikan nasional dan pengembangan keilmuan di perguruan tinggi, khususnya dalam menjaga keberlanjutan bahasa serta budaya Indonesia.
Dukung SDG 4 dan SDG 11 melalui Pendidikan dan Pelestarian Budaya
Kuliah umum bertema “Mewujudkan Bahasa dan Seni yang Bermartabat dan Berdaulat” turut mendukung komitmen FBS UNNES terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities).
Kontribusi terhadap SDG 4 tercermin melalui penguatan pendidikan bahasa, literasi budaya, dan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Penerapan Trigatra Bangun Bahasa juga mendukung pengembangan pendidikan yang menghargai keberagaman bahasa sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan global.
Sementara itu, dukungan terhadap SDG 11 diwujudkan melalui penguatan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian bahasa daerah dan seni tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Melalui kegiatan ini, FBS UNNES menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan bahasa dan seni yang inovatif, berorientasi pada penguatan karakter, serta berkontribusi terhadap pelestarian identitas dan budaya bangsa.
Kuliah umum bersama Mendikdasmen RI diharapkan menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk mengimplementasikan prinsip mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing dalam pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, bahasa dan seni tidak hanya menjadi bidang pengembangan keilmuan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang bermartabat, berdaulat, dan mampu berperan aktif di tingkat global.












