Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan The 4th International Conference on Music and Culture (ICOMAC) pada 29 September 2026. Mengusung tema “Redefining Music in the Age of Artificial Intelligence: Education, Performance, Industry, and Cultural Identity”, konferensi yang berlangsung secara daring ini membahas transformasi pendidikan, pertunjukan, dan industri musik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, ICOMAC 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, seniman, komposer, praktisi industri musik, dan mahasiswa dari empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Meksiko. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus refleksi kritis mengenai pemanfaatan AI dalam ekosistem musik tanpa mengesampingkan kreativitas manusia dan identitas budaya.
Konferensi menghadirkan Prof. Dr. Dra. Kun Setyaning Astuti, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pembicara utama (keynote speaker). Sejumlah pembicara internasional turut memperkaya diskusi, yaitu Prof. Dr. Patricia Adelhaid González-Moreno dari Autonomous University of Chihuahua, Meksiko; Professor Ho Chee Kong dari National University of Singapore; serta Zechariah Goh Toh Chai dari Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura.
Perspektif industri musik Indonesia dihadirkan melalui Dimas Pradipta, komposer dan musisi yang telah berkolaborasi dengan sejumlah artis. Kehadiran pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi tersebut mempertemukan pendekatan teoretis, pengalaman profesional, dan perkembangan industri kreatif dalam satu forum internasional.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FBS UNNES, Dr. Eko Raharjo, M.Hum., dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa penyelenggaraan konferensi internasional merupakan bagian penting dari penguatan budaya akademik dan pengembangan program studi di lingkungan fakultas.
“Marwahnya akademik itu pada kegiatan-kegiatan seminar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat. Sehingga itu harus kita support sebagai Fakultas Bahasa dan Seni,” ungkapnya.
Menurutnya, dukungan fakultas terhadap kegiatan akademik internasional tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan fasilitas, tetapi juga melalui penguatan ekosistem keilmuan, peningkatan kapasitas akademik, serta perluasan jejaring kerja sama yang mendukung eksistensi program studi di tingkat nasional dan internasional.
Menempatkan Manusia sebagai Pusat Kreativitas di Era AI
Ketua Pelaksana ICOMAC 2026, Hafid Zuhdan Bahtiar, S.Pd., M.Sn., menjelaskan bahwa tema kecerdasan artifisial dipilih untuk merespons perubahan signifikan dalam praktik pendidikan, penciptaan, pertunjukan, dan produksi musik. Perkembangan teknologi AI membuka berbagai kemungkinan baru, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terkait orisinalitas karya, etika penggunaan teknologi, dan keberlanjutan identitas budaya.
“Pembahasan AI dalam ICOMAC tidak diarahkan pada ketergantungan terhadap teknologi, tetapi pada bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat dan tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses kreatif dan akademik,” jelas Hafid.
Perspektif humanis tersebut menjadi landasan penting dalam pembahasan ICOMAC 2026. Teknologi dipandang sebagai sarana yang dapat mendukung eksplorasi artistik, inovasi pembelajaran, dan pengembangan industri musik, sementara manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan nilai estetika, makna budaya, dan tanggung jawab etis atas karya yang dihasilkan.
Melalui forum ini, peserta diajak mendiskusikan bagaimana pendidikan musik dapat beradaptasi dengan teknologi digital, bagaimana seniman dan komposer merespons kehadiran AI dalam proses kreatif, serta bagaimana identitas budaya tetap dapat dipertahankan di tengah perubahan industri musik global.
Libatkan Empat Negara dan Dorong Partisipasi Mahasiswa
ICOMAC 2026 melibatkan peserta dari empat negara dan sekitar 11 institusi, yang terdiri atas sepuluh perguruan tinggi dan satu institusi swasta. Keterlibatan berbagai institusi tersebut memperlihatkan upaya FBS UNNES dalam memperluas ruang dialog dan kolaborasi internasional di bidang musik dan kebudayaan.
Hafid menjelaskan bahwa kehadiran pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi industri merupakan karakter yang terus dipertahankan dalam penyelenggaraan ICOMAC. Melalui pendekatan tersebut, perkembangan musik tidak hanya dibahas sebagai disiplin akademik, tetapi juga dikaitkan dengan kebutuhan dunia profesional dan perubahan ekosistem industri kreatif.
Konferensi ini juga memberikan ruang partisipasi bagi mahasiswa melalui kegiatan pertunjukan, keikutsertaan dalam forum akademik, serta kesempatan mengembangkan dan mempresentasikan karya ilmiah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis, komunikasi akademik, dan jejaring internasional mahasiswa.
Sebagai luaran akademik, ICOMAC 2026 menargetkan penerbitan prosiding internasional ber-ISBN yang memuat karya ilmiah para presenter sesuai dengan ketentuan penyelenggaraan. Publikasi tersebut diharapkan memperluas diseminasi hasil penelitian dan gagasan mengenai musik, pendidikan seni, teknologi, industri kreatif, serta kebudayaan.
Perkuat Kontribusi terhadap SDGs melalui Pendidikan dan Kemitraan Global
Penyelenggaraan ICOMAC 2026 juga menjadi bagian dari kontribusi FBS UNNES terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).
Dukungan terhadap SDG 4 diwujudkan melalui penguatan literasi teknologi, pengembangan wawasan akademik, serta pertukaran pengetahuan mengenai inovasi pendidikan musik yang relevan dengan perkembangan zaman. Pembahasan AI dalam pendidikan seni turut mendorong pemanfaatan teknologi secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sementara itu, kontribusi terhadap SDG 17 tercermin melalui keterlibatan akademisi dan praktisi dari berbagai negara yang membuka peluang pengembangan jejaring penelitian, pertukaran keilmuan, dan kolaborasi akademik internasional. Forum ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penghubung antara dunia pendidikan, penelitian, seni, dan industri kreatif.
Pembahasan mengenai identitas budaya di tengah transformasi digital juga memiliki relevansi dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities), terutama dalam konteks penguatan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya dan keberlanjutan praktik seni di tengah perubahan teknologi.
Melalui ICOMAC 2026, FBS UNNES menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian seni yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.
Konferensi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pertukaran gagasan dan publikasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan yang memperkuat peran musik sebagai medium pendidikan, kreativitas, dialog lintas budaya, dan transformasi sosial di era kecerdasan artifisial.












