Satu soal matematika kini dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Cukup dengan memasukkan persoalan ke dalam kecerdasan buatan, mahasiswa dapat memperoleh langkah penyelesaian hingga jawaban akhir. Kemudahan tersebut menghadirkan pertanyaan baru: ketika jawaban tersedia dalam hitungan detik, apakah mahasiswa tetap memahami langkah untuk mendapatkannya?
Pertanyaan tersebut melatarbelakangi Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Aillusion Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam mengkaji penggunaan kecerdasan buatan di kalangan mahasiswa calon guru matematika. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara tingkat ketergantungan terhadap kecerdasan buatan dengan kemampuan penalaran matematis mahasiswa.
Dalam matematika, kemampuan bernalar tidak berhenti sampai memperoleh jawaban akhir. Mahasiswa dituntut mampu memahami persoalan, menentukan strategi, menghubungkan antarkonsep, menyusun langkah penyelesaian, serta memberikan alasan yang mendukung jawabannya. Karena itu, keberadaan kecerdasan buatan menarik untuk dikaji, terutama dalam melihat kaitan antara kemudahan memperoleh solusi dengan proses penalaran mahasiswa.
Kecerdasan buatan sendiri dapat digunakan sebagai bagian dari proses belajar, seperti untuk memeriksa langkah pengerjaan atau membantu menemukan bagian materi yang belum dipahami. Namun, jawaban yang diberikan oleh teknologi tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk memahami proses di baliknya. Hal tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa calon guru matematika yang dituntut untuk mampu menjelaskan prosesnya kepada peserta didik.
Untuk melihat hubungan tersebut, Tim PKM-RSH UNNES melakukan penelitian pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dari tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan UIN Walisongo. Tim peneliti sendiri merupakan kolaborasi multidisiplin ilmu yang mempertemukan mahasiswa dari bidang keilmuan yang berbeda. Proses penelitian juga dilakukan di bawah pendampingan dosen pembimbing Dr. Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), M.Pd., sehingga kajian mengenai penggunaan kecerdasan buatan dapat dilihat dari lebih dari satu sudut pandang. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengkaji hubungan antara kedua aspek tersebut.
Kajian ini selaras dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan manusia dalam bernalar. Dalam pembelajaran matematika, teknologi dapat membantu memperoleh solusi dengan lebih mudah, tetapi kemampuan memahami solusi tetap menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas serta Asta Cita keempat, yang menekankan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi. Melalui penelitian ini, Tim PKM-RSH UNNES berupaya mengkaji perkembangan teknologi dalam pendidikan secara ilmiah. Sebab, di tengah kemudahan memperoleh jawaban melalui kecerdasan buatan, pembelajaran matematika masih tetap menyisakan persoalan penting: apakah mahasiswa benar-benar memahami dan mampu menjelaskan proses di balik jawaban yang mereka dapatkan?





