Kendal – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) memperkuat ketahanan masyarakat pesisir melalui pendidikan lingkungan dan kebencanaan sejak usia sekolah. Melalui dua program pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Kendal, FMIPA UNNES tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi membangun environmental literacy dan climate and disaster resilience siswa melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik risiko di wilayah masing-masing.
Dua program tersebut dilaksanakan di SMP Negeri 2 Cepiring dan SD Negeri 2 Bleder, Kecamatan Patebon. Keduanya merupakan sekolah di kawasan pesisir yang memiliki karakteristik risiko banjir berbeda. Berdasarkan Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi Jawa Tengah, Kecamatan Cepiring termasuk wilayah dengan risiko banjir kelas sedang, sedangkan Kecamatan Patebon termasuk wilayah dengan risiko banjir kelas tinggi. Bahkan, SD Negeri 2 Bleder berada di kawasan yang telah lama terdampak banjir pasang surut atau rob.
Perbedaan karakteristik risiko tersebut menjadi dasar bagi FMIPA UNNES untuk merancang intervensi yang berbeda. Di SMP Negeri 2 Cepiring, program diarahkan pada penguatan literasi lingkungan dan pengelolaan sampah, sedangkan di SD Negeri 2 Bleder, kegiatan difokuskan pada kesiapsiagaan bencana dan kemampuan adaptasi terhadap banjir rob.

Program pertama bertajuk “Peningkatan Literasi Lingkungan Siswa dalam Mendukung Budaya Ramah Lingkungan” dilaksanakan di SMP Negeri 2 Cepiring pada 18 Juli 2026. Tim pengabdi diketuai oleh Abdul Jabbar, S.Si., M.Ling., dengan anggota Prof. Dr. Parmin, M.Pd., Risa Dwita Hardianti, M.Pd., Ayu Rahayu, M.Pd., dan Dr. Andin Vita Amalia, M.Sc.
Kegiatan yang didanai oleh LPPM UNNES tersebut diikuti oleh 160 siswa kelas VII. Kegiatan dimulai dengan penguatan pemahaman mengenai pentingnya kesadaran lingkungan sejak dini. Ayu Rahayu menyampaikan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga memiliki kaitan dengan kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
Selanjutnya, Abdul Jabbar memberikan materi mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan, termasuk pemilahan sampah organik dan anorganik serta praktik sederhana yang dapat diterapkan siswa di rumah maupun sekolah.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan pembuatan poster bertema pengelolaan sampah. Siswa mempresentasikan hasil poster mereka, yang antara lain menyoroti pentingnya memilah sampah sejak dini dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Tim pengabdi juga menyerahkan tempat sampah terpilah organik dan anorganik serta media edukasi lingkungan kepada sekolah. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus mendukung keberlanjutan pembiasaan perilaku ramah lingkungan setelah program selesai.
Sementara itu, program kedua bertajuk “Sinergi Edukasi Sains dan Kepedulian Pesisir: Membangun Ketangguhan Siswa SD terhadap Dampak Perubahan Iklim” dilaksanakan di SD Negeri 2 Bleder, Kecamatan Patebon, pada 22 Juli 2026. Tim pengabdian diketuai oleh Rizki Nor Amelia, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Trida Ridho Fariz, S.Si., M.Sc., Muhammad Ahganiya Naufal, S.Si., M.Si., Dr. Novi Ratna Dewi, S.Si., M.Pd., dan Dr. Muhammad Tauiq, M.Pd. Berbeda dengan kegiatan di SMP Negeri 2 Cepiring, program di SD Negeri 2 Bleder secara khusus diarahkan untuk membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan siswa terhadap banjir rob. Pembelajaran menggunakan pendekatan Place-Based Disaster STEAM dan 3H (Head, Heart, and Hands), sehingga pengalaman siswa terhadap lingkungan sekitar menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Siswa diajak terlebih dahulu berbagi pengalaman mengenai banjir rob yang terjadi di lingkungan mereka. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan eksperimen sederhana mengenai benda terapung dan tenggelam menggunakan air rob. Berdasarkan pengalaman tersebut, siswa kemudian merancang miniatur rakit penyelamat yang dapat digunakan untuk melindungi barang-barang berharga ketika banjir rob terjadi.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menerima informasi mengenai bencana, tetapi belajar mengenali risiko, memahami konsep sains, bekerja sama, dan merancang solusi sederhana berdasarkan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini juga menjadi penting karena sekolah berada pada wilayah yang secara langsung menghadapi ancaman banjir rob. Pendidikan kebencanaan sejak sekolah dasar diharapkan dapat membentuk kapasitas adaptif siswa sekaligus memperkuat kesiapsiagaan keluarga dan komunitas di lingkungan mereka.
Kedua program menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak berhenti pada transfer pengetahuan. FMIPA UNNES menghadirkan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan risiko lokal, sekaligus meninggalkan fasilitas nyata yang dapat terus digunakan oleh sekolah.
Selain tempat sampah terpilah dan media edukasi lingkungan, seluruh siswa peserta kegiatan juga memperoleh buku tulis sebagai bagian dari dukungan terhadap kebutuhan dasar pembelajaran. Dengan demikian, program menggabungkan aspek pendidikan, lingkungan, kesiapsiagaan bencana, dan dukungan terhadap kebutuhan siswa.
Pelaksanaan kedua program juga menunjukkan pentingnya kolaborasi multipihak. FMIPA UNNES berperan sebagai penggerak pengetahuan dan pendidikan, sekolah menjadi mitra sekaligus ruang implementasi, sedangkan PT PAMA Persada mendukung melalui fasilitas dan dukungan bagi pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut memperkuat pendekatan multi-stakeholder partnership dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.
Kedua program pengabdian FMIPA UNNES berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan pendidikan, ketahanan iklim, dan kemitraan. Kegiatan mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran kontekstual di sekolah yang menghubungkan materi dengan permasalahan nyata siswa. Program di SD Negeri 2 Bleder secara khusus mendukung SDG 13 (Climate Action) melalui edukasi risiko, dampak, dan adaptasi perubahan iklim dalam konteks banjir rob, sekaligus SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan memperkuat kapasitas komunitas sekolah di kawasan rawan bencana. Kesadaran terhadap lingkungan pesisir juga memiliki relevansi dengan SDG 14 (Life Below Water). Program di SD Negeri 2 Bleder juga berkontribusi pada SDG Target 1.5, yaitu membangun ketahanan kelompok rentan dan mengurangi kerentanan terhadap kejadian ekstrem terkait iklim dan bencana. Edukasi kebencanaan, eksperimen berbasis STEAM, dan perancangan solusi sederhana menjadi upaya membangun kapasitas adaptif siswa sejak usia dini. Sementara itu, program di SMP Negeri 2 Cepiring mendukung komunitas berkelanjutan melalui peningkatan literasi lingkungan, pengelolaan sampah, serta penyediaan fasilitas pemilahan sampah. Kolaborasi FMIPA UNNES, sekolah, dan dunia usaha juga memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui sinergi pengetahuan, pendidikan, fasilitas, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, kedua program menempatkan sekolah sebagai ruang strategis untuk membangun generasi pesisir yang peduli lingkungan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan tangguh menghadapi risiko bencana.




