Kuliah sejarah tidak hanya mengantarkan lulusannya menjadi guru atau peneliti. Pengetahuan tentang masa lalu juga dapat menjadi modal usaha yang menjanjikan, mulai dari jasa konsultasi sejarah, penulisan berbasis riset, hingga pengembangan konten digital dan industri kreatif. Pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, mengungkapkan bahwa jasa konsultasi sejarah yang pernah dikerjakannya bahkan bernilai lebih dari Rp40 juta.
“Sejarah itu tidak harus bekerja sebagai guru. Kita juga bisa menjadi pengusaha,” ujar Asep dalam Stadium Generale Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) bertema “History Is Calling, Are You In? Scroll Less, Explore More” di Aula FISIP UNNES, Kamis (8/10/2026).
Di hadapan 181 mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Asep mengajak mahasiswa melihat sejarah bukan sekadar ilmu yang mempelajari masa lalu, melainkan juga sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Kemampuan menelusuri arsip, melakukan riset, menulis, dan mengolah narasi sejarah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lembaga, industri kreatif, maupun masyarakat luas.
Ilmu sejarah memiliki peluang karier yang luas, mulai dari konsultan sejarah, penulis, hingga pengusaha di bidang kebudayaan dan industri kreatif. Potensi tersebut disampaikan pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, dalam Stadium Generale Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) bertema “History Is Calling, Are You In? Scroll Less, Explore More” di Aula FISIP UNNES, Kamis (8/10/2026).
Di hadapan 181 mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Asep mengajak mahasiswa untuk tidak membatasi masa depan pada profesi guru atau pekerjaan konvensional lainnya. Menurut dia, pengetahuan sejarah dapat menjadi modal untuk membangun usaha, mengembangkan industri kreatif, dan menyediakan jasa konsultasi bagi berbagai lembaga.
Asep mencontohkan pengalamannya sebagai konsultan sejarah di Bank Indonesia. Ia juga terlibat dalam pengusulan tokoh asal Papua, Frans Kaisiepo, sebagai pahlawan nasional yang kemudian diabadikan dalam uang rupiah.
Menurut Asep, hasil riset sejarah memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan menjadi produk atau jasa yang dibutuhkan masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mengembangkan history entrepreneurship, yakni upaya mengubah idealisme dan pengetahuan sejarah menjadi ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Potensi itu dapat dikembangkan melalui penulisan sejarah, produksi film, pengelolaan arsip, pengembangan museum, wisata sejarah, hingga pembuatan konten edukasi digital. “Pengalaman itu penting, jejaring juga penting,” kata Asep.
Menurut dia, mahasiswa perlu mulai membangun pengalaman sejak di bangku kuliah. Mereka dapat mengembangkan cerita sejarah di lingkungan sekitar menjadi tulisan populer, konten digital, atau produk edukasi yang menarik bagi publik. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas, tetapi hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membawa tantangan baru dalam penyebaran informasi sejarah. Perang informasi dan cognitive warfare, misalnya, dapat berlangsung melalui perangkat digital dengan menyasar cara berpikir masyarakat, termasuk melalui hoaks dan konten yang menyesatkan.
Karena itu, mahasiswa sejarah perlu membiasakan diri memeriksa kredibilitas sumber, membandingkan informasi, dan bersikap kritis terhadap konten yang beredar di media sosial. Konten yang singkat dan menarik belum tentu menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dekan FISIP, Prof. Arif Purnomo, berharap kegiatan tersebut memperkuat keyakinan mahasiswa terhadap pilihan studinya. “Sesudah acara ini, mahasiswa sejarah semakin yakin dengan pilihan hidupnya,” ujarnya.
Arif juga menekankan bahwa pentingnya sejarah perlu tercermin dalam sikap dan tindakan mahasiswa sejarah sendiri. Menurut dia, mahasiswa tidak cukup hanya mengajak masyarakat mengingat sejarah, tetapi juga harus menunjukkan komitmen untuk mempelajari, mengembangkan, dan memperkenalkannya kepada publik.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, M. Shokheh, Ph.D., mengajak mahasiswa menikmati proses eksplorasi ilmu sejarah. Ia berharap mahasiswa dapat menemukan beragam peluang melalui kegiatan akademik maupun aktivitas di luar kelas.
Ketua panitia, Fransiska Ratu, mengatakan Stadium Generale tersebut diselenggarakan untuk memperkenalkan Jurusan Sejarah kepada mahasiswa baru dari Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah. Ia berharap kegiatan itu memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru dalam pengembangan sejarah.
Bagi mahasiswa, materi yang disampaikan Asep memberikan perspektif baru mengenai masa depan lulusan sejarah. “Sebelumnya, saya mendengar anggapan bahwa kuliah di jurusan sejarah itu kurang menjanjikan. Orang tua saya juga sempat tidak setuju. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya mendapat gambaran bahwa lulusan sejarah memiliki banyak koneksi dan peluang kerja, serta bisa memperoleh penghasilan dari bidang yang ditekuni,” ujar Syifa Rumaisha, mahasiswa Pendidikan Sejarah.
Hal senada disampaikan Rio Hamdani, mahasiswa Ilmu Sejarah. Ia mengatakan kegiatan tersebut membuka wawasannya mengenai potensi ilmu yang ditekuninya sekaligus pentingnya kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan inovasi.
Stadium Generale ini menegaskan bahwa tantangan mahasiswa sejarah bukan sekadar menguasai pengetahuan tentang masa lalu, melainkan juga mengolahnya menjadi sesuatu yang bermakna pada masa kini. Melalui riset, kreativitas, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi digital, sejarah memiliki peluang untuk berkontribusi pada pendidikan, kebudayaan, industri kreatif, sekaligus membuka jalan bagi profesi yang beragam.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pengembangan kreativitas, kewirausahaan sejarah, dan pemanfaatan teknologi digital, mahasiswa didorong untuk memperluas kompetensi serta menciptakan peluang kerja dan usaha berbasis pengetahuan sejarah yang berkelanjutan.




