Belajar dari Jepang, Ketangguhan Bencana Dimulai dari Komunitas

Universitas Negeri Semarang > Faculty of Social Sciences and Political Science > Berita > Belajar dari Jepang, Ketangguhan Bencana Dimulai dari Komunitas

Ketangguhan menghadapi bencana tidak cukup dibangun melalui teknologi, infrastruktur, maupun sistem peringatan dini. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali risiko, berkomunikasi, dan mengambil keputusan bersama ketika ancaman datang.

Pesan itulah yang mengemuka dalam kuliah umum bertajuk Building Disaster-Resilient Communities through Education: Lessons from Japan’s BOSAI Practices yang disampaikan Genta Nakano, dosen Disaster Prevention Research Institute Universitas Kyoto, kepada mahasiswa Geografi dan Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rabu (2/9/2026).

Kuliah umum yang berlangsung di Aula FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, tersebut mengajak mahasiswa melihat penanggulangan bencana bukan semata-mata sebagai persoalan respons pemerintah ketika bencana terjadi. Menurut Genta, masyarakat harus menjadi bagian aktif dalam membangun kesiapsiagaan.

Genta merupakan peneliti yang menaruh perhatian pada komunikasi risiko, pendidikan pengurangan risiko bencana, risiko bencana majemuk, dan kerja sama internasional. Pengalaman penelitiannya mencakup sejumlah negara, antara lain Jepang, Meksiko, El Salvador, Nepal, dan India.

Salah satu pelajaran penting yang ia paparkan berasal dari Gempa Besar Hanshin-Awaji di Jepang pada 1995. Dalam bencana tersebut, sebagian besar korban meninggal terjadi pada waktu yang sangat singkat setelah gempa mengguncang. Namun, ketika banyak warga terjebak di bawah bangunan yang runtuh, sekitar 80 persen korban yang berhasil diselamatkan justru ditolong oleh warga sekitar.

Dari sekitar 35.000 orang yang berhasil diselamatkan, sekitar 27.000 orang ditolong oleh penduduk lokal. Sementara itu, sekitar 8.000 orang lainnya diselamatkan oleh polisi, petugas pemadam kebakaran, dan Pasukan Bela Diri Jepang.

Temuan tersebut, menurut Genta, menunjukkan keterbatasan kapasitas lembaga profesional dalam menghadapi bencana berskala besar. Ketika bencana terjadi secara luas, petugas penyelamat pun dapat terdampak sehingga kapasitas organisasi mereka tidak selalu mampu menjangkau seluruh wilayah secara cepat.

“Warga harus mampu melindungi kehidupan mereka sendiri,” menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Genta dalam kuliah umum tersebut. Karena itu, pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya diserahkan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan tindakan aktif dari masyarakat di tingkat komunitas.

Genta juga memaparkan hasil pembelajaran dari bencana aliran debris atau banjir bandang material di Kota Atami, Prefektur Shizuoka, pada 2021. Bencana tersebut merusak sekitar 130 bangunan dan menyebabkan 28 orang meninggal dunia setelah curah hujan kumulatif mencapai lebih dari 400 milimeter.

Sebelum aliran debris terjadi, sejumlah warga sebenarnya telah merasakan adanya tanda-tanda yang tidak biasa. Mereka melihat air yang berubah menjadi keruh, potongan kayu yang hanyut, hingga mendengar suara batu yang bergulir dari arah hulu.

Namun, kegelisahan yang dirasakan secara individual itu tidak berkembang menjadi komunikasi di tingkat komunitas. Akibatnya, kekhawatiran tersebut tidak berubah menjadi kesepakatan untuk melakukan evakuasi lebih awal.“Setiap individu telah merasa cemas, tetapi kecemasan itu tidak dibagikan di dalam komunitas sehingga tidak menghasilkan evakuasi preventif,” demikian salah satu temuan penting yang dipaparkan Genta.

Bahkan setelah bencana terjadi, kesempatan untuk melakukan evakuasi masih tersedia. Akan tetapi, sebagian masyarakat memandang peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya.

Pelajaran dari Atami, menurut Genta, memperlihatkan bahwa informasi dan peringatan saja tidak selalu cukup. Ketangguhan masyarakat juga bergantung pada kemampuan warga untuk memahami risiko sebagai persoalan bersama dan mengambil keputusan secara kolektif.

Karena itu, Genta menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kesepakatan di tingkat komunitas mengenai kapan warga harus melakukan evakuasi. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu membangun sistem kesiapsiagaan yang saling melengkapi.

Ketika keputusan pemerintah terlambat, komunitas diharapkan mampu mengambil langkah. Sebaliknya, ketika kemampuan komunitas terbatas, pemerintah harus tetap dapat memberikan dukungan.

Salah satu contoh praktik yang disampaikan Genta berasal dari komunitas Okitsu di Kota Shimanto, Prefektur Kochi. Di wilayah yang menghadapi risiko gempa dan tsunami tersebut, pendidikan kebencanaan dikembangkan melalui kerja sama antara sekolah, masyarakat, pemerintah daerah, dan Universitas Kyoto.

Anak-anak sekolah dasar terlibat dalam penyusunan dan pengembangan peta BOSAI secara berkelanjutan. Selama sekitar dua dekade, siswa kelas lima dan enam mengembangkan peta tersebut dengan melihat kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia dan anak-anak.

Hasil kerja siswa kemudian dibagikan kepada masyarakat dan pemerintah daerah melalui kegiatan presentasi. Peta tersebut terus berkembang dari tahun ke tahun. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya mengidentifikasi lokasi evakuasi, tetapi juga memetakan tinggi tsunami, risiko longsor, waktu yang diperlukan untuk evakuasi, hingga bahaya pada jalur evakuasi pada siang dan malam hari.

Kegiatan pendidikan tersebut menghasilkan perubahan nyata di masyarakat. Di antaranya adalah pemindahan fasilitas penitipan anak ke tempat yang lebih tinggi, pemasangan penanda jalur evakuasi yang dapat menyala pada malam hari, perbaikan jembatan pada jalur evakuasi, peningkatan keterlibatan orangtua dalam simulasi, hingga perbaikan penanda evakuasi.

Bagi Genta, sekolah dapat menjadi pusat penghubung antara pengetahuan ilmiah dan kehidupan masyarakat. Melalui pendidikan pengurangan risiko bencana, siswa tidak hanya belajar menyelamatkan diri, tetapi juga berinteraksi dengan komunitas dan menyebarkan pengetahuan yang mereka peroleh.

Model tersebut mempertemukan sekolah, pemerintah daerah, masyarakat, dan para ahli dalam kegiatan pengurangan risiko bencana secara kolaboratif.

Mahasiswa Geografi FISIP UNNES, Ghina Aliya, menilai materi yang disampaikan Genta memberikan perspektif baru tentang pentingnya pendidikan kebencanaan. “Pembelajaran yang dibagikan kepada kami sangat insightful dan menginspirasi, terutama mengenai bagaimana penanganan bencana dilakukan di Jepang,” ujar Ghina.

Menurut dia, kuliah umum tersebut menekankan bahwa edukasi kebencanaan di tengah masyarakat merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian lebih besar, terutama bagi negara yang memiliki beragam ancaman bencana alam.“Edukasi ini perlu ditanamkan dari komunitas paling bawah dalam masyarakat untuk membuat perubahan yang besar,” katanya.

Bagi mahasiswa, pengalaman Jepang yang dipaparkan dalam kuliah umum itu menjadi pengingat bahwa ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya dibangun ketika bencana datang. Ketangguhan justru dimulai jauh sebelumnya, melalui proses belajar, komunikasi, dan keterlibatan masyarakat dalam mengenali risiko yang ada di sekitarnya.

Melalui pendidikan kebencanaan, pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan dapat bergerak ke lingkungan masyarakat dan berkembang menjadi tindakan bersama untuk melindungi kehidupan.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy

At unnes.ac.id, the privacy of our visitors is of extreme importance to us. This privacy policy document outlines the types of personal information that is received and collected by unnes.ac.id and how it is used.

Log Files

Like many other Web sites, unnes.ac.id makes use of log files. The information inside the log files includes internet protocol (IP) addresses, type of browser, Internet Service Provider (ISP), date/time stamp, referring/exit pages, and number of clicks to analyze trends, administer the site, track user’s movement around the site, and gather demographic information. IP addresses and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.

Cookies

unnes.ac.id uses cookies to store information about visitors’ preferences, to record user-specific information on which pages the site visitor accesses or visits, and to personalize or customize our web page content based upon visitors’ browser type or other information that the visitor sends via their browser.

Third-party ad servers or ad networks use technology in their respective advertisements and links that appear on unnes.ac.id and which are sent directly to your browser. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies (such as cookies, JavaScript, or Web Beacons) may also be used by our site’s third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on the site.

unnes.ac.id has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. unnes.ac.id’s privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites.

If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers’ respective websites.

Consent

By using our website, you hereby consent to our privacy policy and agree to its terms.

Update

This Privacy Policy was last updated on: 2023-02-14. Should we update, amend or make any changes to our privacy policy, those changes will be posted here.

Contact Us

If you have any questions, comments, or concerns about our Privacy Policy or our practices with regards to your personal information, please feel free to contact us through the contact form on our website or by emailing us at humas[at]mail.unnes.ac.id.

This Privacy Policy is intended as a general guide to our practices in collecting and using information. If there is any inconsistency between this Privacy Policy and the terms of the Service Agreement or any other terms that may apply to specific services you use, then those specific service terms shall apply.

Terms of Use

By using our website, you agree to abide by this Privacy Policy. If you do not agree with this Privacy Policy, please do not use our website. We reserve the right to update this Privacy Policy from time to time without prior notice. Please review our Privacy Policy periodically to check for changes. Your continued use of our website following the posting of changes to this Privacy Policy means that you accept the changes.

Thank you for reading our Privacy Policy. We are committed to protecting the privacy of our website visitors and will continue to update our Privacy Policy to ensure optimal protection.