Semarang — Memahami keberagaman tidak cukup dilakukan dengan mengenali perbedaan identitas, tetapi membutuhkan kemampuan untuk melihat bagaimana perbedaan tersebut hidup, dinegosiasikan, dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Studium Generale “Mahasiswa dan Tantangan Keberagaman” yang digelar FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jumat (25/9/2026), di Aula C1 Lantai 3 FISIP UNNES. Kegiatan berlangsung pukul 08.30–11.00 WIB dan diikuti mahasiswa angkatan 2026 atau semester 1 sebagai peserta wajib.
Studium Generale menghadirkan dua akademisi sebagai narasumber, yakni Dr. Sri Alem Br. Sembiring, M.Si. dari Program Studi Antropologi Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) dan Dr. Rosramadhana, M.Si. dari Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (UNIMED). Kedua narasumber membahas keberagaman dari perspektif antropologi, pendidikan multikultural, gender, teknologi, serta perkembangan pendidikan di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Pada sesi pertama, Dr. Sri Alem Br. Sembiring menyampaikan materi “Menjadi Etnografer: Belajar Melihat Dunia dari Dekat”. Ia mengajak mahasiswa memahami etnografi sebagai cara untuk mempelajari kehidupan sosial dengan hadir secara dekat di tengah masyarakat. Menurut materi yang disampaikan, memahami masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pertanyaan atau kuesioner semata. Seorang etnografer perlu mengamati kehidupan sehari-hari, berinteraksi, mengikuti aktivitas masyarakat, dan memperhatikan berbagai hal yang terkadang tidak muncul dalam jawaban formal.
Dalam perspektif tersebut, etnografi ditempatkan sebagai proses untuk memahami kehidupan sosial melalui kedekatan dengan masyarakat. Mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya pengalaman langsung, pengamatan, interaksi, analisis, dan kemampuan menuliskan temuan secara reflektif dan argumentatif. Materi juga menekankan bahwa masyarakat multikultural perlu dipahami bukan sekadar melalui label “beragam”, tetapi dengan melihat bagaimana identitas, relasi sosial, kerja sama, perkawinan, serta batas antara kelompok “orang kita” dan “orang luar” terbentuk dan dinegosiasikan.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada pentingnya participant observation, yakni proses “mengamati dengan ikut mengalami”. Dalam pendekatan tersebut, peneliti menjalani siklus melihat, ikut, mengalami, berbicara, mencatat, merekam, merefleksikan, kemudian kembali mengamati. Materi menegaskan bahwa apa yang dikatakan seseorang tidak selalu identik dengan apa yang dilakukannya, dan perbedaan antara ucapan serta tindakan justru dapat menjadi bagian penting dalam analisis etnografis.
Aspek lain yang ditekankan adalah pentingnya memahami diam sebagai data. Ketika informan tidak menyampaikan seluruh informasi, kondisi tersebut tidak serta-merta dipandang sebagai ketiadaan data. Keheningan dapat memberikan petunjuk mengenai hubungan sosial, norma, kepentingan, kerahasiaan, dan relasi kuasa yang bekerja dalam suatu komunitas. Dengan demikian, mahasiswa didorong untuk melihat realitas sosial secara lebih kritis dan tidak berhenti pada informasi yang tampak di permukaan.
Pada sesi berikutnya, Dr. Rosramadhana, M.Si. membawakan materi “Merajut Keberagaman di Kota Medan: Gender, Teknologi, dan Masa Depan Pendidikan di Era Transhumanisme”. Materi tersebut mengajak mahasiswa melihat keterkaitan antara pendidikan multikultural, keberagaman sosial, gender, perkembangan teknologi, dan tantangan globalisasi. Ia menempatkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana pendidikan membentuk manusia ketika teknologi semakin maju.
Dalam paparannya, pendidikan multikultural dipahami sebagai pendidikan yang mencakup seluruh peserta didik tanpa membedakan gender, etnis, ras, budaya, strata sosial, maupun agama. Perspektif tersebut menjadi penting dalam masyarakat yang memiliki keragaman identitas dan pengalaman sosial. Kota Medan, misalnya, digambarkan sebagai ruang sosial yang memiliki keberagaman etnis, agama, bahasa, budaya, gender, kelas sosial, dan pengalaman pendidikan. Kondisi tersebut memiliki implikasi langsung terhadap praktik pendidikan karena setiap peserta didik hadir di ruang kelas dengan latar belakang dan modal sosial yang berbeda.
Materi juga memberikan perhatian khusus pada gender sebagai bagian dari keberagaman. Pembahasan tidak berhenti pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi melihat bagaimana keluarga, budaya, agama, pendidikan, media, dan lingkungan sosial membentuk ekspektasi terhadap peran gender. Dalam konteks pendidikan, hal tersebut dapat terlihat dari siapa yang memperoleh kesempatan menjadi pemimpin, siapa yang dipercaya memegang peran tertentu, bagaimana pembagian tugas dilakukan, serta bagaimana teknologi dan media digital merepresentasikan perempuan dan laki-laki.
Rosramadhana juga menekankan bahwa keragaman gender perlu dilihat melalui persoalan akses, suara, otoritas, kesempatan, dan kemampuan untuk menentukan masa depan di tengah perubahan teknologi. Karena itu, pendidikan multikultural dipandang memiliki peran strategis sebagai ruang untuk menumbuhkan toleransi dan sikap inklusif terhadap realitas masyarakat yang beragam.
Dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum, materi Studium Generale menunjukkan bahwa pendidikan multikultural dapat memuat isu toleransi, perbedaan etnokultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, hak asasi manusia, demokrasi, pluralitas, multikulturalisme, serta kemanusiaan universal. Kurikulum juga dapat memanfaatkan budaya sebagai sumber belajar dan menghubungkan proses pendidikan dengan lingkungan sosial dan budaya peserta didik.
Rangkaian materi tersebut memberikan bekal kepada mahasiswa semester awal untuk memandang keberagaman sebagai realitas sosial yang perlu dipahami secara kritis, bukan sekadar dikenali sebagai perbedaan identitas. Mahasiswa juga diajak mengembangkan kepekaan, refleksivitas, kemampuan observasi, imajinasi analitis, serta tanggung jawab etis ketika mempelajari kehidupan masyarakat. Materi etnografi menempatkan informan sebagai manusia yang kehidupannya dapat terdampak oleh publikasi penelitian, sehingga aspek posisi peneliti, perlindungan, dan etika menjadi bagian penting dalam proses akademik.
Studium Generale “Mahasiswa dan Tantangan Keberagaman” sekaligus mempertemukan perspektif akademik dari perguruan tinggi yang berbeda untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa FISIP UNNES. Melalui pembahasan tentang kehidupan multikultural, pendidikan, gender, dan teknologi, mahasiswa memperoleh ruang untuk memahami bahwa tantangan keberagaman tidak hanya berada dalam kehidupan masyarakat saat ini, tetapi juga akan terus berkembang seiring perubahan teknologi dan transformasi pendidikan.
Kegiatan tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education melalui penguatan pembelajaran yang kritis, inklusif, dan kontekstual; SDG 5: Gender Equality melalui pembahasan mengenai stereotip, akses, kesempatan, dan otoritas yang berkaitan dengan gender; serta SDG 10: Reduced Inequalities melalui penguatan pemahaman mengenai keberagaman, toleransi, dan upaya mencegah diskriminasi. Perspektif pendidikan multikultural yang mendorong toleransi dan inklusivitas juga berkontribusi pada penguatan kehidupan sosial yang lebih setara dan harmonis.
Pesan yang mengemuka dari kedua narasumber kemudian bermuara pada satu gagasan penting: di tengah masyarakat yang semakin beragam dan teknologi yang semakin cerdas, pendidikan perlu tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Sejalan dengan penutup materi Rosramadhana, “Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pendidikan harus tetap semakin manusiawi.”










