Di ruang kelas SLB Negeri Salatiga, belajar matematika tidak dimulai dari deretan angka atau rumus di papan tulis. Sebaliknya, proses belajar diawali dengan kalimat sederhana yang diucapkan bersama-sama, “Aku bisa, aku kuat, aku hebat.”
Kalimat itu menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan diri murid tunagrahita sebelum mereka diajak memahami konsep-konsep matematika melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut dikembangkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ASMARA Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam mendampingi 12 murid tunagrahita jenjang SMA di SLB Negeri Salatiga. Program ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan bagi penyandang disabilitas intelektual tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran.
Dalam pembelajaran menghadirkan proses belajar yang mampu membangun keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri peserta didik. Murid tunagrahita memiliki tantangan belajar yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya.
Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami konsep dasar, mudah kehilangan fokus, serta memerlukan pendampingan yang lebih intensif dalam menyelesaikan persoalan sederhana. Karena itu, pembelajaran yang bersifat abstrak sering kali menjadi hambatan.
Kondisi tersebut mendorong Tim ASMARA merancang model pembelajaran yang menghubungkan matematika dengan pengalaman nyata sehingga materi lebih mudah dipahami. Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada aspek akademik.
Sebelum memasuki materi pembelajaran, tim memberikan penguatan mental dan emosional melalui metode havening touch yang dipadukan dengan afirmasi positif. Langkah sederhana ini bertujuan membantu murid lebih tenang, meningkatkan konsentrasi, dan menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu mengikuti proses belajar.
Setelah suasana belajar terbentuk, murid diajak mengekspresikan diri melalui kegiatan hand painting. Mereka membuat cap tangan menggunakan cat warna-warni, kemudian menuliskan nama dan cita-cita yang ingin diraih. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenali dirinya sendiri sekaligus membangun optimisme terhadap masa depan. Dalam pendidikan inklusif, proses mengenali potensi diri sama pentingnya dengan pencapaian akademik.
Pembelajaran matematika kemudian dikembangkan melalui media yang kontekstual. Salah satunya dengan memanfaatkan Gedung Papak, bangunan cagar budaya di Kota Salatiga, sebagai sarana mengenalkan konsep bangun datar dan bangun ruang. Melalui pengamatan langsung terhadap bentuk-bentuk arsitektur bangunan, murid tidak hanya mempelajari geometri, tetapi juga memahami bahwa matematika hadir dalam lingkungan yang mereka temui setiap hari.
Pendekatan berbasis pengalaman tersebut dilanjutkan melalui permainan Tangram tujuh keping. Murid menyusun berbagai bentuk menggunakan potongan-potongan geometri sambil mengenali segitiga, persegi, dan jajaran genjang.
Aktivitas ini melatih kemampuan memecahkan masalah sederhana, berpikir logis, sekaligus meningkatkan kemandirian dalam belajar. Pembelajaran berlangsung dalam suasana yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih mudah mempertahankan perhatian mereka.

Perwakilan Tim ASMARA dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNNES, Muhammad Bagas Riyanto, mengatakan bahwa tantangan terbesar selama pengabdian bukanlah menjelaskan materi matematika, melainkan menjaga stabilitas emosi peserta didik selama proses belajar berlangsung.”Masalah kestabilan emosional dan mental memang menjadi tantangan utama karena murid tunagrahita mudah terdistraksi oleh keadaan di luar kelas sehingga fokus dan konsentrasi mereka cepat terganggu,” ujarnya.
Menurut Bagas, kondisi tersebut membuat setiap kegiatan harus dirancang secara fleksibel dan interaktif. Mahasiswa dituntut memahami karakter masing-masing murid sebelum menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan. Pendekatan emosional menjadi fondasi agar proses belajar dapat berjalan dengan baik.
Program ini dilaksanakan oleh lima mahasiswa lintas disiplin ilmu di bawah pendampingan Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), Kolaborasi antara mahasiswa Pendidikan Matematika, Pendidikan Sejarah, Ilmu Hukum, Teknik Informatika, dan Bimbingan Konseling menunjukkan bahwa pendidikan inklusif memerlukan kerja sama berbagai bidang keilmuan.
Persoalan pembelajaran di SLB bukan hanya berkaitan dengan metode mengajar, tetapi juga menyangkut aspek psikologis, sosial, teknologi, dan perlindungan hak penyandang disabilitas. Lebih dari sekadar kegiatan pengabdian, pendampingan di SLB Negeri Salatiga memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan pendekatan yang memanusiakan peserta didik.
Keberhasilan pembelajaran tidak semata-mata diukur dari kemampuan murid menghafal rumus atau menjawab soal, melainkan dari tumbuhnya rasa percaya diri untuk mencoba, berani belajar, dan mengenali potensi yang dimiliki.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa mewujudkan pendidikan berkualitas bagi semua tidak cukup dilakukan melalui penyediaan kurikulum dan fasilitas belajar. Dibutuhkan kehadiran pendidik dan pendamping yang mampu memahami kebutuhan setiap anak serta menciptakan ruang belajar yang menghargai perbedaan.
Di ruang kelas SLB Negeri Salatiga, matematika akhirnya bukan hanya tentang angka dan bentuk, tetapi juga tentang membangun harapan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai kemampuannya. Melalui pendekatan tersebut, Program ASMARA mendukung terwujudnya pendidikan yang lebih inklusif sebagaimana ditekankan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.




