Pendidikan perubahan iklim di Indonesia selama ini masih didominasi pendekatan sains dan belum sepenuhnya terhubung dengan kehidupan sosial budaya masyarakat. Padahal, di wilayah-wilayah yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim, masyarakat telah lama memiliki pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari strategi bertahan hidup.
Berangkat dari kesenjangan itu, sebuah disertasi di Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) FISIP UNNES menawarkan model pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal, teori konektivisme, dan pendidikan perubahan iklim untuk memperkuat ekoliterasi murid.
Temuan tersebut dipresentasikan Endah Septiani dalam sidang disertasi yang berlangsung di Aula Lantai 3 FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Kamis Sembilan, Juli 2026. Penelitian berjudul Pengembangan Model Etnopedagogi Perubahan Iklim Berbasis Konektivisme untuk Penguatan Ekoliterasi Murid di Sekolah Pesisir Kendal .
Penelitian itu dilandasi persoalan bahwa pendidikan perubahan iklim belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum, sementara kearifan lokal masyarakat pesisir belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber belajar. Kebaruan penelitian ini tidak hanya terletak pada pengembangan model pembelajaran, tetapi juga pada sintesis berbagai perspektif keilmuan.
Guru Sosiologi ini menggabungkan etnopedagogi, pendidikan perubahan iklim, ekoliterasi, teori etnosains, teori konektivisme, serta Bicycle Model of Climate Change Education ke dalam satu model konseptual yang menempatkan pengalaman sosial budaya masyarakat sebagai pintu masuk memahami perubahan iklim. Model tersebut dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan pendekatan Four-D, mulai dari tahap pendefinisian, perancangan, pengembangan, hingga diseminasi.
Penelitian dilakukan dengan menggali praktik-praktik kearifan lokal di tiga kawasan yang saling terhubung secara ekologis di Kabupaten Kendal, Jawa tenah. Pertama yakni Bandengan sebagai kawasan pesisir, selanjutnya Kartikajaya dengan ekosistem mangrove, dan Purwogondo sebagai kawasan agraris di wilayah hulu.
Ketiganya diposisikan bukan sebagai lokasi penelitian yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu sistem pembelajaran yang memperlihatkan hubungan antara aktivitas manusia, perubahan bentang alam, hingga dampak perubahan iklim dari hulu ke hilir. Hasil implementasi menunjukkan bahwa model tersebut mampu memperkuat tiga dimensi pembelajaran secara bersamaan, yakni pengetahuan ekologis (head), kepedulian ekologis (heart), dan tindakan nyata (hands).
Murid tidak hanya memahami hubungan antara pemanasan global dengan kenaikan muka air laut maupun curah hujan ekstrem, tetapi juga menunjukkan perubahan sikap melalui keterlibatan dalam aksi mitigasi, penghijauan, dan berbagai proyek ekologis di lingkungan sekolah. Uji kelayakan model juga memperlihatkan tingkat respons positif yang sangat tinggi dari guru maupun peserta didik.
Temuan tersebut membawa implikasi yang lebih luas daripada sekadar inovasi pembelajaran. Penelitian ini memperluas teori pembelajaran kontekstual, menawarkan dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan perubahan iklim, sekaligus membuka peluang integrasi pendidikan iklim ke dalam kurikulum sekolah, khususnya di kawasan pesisir.

Ketua Tim Penguji, Prof. Arif Purnomo, menyatakan seluruh tim penguji menerima disertasi tersebut. “Rapat tim penguji menyatakan disertasi Saudari Endah diterima dan dinyatakan lulus sebagai Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,” ujarnya saat membacakan hasil sidang.
Endah menjadi lulusan ke-11 Program Doktor PIPS FISIP UNNES. Ia menyelesaikan studi dalam waktu dua tahun sepuluh bulan dengan predikat cumlaude. Disertasinya memperoleh nilai A dengan indeks prestasi kumulatif 4,00.
Promotor, Prof. Dewi Liesnoor Setyowati, menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa penelitian akademik tetap dapat diselesaikan tepat waktu di tengah berbagai kesibukan ibu dari dua anak ini. Menurutnya, model pembelajaran yang dikembangkan memiliki potensi diterapkan lebih luas karena bertumpu pada prinsip kearifan lokal yang dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah.
Meskipun penelitian dilakukan di kawasan Gringsing dan wilayah pesisir Kendal, pendekatan yang dibangun dinilai dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia dengan mengangkat kekhasan lokal masing-masing. “Capaian doktor tersebut menjadi awal bagi Endah untuk terus mengembangkan kapasitas akademik dan memperluas kontribusi penelitian dalam dunia pendidikan,”harapnya.
Bagi Endah, disertasi ini bukan sekadar pemenuhan persyaratan akademik. Ia berharap hasil penelitiannya menjadi pijakan bagi sekolah untuk mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim secara berkelanjutan.”Melalui disertasi ini saya ingin penguatan ekoliterasi tidak berhenti sebagai syarat akademis semata. Saya berharap sekolah mampu mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat bagi peningkatan mutu pendidikan,” ujarnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal dapat menjadi jalan untuk membangun kesadaran iklim sejak di bangku sekolah. Langkah tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Pendidikan Berkualitas (SDG 4) dan Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13).




