Jepara – Tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan penelitian bertajuk “Etnokonservasi Tumbuhan dan Hewan Obat dalam Sistem Pengobatan Tradisional Masyarakat Kepulauan Karimunjawa: Kajian Antropologi Kesehatan, Lingkungan, dan Konservasi” pada 6 April 2026 di Desa Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Penelitian yang diketuai oleh Dr.scient.med. Fadly Husain, S.Sos., M.Si. ini menggandeng masyarakat Desa Karimunjawa sebagai mitra penelitian untuk mengkaji bagaimana praktik pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun tidak hanya berfungsi menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi mekanisme konservasi sumber daya hayati berbasis budaya.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa masyarakat kepulauan Karimunjawa masih memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan dan hewan sebagai bahan pengobatan tradisional. Pengetahuan tersebut berkembang melalui pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan pesisir dan laut. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap keanekaragaman hayati akibat modernisasi, perkembangan pariwisata, serta perubahan sosial-ekonomi, praktik etnomedisin dinilai memiliki nilai strategis sebagai bentuk etnokonservasi, yaitu sistem pengelolaan sumber daya alam yang berlandaskan pengetahuan lokal dan nilai-nilai budaya yang diwariskan antargenerasi.
Melalui pendekatan kualitatif dengan desain etnografi, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dengan praktisi pengobatan tradisional, nelayan, perempuan, tokoh adat, serta pemangku kepentingan lokal. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan untuk mendokumentasikan proses pengambilan, pengolahan, dan pemanfaatan tumbuhan maupun hewan obat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Karimunjawa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan perspektif medical pluralism, traditional ecological knowledge, serta pendekatan relasi sosial-ekologis untuk memahami keterkaitan antara kesehatan masyarakat, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Salah satu fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi berbagai aturan adat, nilai sosial, dan pantangan (tabu) yang mengatur pemanfaatan tumbuhan maupun hewan obat agar tidak dieksploitasi secara berlebihan. Bagi masyarakat Karimunjawa, pemanfaatan sumber daya alam tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan ekonomi, melainkan juga diikat oleh norma budaya yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Nilai-nilai tersebut diyakini berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan populasi berbagai spesies yang dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional.
Ketua tim peneliti, Dr.scient.med. Fadly Husain, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara praktik kesehatan tradisional dengan konservasi lingkungan. Menurutnya, pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat Karimunjawa merupakan aset ilmiah sekaligus budaya yang perlu didokumentasikan, dikembangkan, dan dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan konservasi maupun pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan.
Selain mendokumentasikan praktik etnomedisin, penelitian ini juga mengkaji bagaimana sistem pengobatan tradisional berinteraksi dengan layanan kesehatan modern dan kebijakan konservasi formal di kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Kajian tersebut diharapkan mampu menghasilkan model konseptual yang mempertemukan pengetahuan lokal dengan pendekatan ilmiah modern sehingga keduanya dapat saling melengkapi dalam mendukung pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Luaran penelitian ditargetkan mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 2–3, berupa perumusan konsep etnokonservasi berbasis praktik kesehatan tradisional di wilayah pulau kecil, validasi awal terhadap mekanisme lokal dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan tumbuhan dan hewan obat, serta penyusunan model konseptual integrasi pengetahuan lokal ke dalam kebijakan konservasi dan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian juga diharapkan menghasilkan rekomendasi berbasis bukti yang dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah maupun pengelola kawasan konservasi dalam merumuskan strategi pembangunan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian ini sekaligus mendukung arah pembangunan nasional, termasuk penguatan ketahanan kesehatan masyarakat, pembangunan wilayah pesisir berbasis komunitas, serta pengelolaan sumber daya alam yang berdaulat dan berkelanjutan sebagaimana menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pemilik sekaligus penjaga pengetahuan lokal menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya dapat dilakukan melalui regulasi formal, tetapi juga melalui pelestarian nilai-nilai budaya yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad.
Pelaksanaan penelitian ini sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Semarang dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini berkontribusi terhadap SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan pengetahuan mengenai sistem kesehatan tradisional yang mendukung kesejahteraan masyarakat; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan sumber daya hayati secara bijaksana berbasis kearifan lokal; SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan spesies laut yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional; serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian tumbuhan obat dan ekosistem daratan. Melalui penelitian ini, FISIP UNNES menegaskan komitmennya untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang berpijak pada kekayaan budaya lokal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan, konservasi lingkungan, dan keberlanjutan masyarakat pesisir Indonesia.




