Eksplorasi dua hari menggabungkan fingerprint DNA, pembuatan duplikat pohon induk melalui grafting/top working, dan koleksi herbarium untuk menjaga plasma nutfah durian unggul Purworejo.
Purworejo, 1–2 Agustus 2026 | Didukung DPA FMIPA UNNES 2026

Pohon induk durian unggul di Ngaran, Kecamatan Kaligesing. Foto geotag menunjukkan lokasi pada ketinggian sekitar 551,7 mdpl. Dokumentasi tim penelitian, 2 Agustus 2026.
PURWOREJO — Tim penelitian FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan eksplorasi durian unggul Purworejo selama dua hari, 1–2 Agustus 2026, untuk penelitian “Fingerprint Durian Unggul Purworejo, Jawa Tengah”. Kegiatan yang didanai DPA FMIPA UNNES ini diarahkan untuk mengungkap keanekaragaman morfologi dan genetika durian unggul lokal sekaligus membangun dasar konservasi pohon induk dan penyediaan sumber entres yang benar identitasnya (true to type).
Eksplorasi dipimpin Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. bersama tim dosen yang terdiri atas Prof. Dr. Enni Suwarsi Rahayu, M.Si., Dr. Andin Irsadi, S.Pd., M.Si., Dra. Ely Rudyatmi, M.Si., dan Amnan Haris, S.Si., M.Ling. Lima mahasiswa Biologi yang terlibat langsung adalah Agnisa Rahmania Putri, Nada Putri Rahmawati, Anjas Firmansyah Dico Saputra, Norma Lutfiana, dan Sabrina Nur Aisyah. Di lapangan, tim dibantu petani durian setempat, pendamping lokal, dan pemilik masing-masing pohon yang menjadi sumber informasi riwayat serta keunggulan aksesi.
Pohon juara berada di medan yang tidak mudah
Kondisi lapangan menunjukkan bahwa pohon-pohon induk tunggal (PIT) durian juara tidak selalu tumbuh di tempat yang mudah dijangkau. Sebagian berada di bukit dengan lereng cukup terjal, sementara sebagian lainnya berada di lembah curam dengan perbedaan elevasi lebih dari 20 meter. Jarak antarpohon pun berjauhan; meskipun masih berada dalam kecamatan yang sama, perjalanan dari satu pohon ke pohon berikutnya dapat memerlukan waktu lebih dari 30 menit.

Pohon induk durian di Donorejo, Kecamatan Kaligesing, pada ketinggian sekitar 745,9 mdpl. Kondisi topografi dan tajuk yang tinggi menjadi tantangan utama dalam pengambilan sampel. Dokumentasi tim penelitian, 1 Agustus 2026.
PIT juara yang dikunjungi merupakan pohon berukuran sangat besar. Lingkar batangnya lebih dari 1,5 meter, umurnya diperkirakan lebih dari 75 tahun, dengan tinggi sekitar 30–40 meter. Kanopi dan ranting berdaun umumnya terkonsentrasi di bagian ujung atas. Kondisi tersebut membuat pengambilan ranting dan daun untuk DNA, herbarium, maupun entres menjadi pekerjaan yang sangat sulit.
Tim memperoleh bantuan pemanjat lokal yang berpengalaman untuk mencapai ranting produktif di bagian atas. Namun, ketersediaan peralatan keselamatan pemanjatan di lapangan masih terbatas. Situasi ini memperlihatkan bahwa eksplorasi plasma nutfah durian tua membutuhkan bukan hanya ketepatan ilmiah, tetapi juga perencanaan keselamatan lapangan yang semakin baik pada kegiatan lanjutan.

Mahasiswa melakukan dokumentasi morfologi pada salah satu pohon induk durian berbatang sangat besar. Pohon-pohon juara yang dikunjungi umumnya merupakan PIT tua yang belum memiliki duplikat memadai. Dokumentasi tim penelitian, 2026.
Satu pohon, tiga misi konservasi
Setiap pengambilan sampel dirancang agar satu kunjungan ke pohon induk menghasilkan tiga jenis material yang saling melengkapi. Pendekatan ini membuat eksplorasi tidak berhenti pada pengambilan daun untuk analisis genetika, tetapi langsung dihubungkan dengan konservasi hidup dan dokumentasi botani.
| 1 | DNA | Daun sehat dipilih untuk ekstraksi DNA dan analisis fingerprint berbasis ISSR guna memetakan keragaman genetika serta mendeteksi kemungkinan aksesi yang identik/duplikat. |
| 2 | ENTRES | Ranting sehat dikoleksi sebagai entres untuk grafting maupun top working (TW), sehingga genotipe pohon juara dapat dibuat duplikat hidup sebelum PIT asal mengalami kerusakan atau mati. |
| 3 | HERBARIUM | Ranting berdaun dan bunga, bila tersedia, disiapkan menjadi voucher herbarium untuk menambah koleksi Herbarium Semarangense di UNNES dan memperkuat dokumentasi ilmiah tiap aksesi. |

Bunga/kuncup bunga pada salah satu pohon induk yang dieksplorasi. Bila tersedia, material reproduktif ikut dikoleksi sebagai bagian dari spesimen herbarium dan karakterisasi morfologi. Dokumentasi tim penelitian, 2026.
Duplikasi pohon induk menjadi kebutuhan mendesak
Temuan penting di lapangan adalah bahwa aksesi-aksesi durian juara yang dikunjungi belum memiliki duplikat yang aman. Artinya, keunggulan suatu aksesi masih bertumpu pada satu pohon tua. Kondisi ini menempatkan plasma nutfah lokal pada risiko kehilangan yang tinggi. Pohon dapat mati akibat kekeringan, tersambar petir, mengalami kerusakan karena umur, atau pada kondisi tertentu ditebang karena kebutuhan ekonomi dan nilai kayunya.
Jika pohon induk mati sebelum identitas genetiknya direkam dan bahan vegetatifnya diperbanyak, genotipe unggul tersebut dapat hilang secara permanen. Karena itu, ranting sehat yang berhasil diperoleh dari eksplorasi segera diperlakukan sebagai sumber entres untuk grafting dan/atau top working. Dengan langkah ini, konservasi tidak hanya berbentuk data DNA, tetapi juga berupa pohon duplikat yang dapat dipelihara sebagai cadangan sumber genetik dan sumber entres masa depan.
Di sisi lain, sampel daun diseleksi untuk ekstraksi DNA dan diberi kode yang terhubung dengan data paspor, koordinat, foto, dan karakter morfologi. Integrasi data tersebut diharapkan menghasilkan fingerprint yang dapat membedakan aksesi, mengungkap pola keragaman genetika, dan membantu menetapkan pohon induk prioritas untuk konservasi.
Konservasi durian lokal dan kontribusi terhadap SDGs
Eksplorasi ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui konservasi keragaman genetik tanaman pangan dan penguatan sumber bahan tanam unggul; SDG 15 (Life on Land) melalui perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik tumbuhan; serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penyiapan bahan tanam yang dapat ditelusuri identitasnya dan dikembangkan secara bertanggung jawab.
Bagi FMIPA UNNES, penelitian ini juga memperkuat keterhubungan antara riset dasar, pendidikan lapangan mahasiswa, pengelolaan koleksi ilmiah, dan konservasi plasma nutfah. Mahasiswa tidak hanya belajar melakukan pengambilan sampel, tetapi juga menyaksikan secara langsung bahwa satu pohon tua dapat menyimpan sumber daya genetik yang belum tentu dapat digantikan apabila hilang.
“Satu pohon juara perlu diselamatkan dalam tiga bentuk: identitas DNA, voucher herbarium, dan duplikat hidup melalui perbanyakan vegetatif.”

Tim lapang bersama pendamping lokal saat eksplorasi durian unggul Purworejo. Kegiatan melibatkan dosen, mahasiswa, petani durian setempat, dan pemilik pohon. Dokumentasi tim penelitian, 2026.
Dari pohon tua menuju sumber entres masa depan
Melalui penelitian “Fingerprint Durian Unggul Purworejo, Jawa Tengah”, FMIPA UNNES berupaya memastikan bahwa durian juara Purworejo tidak berhenti sebagai cerita tentang satu pohon tua yang terkenal di suatu desa. Identitasnya perlu direkam, bukti botaniknya perlu disimpan, dan material vegetatifnya perlu diperbanyak agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar ilmiah untuk memilih aksesi unik non-duplikat, menetapkan prioritas pohon induk, memperkuat koleksi Herbarium Semarangense, serta membangun sumber entres bagi pengembangan bibit durian unggul yang true to type. Dengan demikian, eksplorasi dua hari di bukit dan lembah Purworejo menjadi langkah awal yang penting dalam menyelamatkan kekayaan genetik durian lokal Jawa Tengah.





