Raka Naufal Rabbani, siswa kelas XII SMAN 4 Kota Bekasi, Jawa Barat, meraih juara pertama Olimpiade Sejarah Nasional (OSEAN) 2026 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kompetisi ini tidak sekadar menguji penguasaan pengetahuan sejarah, tetapi juga kemampuan peserta menghubungkan peristiwa masa lalu dengan persoalan Indonesia masa kini.
OSEAN 2026 menjadi pembuka rangkaian kegiatan Bulan Pahlawan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sejarah UNNES. Tahun ini, kompetisi diikuti 133 peserta didik dari berbagai sekolah menengah atas dan sederajat di Indonesia.
Setelah melalui seleksi awal secara daring, sebanyak 20 peserta dinyatakan lolos untuk mengikuti babak berikutnya yang berlangsung di Perpustakaan Rumah Ilmu UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Sabtu (10/10/2026).Pada tahap tersebut, peserta harus menyelesaikan sejumlah soal dan mengikuti sesi pertanyaan rebutan. Dari keseluruhan tahapan seleksi, tiga peserta dengan hasil terbaik berhak melaju ke babak final.
Ketiganya adalah Raka Naufal Rabbani dari SMAN 4 Kota Bekasi, Jawa Barat; Rohim Hayat Muhayyadin dari MAN Wonogiri, Jawa Tengah; serta Fadel Muhammad El Haqi dari SMAN 1 Bumiayu, Jawa Tengah.

Berbeda dari babak sebelumnya, sesi final menuntut peserta untuk menyampaikan argumentasi dan analisis terhadap persoalan sejarah yang diajukan dewan juri. Tiga akademisi dari Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah UNNES, yakni Rizka Cahyaning Arifin Putri, Andy Suryadi, dan Mukhamad Shokheh, Ph.D., bertindak sebagai dewan juri.
Pertanyaan yang diajukan mencakup berbagai persoalan, mulai dari kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) pada masa kolonial, ketahanan pangan, sejarah korupsi di Indonesia, hingga relevansi Sumpah Pemuda dalam menghadapi tantangan generasi muda saat ini.
Dalam pembahasan mengenai tanam paksa, misalnya, finalis diminta menganalisis dampak kebijakan ekonomi kolonial terhadap kehidupan petani serta menghubungkannya dengan persoalan pertanian dan ketahanan pangan Indonesia saat ini.
Raka menyoroti pentingnya pengelolaan produksi dan distribusi pangan secara sistematis. Menurut dia, daerah yang tidak memungkinkan untuk ditanami padi perlu mengembangkan diversifikasi pangan sesuai dengan kondisi wilayahnya. Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat kemandirian pangan di tingkat daerah.
Sementara itu, Fadel menguraikan dampak kebijakan tanam paksa terhadap masyarakat pada masa kolonial. Ia menjelaskan bahwa kewajiban menanam komoditas ekspor, seperti kopi, tebu, dan nila, memberikan keuntungan ekonomi bagi pemerintah kolonial, tetapi sekaligus menambah beban kehidupan petani.
Adapun Rohim mengangkat persoalan kesinambungan praktik korupsi dari masa kolonial hingga Indonesia kontemporer. Ia membandingkan penyalahgunaan kekuasaan yang pada masa lalu berkaitan dengan kepentingan keluarga dan kelompok bangsawan dengan praktik korupsi masa kini yang melibatkan jejaring kekuasaan, jabatan, serta kepentingan kelompok.
Setelah melalui penilaian dewan juri, Raka Naufal Rabbani akhirnya dinyatakan sebagai juara pertama OSEAN 2026.
Bagi Raka, keberhasilannya dalam kompetisi tersebut tidak terlepas dari ketertarikannya terhadap sejarah sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Minat itu tumbuh melalui kegemarannya menyaksikan film dokumenter, terutama yang mengangkat sejarah Perang Dunia II. Ia juga kerap mengakses berbagai konten sejarah melalui media sosial.
Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk terus memperdalam pengetahuan sejarah, termasuk mengikuti berbagai kompetisi akademik.
Raka mengakui bahwa perjalanan menuju gelar juara tidak sepenuhnya mudah. Sejumlah materi dalam babak penyisihan menuntut kemampuan analisis yang lebih mendalam.”Beberapa persoalan sejarah yang sebelumnya belum banyak dipelajari,” ucap Raka yang datang ditemai ibunya.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi kesempatan baginya untuk memperluas wawasan sekaligus mengukur kemampuan dalam memahami sejarah. Kegiatan semacam ini dapat mendorong generasi muda untuk semakin gemar membaca, mempelajari, dan mendiskusikan berbagai persoalan sejarah,” ucap pria yang hobi membaca buku sejarah ini.
Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah UNNES, Mukhamad Shokheh, Ph.D., menjelaskan bahwa OSEAN 2026 dirancang untuk mengangkat isu-isu penting mengenai pendidikan, kepemudaan, serta berbagai tantangan Indonesia masa kini dan masa depan.
Karena itu, pertanyaan dalam babak final tidak hanya berorientasi pada penguasaan fakta dan kronologi sejarah. Peserta juga dituntut menggunakan perspektif historis untuk menganalisis persoalan kontemporer.
Isu cultuurstelsel dan ketahanan pangan, Politik Etis dan relevansinya terhadap pendidikan, serta gerakan pemuda dan kesadaran berbangsa menjadi beberapa pokok pembahasan yang diangkat dalam kompetisi tersebut.
Menurut Shokheh, ketiga finalis menunjukkan kemampuan dalam membangun argumentasi, menganalisis persoalan, dan menawarkan gagasan penyelesaian berdasarkan pemahaman sejarah yang mereka miliki. “Melalui acara ini, para pemuda diasah keterampilannya untuk berpikir kritis dan solutif dalam menjawab persoalan kekinian dengan pendekatan historis,” ujarnya.
Ia berharap OSEAN dapat terus menjadi ruang pengembangan kemampuan akademik sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya sejarah dalam memahami perjalanan bangsa.
Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak berhenti pada kemampuan mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi bekal untuk membaca persoalan masa kini dan merumuskan masa depan Indonesia.
Penyelenggaraan OSEAN 2026 sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi sejarah dan kemampuan berpikir kritis. Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan kesadaran kebangsaan dan pemahaman terhadap persoalan sosial-politik.



