Suara tawa dan tepuk tangan memenuhi malam di pelataran kompleks Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). Satu per satu kelompok mahasiswa baru Jurusan Sejarah tampil di hadapan peserta lainnya. Ada yang membawakan drama, ada pula yang memilih menari.
Malam itu menjadi salah satu rangkaian kegiatan Keakraban Mahasiswa Sejarah (KEMAS) 2026 yang diikuti 171 mahasiswa baru Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 12-13 September 2026, di kawasan Gedong Songo.
Sejak pagi, mahasiswa baru telah mengikuti rangkaian kegiatan yang disiapkan panitia. Setelah perjalanan menuju Gedong Songo dan pengondisian peserta, mereka mengikuti permainan kelompok, sesi pendampingan, serta berbagai kegiatan yang dirancang untuk membangun interaksi antarmahasiswa.
Kegiatan malam menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal satu sama lain dalam suasana yang lebih cair. Penampilan drama dan tari dari setiap kelompok tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempertemukan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah yang sebelumnya belum banyak berinteraksi.
Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah, Andy Suryadi, dalam kesempatan tersebut mengingatkan mahasiswa baru agar tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan tidak menjadikan persoalan selama menjalani perkuliahan sebagai beban yang dipendam sendiri. “Senakal-nakalnya anak, jangan kecewakan orang tua. Kalau ada kendala, komunikasikan kepada dosen,” ujar Andy.
Pesan tersebut menempatkan kegiatan keakraban bukan semata-mata sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru. KEMAS juga menjadi ruang awal untuk membangun komunikasi antara mahasiswa, kakak tingkat, dan dosen sehingga mahasiswa memiliki lingkungan pendukung ketika mulai menjalani kehidupan akademik.
Pada hari kedua,peserta mengikuti kegiatan tracking selama lima jam, mulai pukul 08.15 hingga 13.15. Mereka berjalan dari satu pos ke pos lainnya yang berada di kawasan kompleks Candi Gedong Songo. Sebanyak lima pos disiapkan panitia dengan aktivitas yang berbeda.
Di Pos 1, mahasiswa mendapatkan pengenalan dan promosi Exsara. Pos 2 diisi permainan tebak kata, sedangkan Pos 3 menjadi ruang pengenalan dan promosi HSC. Di Pos 4, peserta mengikuti permainan estafet paralon. Sementara itu, Pos 5 yang dikelola Disman diisi kegiatan bercerita sekaligus pengungkapan identitas komdis.
Peserta mengikuti tracking secara berkelompok. Mereka tidak hanya dituntut menyelesaikan permainan, tetapi juga bekerja sama dengan anggota kelompok sepanjang perjalanan dari satu pos ke pos berikutnya. Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi bagian yang paling berkesan dari KEMAS 2026.
Muhammad Falakh Ainnan Dani Bondan Pralampito, mahasiswa Pendidikan Sejarah 1B, menilai KEMAS memberikan pengalaman yang menarik meskipun cukup melelahkan. “KEMAS ini lumayan bagus dari berbagai sisi, tetapi juga sangat melelahkan. Makanannya enak. Saat malam jelas dingin karena wilayahnya memang dingin. Saat kegiatan, terutama olahraga atau permainan, itu asyik,” katanya.
Ia berharap kegiatan KEMAS pada tahun berikutnya dapat dipersiapkan dengan lebih baik, terutama dari sisi perlengkapan dan persiapan kegiatan.
Sementara itu, Safira Bintang Octa Ferdiansyah, mahasiswa Ilmu Sejarah 1A, merasakan pengalaman berbeda. Menurut dia, proses keakraban bahkan sudah dimulai sejak perjalanan menuju Gedong Songo.“Seru banget. Dari awal sudah mulai akrab dengan kakak-kakak panitia. Dari mau berangkat ke Gedong Songo sudah satu kelompok. Terus saat acara dimulai ada games, senam, pokoknya seru banget,” ujar Safira.
Menurut Safira, kegiatan tersebut membuat mahasiswa dari Program Studi Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah dapat lebih mengenal satu sama lain, termasuk dengan mahasiswa yang sebelumnya tidak berada dalam satu rombongan belajar.
Ia berharap KEMAS 2027 dapat mempertahankan suasana keakraban yang telah dibangun sekaligus meningkatkan pengelolaan kegiatan, terutama efisiensi waktu.
Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Mukhamad Shokheh, Ph.D., mengatakan kegiatan tahunan ini merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru.“Kegiatan KEMAS ini sebagai langkah awal untuk saling mengenal, beradaptasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap almamater Jurusan Sejarah,” kata Shokheh.
Ia mengajak mahasiswa baru untuk mulai mengenal lingkungan akademiknya secara menyeluruh. Tidak hanya mengenal teman seangkatan, mahasiswa juga perlu mengenal dosen, kakak tingkat, kurikulum, laboratorium, perpustakaan, organisasi mahasiswa, serta berbagai peluang akademik yang tersedia.“Mulailah beradaptasi dan mengenal jurusan ini dengan sepenuh hati. Jangan takut bertanya, jangan malu mencoba, dan jangan ragu bekerja sama. Rawat keakraban, dan tanamkan cinta pada ilmu sejarah,” ujarnya.
Rangkaian KEMAS 2026 ditutup dengan kegiatan awards serta penyampaian kesan dan pesan dari peserta. Sebelum meninggalkan Gedong Songo, mahasiswa dan panitia juga melakukan foto bersama sebagai penanda berakhirnya kegiatan keakraban tersebut.
Lebih dari sekadar kegiatan penyambutan, KEMAS menjadi pintu awal bagi seluruh mahasiswa baru untuk memasuki lingkungan akademik sejarah. Dari permainan, perjalanan menyusuri kawasan candi, hingga penampilan di malam keakraban, mereka mulai membangun relasi yang kelak menjadi bagian dari perjalanan selama menempuh pendidikan di Jurusan Sejarah.
Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan mendukung perkembangan mahasiswa. Interaksi antarmahasiswa, pendampingan, kerja sama kelompok, serta pengenalan lingkungan akademik menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kemampuan sosial dan rasa memiliki terhadap komunitas pendidikan.




