Pembelajaran sejarah di sekolah masih kerap identik dengan hafalan tanggal, nama tokoh, dan rangkaian peristiwa. Namun, bagi siswa, sejarah dapat menjadi lebih bermakna ketika guru mampu menghubungkan materi di buku dengan kehidupan yang mereka jumpai sehari-hari.
Hal itu ditemukan dalam penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 2 Semarang pada 19 Mei 2026. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana pengetahuan sejarah dibentuk dalam pembelajaran IPS melalui hubungan antara kurikulum, buku teks, guru, dan pengalaman belajar siswa.
Mahasiswa S2 Pendidikan IPS, Dhoni Frizky Aryasahab, sebagai peneliti, mengatakan pengetahuan sejarah yang diterima siswa tidak secara langsung berasal dari buku teks. “Pengetahuan sejarah bukan sekadar materi yang ditransmisikan dari buku kepada siswa. Ada proses ketika kurikulum menentukan pengetahuan yang dianggap penting, buku teks merepresentasikannya, kemudian guru merekonstruksi dan mengontekstualisasikannya dalam pembelajaran,” kata Dhoni.
Penelitian Dhoni menunjukkan, buku teks IPS kelas VIII memang menjadi salah satu sumber utama pembelajaran. Buku tersebut membantu siswa memahami alur peristiwa secara sistematis melalui penyajian kronologis, latar belakang, proses kejadian, tokoh, dan dampak suatu peristiwa.
Namun, penyajian dalam buku teks masih lebih banyak memberikan perhatian pada peristiwa besar, tokoh nasional, perkembangan politik, dan perubahan sosial dalam skala luas. Perspektif kelompok masyarakat tertentu dan narasi alternatif masih mendapatkan ruang yang terbatas.
Karena itu, guru memiliki posisi penting sebagai penghubung antara pengetahuan yang tersedia dalam buku dan pengalaman siswa. Dalam pengamatan terhadap pembelajaran IPS kelas VIII I SMP Negeri 2 Semarang, guru menggunakan buku teks sebagai sumber utama, tetapi tidak bergantung sepenuhnya pada isinya.
Guru memberikan penjelasan tambahan, menghubungkan materi sejarah dengan fenomena sosial di sekitar siswa, dan menggunakan pertanyaan reflektif untuk membantu siswa memahami makna suatu peristiwa. Guru IPS SMPN 2 Semarang, Rositawati, mengatakan pendekatan tersebut diperlukan agar siswa tidak berhenti pada pemahaman informasi dasar.“Saya tidak hanya menggunakan buku paket karena kalau hanya membaca buku siswa biasanya mereka hanya memahami informasi dasarnya saja. Saya mencoba menghubungkan materi dengan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka supaya siswa memahami makna dari suatu peristiwa sejarah,” ujar Rositawati.
Menurut Dhoni, pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa guru bukan sekadar penyampai isi kurikulum. Guru menjadi aktor yang menafsirkan dan merekonstruksi pengetahuan sejarah sesuai dengan tujuan pembelajaran serta pengalaman peserta didik. “Ketika pengetahuan sejarah berpindah dari kurikulum dan buku teks ke ruang kelas, terjadi proses rekonstruksi. Guru menentukan bagaimana sebuah narasi diperkenalkan, bagian mana yang diberi penekanan, dan bagaimana siswa diarahkan untuk memaknainya,” ujar Dhoni.
Perubahan pendekatan pembelajaran tersebut juga terlihat dari pengalaman siswa. Penelitian menemukan bahwa sebagian siswa mulai mengubah cara pandangnya terhadap sejarah.
Salah seorang siswa yang diwawancarai mengatakan, pada awalnya sejarah dipahami sebagai pelajaran untuk menghafalkan tanggal dan nama tokoh. Setelah mengikuti pembelajaran IPS, siswa mulai memahami alasan terjadinya sebuah peristiwa dan pengaruhnya terhadap kehidupan sekarang.
Bagi Dhoni, perubahan tersebut penting karena menunjukkan berkembangnya pemahaman historis siswa. Sejarah tidak lagi ditempatkan semata sebagai kumpulan fakta masa lalu, tetapi sebagai proses yang memiliki hubungan dengan perubahan sosial dan kehidupan masyarakat pada masa kini.“Yang ingin dibangun bukan hanya kemampuan siswa mengingat apa yang terjadi, tetapi memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, bagaimana perubahan berlangsung, dan apa kaitannya dengan kehidupan mereka sekarang,” katanya.
Temuan penelitian menunjukkan pemahaman historis siswa terbentuk melalui interaksi antara materi pembelajaran, penjelasan guru, aktivitas kelas, dan pengalaman belajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi membangun pemahaman berdasarkan pengalaman mereka dalam proses pembelajaran.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan Analisis Wacana Foucauldian itu menemukan adanya rangkaian proses dalam pembentukan pengetahuan sejarah. Dhoni menyebut rangkaian tersebut sebagai Historical Knowledge Construction Chain in Social Studies Learning. Model itu terdiri dari empat tahapan, yakni produksi pengetahuan sejarah resmi melalui kurikulum, representasi wacana sejarah dalam buku teks, rekonstruksi oleh guru melalui praktik pedagogi, dan pemaknaan historis oleh siswa. “Pengetahuan sejarah dibentuk melalui proses yang berlapis. Kurikulum menentukan pengetahuan yang dilegitimasi, buku teks memberikan representasi, guru melakukan rekonstruksi, dan pada akhirnya siswa membangun makna berdasarkan pengalaman belajarnya,” jelas lulusan S1 Pendidian Sejarah ini.
Temuan itu, menurut Lelaki asal Kabupaten Brebes ini, menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah merupakan proses sosial. Pengetahuan sejarah tidak berhenti ketika materi ditulis dalam kurikulum atau buku teks, tetapi terus diproduksi dan dimaknai ketika berada dalam praktik pembelajaran.
Penelitian tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran guru dalam mengembangkan pembelajaran sejarah yang kritis, kontekstual, dan multiperspektif. Penggunaan buku teks tetap penting sebagai dasar pembelajaran, tetapi guru memiliki ruang untuk memperkaya materi melalui pengalaman siswa dan lingkungan sosial di sekitar mereka.
Dengan demikian, pembelajaran sejarah di sekolah tidak semata-mata mengajak siswa menjawab pertanyaan tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Lebih jauh, pembelajaran dapat mengajak siswa memahami mengapa peristiwa terjadi, bagaimana perubahan berlangsung, dan mengapa masa lalu masih memiliki arti bagi kehidupan mereka hari ini.
Temuan penelitian ini juga berkontribusi pada pencapaian SDG 4 (Pendidikan Bermutu) melalui penguatan pembelajaran sejarah yang kontekstual, kritis, dan berorientasi pada pemahaman, bukan sekadar hafalan. Pendekatan tersebut mendorong siswa menghubungkan pengetahuan masa lalu dengan kehidupan sosial masa kini sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mendukung pengembangan kemampuan berpikir historis.




