Keberagaman budaya di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi titik berangkat penelitian Didik Tri Setiyoko dalam menyusun disertasi doktoralnya. Berangkat dari realitas masyarakat Jawa-Sunda (Jasun) di Kabupaten Brebes, Didik mengembangkan komik pendidikan multikultural sebagai media pembelajaran untuk menanamkan sikap toleransi sejak usia sekolah dasar.
Penelitian tersebut mengantarkannya meraih gelar Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dalam sidang promosi doktor, Didik mempertahankan disertasi berjudul Pengembangan Komik Pendidikan Multikultural pada Masyarakat Jawa Sunda (Jasun) di Sekolah Dasar untuk Membentuk Sikap Toleransi.
Penelitian itu berangkat dari temuan bahwa sekolah dasar di wilayah perbatasan masih menghadapi keterbatasan bahan ajar yang mampu merepresentasikan keragaman budaya lokal sekaligus menanamkan nilai toleransi kepada peserta didik. Komik dipilih bukan sekadar sebagai media hiburan, melainkan sebagai sarana pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak, tutur Didik, Rabu, lima Agustus, di Aula FISIP, Sekaran, Gunungpati, Semarang.
Cerita, ilustrasi, dan dialog dalam komik dirancang untuk memperlihatkan interaksi masyarakat Jawa dan Sunda yang hidup berdampingan sehingga peserta didik dapat memahami keberagaman melalui pengalaman yang kontekstual. Nilai-nilai lokal seperti unggah-ungguh, sabilulungan, gotong royong, serta saling menghormati menjadi fondasi utama dalam penyusunan alur cerita.

Komik yang dikembangkan menghadirkan tokoh-tokoh dengan latar budaya berbeda sebagai representasi kehidupan masyarakat Jasun. Melalui interaksi antartokoh, peserta didik diajak memahami bahwa perbedaan bahasa, kebiasaan keluarga, maupun tradisi bukanlah sumber konflik, melainkan kekayaan sosial yang dapat memperkuat kebersamaan.
Pendekatan tersebut disusun berdasarkan Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura yang menekankan pentingnya proses belajar melalui pengamatan terhadap perilaku tokoh atau role model. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan komik pendidikan multikultural mampu meningkatkan sikap toleransi peserta didik.
Pada kelas yang menggunakan media komik, skor rata-rata sikap toleransi meningkat dari 29,57 menjadi 34,80. Sementara itu, kelas yang menggunakan pembelajaran biasa hanya mengalami peningkatan dari 29,37 menjadi 30,73. Temuan tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis budaya lokal dapat memberikan dampak nyata terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Ketua Tim Penguji, Prof. Heri Cahyono, memberikan sejumlah masukan terhadap pengembangan komik tersebut. Ia menilai integrasi budaya dalam cerita telah menjadi kekuatan utama penelitian, namun masih dapat diperkaya melalui penguatan karakter tokoh.
Menurutnya, tokoh utama seperti Sekar dan Wira perlu memiliki representasi budaya yang semakin kuat, baik melalui kostum simbolik, penggunaan bahasa, maupun latar keluarga yang berbeda budaya. Selain itu, tokoh-tokoh yang dihadirkan perlu semakin menonjolkan nilai-nilai positif agar menjadi teladan bagi peserta didik.
Prof. Heri juga menyoroti pemilihan sasaran penelitian pada siswa kelas V sekolah dasar. Menurut penjelasan peneliti, kelas tersebut dipilih karena memiliki kelas paralel sehingga memudahkan pelaksanaan penelitian eksperimen antara kelas perlakuan dan kelas pembanding.
Dalam sidang tersebut, Didik dinyatakan lulus sebagai Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Ia menjadi doktor ke-15 yang diluluskan Program Doktor PIPS FISIP UNNES dengan masa studi 3 tahun 11 bulan. Disertasinya memperoleh nilai A, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,60.
Promotor, Prof. Eva Banowati, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Didik selama menjalani studi doktoral. Menurutnya, semangat belajar, kedisiplinan mengikuti arahan selama proses bimbingan, serta kegigihan menempuh perjalanan dari Brebes ke Semarang menjadi bukti komitmen Didik dalam menyelesaikan penelitian.”Selama proses bimbingan, Didik menunjukkan semangat belajar yang sangat baik. Perjuangannya bolak-balik dari Brebes ke Semarang menunjukkan kesungguhan sebagai pembelajar. Semoga semangat belajar itu terus dibawa, meskipun kini telah menyandang gelar doktor,” ujar Prof. Eva.
Penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan media pembelajaran yang inklusif dan kontekstual, serta Tujuan 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dengan menanamkan nilai toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan budaya hidup damai sejak usia sekolah dasar. Melalui pendidikan yang berakar pada kearifan lokal, komik multikultural tersebut diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam membentuk generasi yang mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.




