Pati – Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan kegiatan observasi lapangan selama tiga hari, 15–17 Juli 2026, di komunitas Sedulur Sikep, Desa Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kegiatan penelitian ini merupakan bagian dari penguatan pembelajaran berbasis lapangan yang bertujuan memahami praktik etnopedagogi, ketahanan pangan, pelestarian budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Sedulur Sikep.
Observasi dilakukan oleh tim mahasiswa bersama dosen pembimbing melalui pendekatan partisipatif dengan tinggal bersama keluarga Sedulur Sikep, mengikuti aktivitas keseharian masyarakat, melakukan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), serta mengamati proses pembelajaran di Rumah Kendeng. Selama berada di lapangan, mahasiswa diterima dan didampingi oleh keluarga Bu Gunarti dan Pak Kukoh yang memperkenalkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Sedulur Sikep, mulai dari sistem pertanian, tradisi, hingga filosofi hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah praktik pendidikan berbasis komunitas yang berlangsung di Rumah Kendeng. Tempat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar membaca dan menulis, tetapi juga menjadi pusat pewarisan nilai-nilai budaya, pembelajaran aksara Jawa, penguatan karakter, serta pendidikan moral bagi anak-anak Sedulur Sikep. Dalam proses belajar, anak-anak diajarkan tembang Jawa, aksara Jawa, tata krama, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kerukunan, kesabaran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Mahasiswa juga mengikuti secara langsung aktivitas pertanian bersama masyarakat. Mereka terlibat dalam penyiraman tanaman, perawatan kebun, hingga berdiskusi mengenai strategi ketahanan pangan yang diterapkan Sedulur Sikep. Masyarakat menjelaskan bahwa hasil panen tidak hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga dikelola melalui sistem lumbung pangan bersama sebagai bentuk solidaritas komunitas ketika menghadapi masa sulit. Praktik tersebut menunjukkan bagaimana nilai gotong royong dan pengelolaan sumber daya lokal menjadi fondasi ketahanan pangan masyarakat.
Selain mengamati kehidupan pertanian, tim peneliti juga mempelajari sejarah perjuangan masyarakat Sedulur Sikep dalam menjaga kelestarian Pegunungan Kendeng. Rumah Kendeng dibangun tanpa menggunakan semen sebagai simbol penolakan terhadap pembangunan pabrik semen yang dinilai berpotensi merusak lingkungan. Bangunan tersebut kini berkembang menjadi ruang pendidikan, musyawarah, sekaligus pusat pelestarian nilai-nilai budaya dan lingkungan hidup. Di dalamnya terdapat 64 kendi yang masing-masing merepresentasikan sumber mata air di kawasan Kendeng sebagai simbol pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Selama observasi, mahasiswa juga melaksanakan Focus Group Discussion bersama remaja Sedulur Sikep untuk memahami proses pewarisan pengetahuan antargenerasi, penggunaan teknologi digital, serta cara generasi muda mempertahankan identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Hasil diskusi menunjukkan bahwa meskipun telah mengenal media sosial dan teknologi digital, generasi muda Sedulur Sikep tetap mempertahankan nilai-nilai utama komunitas, terutama dalam menghormati alam, bekerja sebagai petani, serta menjaga tradisi yang diwariskan orang tua.
Kegiatan observasi lapangan ini memberikan pengalaman belajar yang autentik bagi mahasiswa untuk memahami bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hidup dalam praktik sosial masyarakat. Melalui interaksi langsung dengan komunitas, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya etnopedagogi sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal, karakter, dan keberlanjutan lingkungan dalam proses pendidikan.
Kegiatan penelitian tersebut juga memperkuat komitmen FISIP UNNES dalam mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan sosial yang kontekstual. Pengalaman lapangan di Sedulur Sikep diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam membangun perspektif akademik yang lebih inklusif, humanis, serta responsif terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Pelaksanaan observasi ini sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Semarang dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan tersebut berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman dan pelestarian pengetahuan lokal; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya menjaga warisan budaya dan identitas masyarakat adat; SDG 13 (Climate Action) melalui pembelajaran mengenai konservasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan; serta SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan kesadaran terhadap perlindungan ekosistem dan kelestarian kawasan Pegunungan Kendeng. Melalui kegiatan ini, FISIP UNNES kembali menegaskan perannya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap budaya, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.







