Semarang – Upaya memperkuat literasi perubahan iklim di lingkungan sekolah terus dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Melalui penelitian yang diketuai oleh Fredy Hermanto, S.Pd., M.Pd., tim peneliti menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Pendidikan Iklim di Sekolah Kabupaten Semarang melalui Modul Kokurikuler tentang Jejak Karbon” pada 21 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kabupaten Semarang ini diikuti oleh guru-guru IPS dari berbagai SMP di Kabupaten Semarang sebagai upaya meningkatkan kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam proses pembelajaran.
Kegiatan ini dirancang sebagai forum pendampingan bagi para guru untuk menyusun modul kokurikuler berbasis pendidikan iklim yang dapat diterapkan di sekolah. Selama pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep jejak karbon (carbon footprint), keterkaitannya dengan aktivitas manusia sehari-hari, serta dampaknya terhadap perubahan iklim global. Selain itu, tim peneliti juga memperkenalkan pendekatan action-oriented learning, yaitu strategi pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan konsep, tetapi juga mendorong peserta didik melakukan aksi nyata dalam membangun perilaku ramah lingkungan.
Ketua tim peneliti, Fredy Hermanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pendidikan iklim perlu menjadi bagian integral dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) karena perubahan iklim merupakan persoalan sosial sekaligus lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis generasi muda melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan aplikatif.
“Siswa perlu diajak memahami keterkaitan antara perubahan iklim dan aktivitas sehari-hari dengan dampak lingkungan yang lebih luas. Tujuan kegiatan ini adalah membantu bagaimana pembelajaran IPS dapat dipadukan dengan pemahaman konsep jejak karbon sehingga dapat diterapkan menjadi kebiasaan positif siswa melalui kegiatan kokurikuler,” ujar Fredy.
Dalam sesi pendampingan, para guru tidak hanya mempelajari konsep pendidikan iklim, tetapi juga menyusun rancangan modul kokurikuler yang dapat diimplementasikan di sekolah masing-masing. Modul tersebut dirancang agar mampu menghubungkan materi IPS dengan praktik sederhana yang dapat dilakukan siswa, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga melakukan aksi penghijauan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi, lokakarya, dan berbagi pengalaman antarguru mengenai tantangan mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam pembelajaran. Berbagai masukan dari peserta menjadi bagian penting dalam penyempurnaan model modul kokurikuler sehingga sesuai dengan karakteristik siswa SMP dan kebutuhan sekolah di Kabupaten Semarang.
Ketua MGMP IPS Kabupaten Semarang menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan tim peneliti FISIP UNNES. Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat dibutuhkan oleh para guru untuk memperkuat kompetensi dalam mengajarkan isu perubahan iklim kepada peserta didik.
“Kami membutuhkan pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru IPS agar mereka mampu mengintegrasikan pendidikan iklim kepada siswa dengan lebih baik. Melalui penguatan kapasitas ini, guru diharapkan dapat membimbing siswa memahami isu perubahan iklim sekaligus menanamkan kesadaran dan praktik keberlanjutan yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka di masa mendatang,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas guru, penelitian ini diharapkan menghasilkan model pembelajaran yang relevan dengan tantangan global sekaligus mudah diimplementasikan di sekolah. Modul kokurikuler yang dikembangkan diharapkan menjadi salah satu instrumen pembelajaran yang mampu membangun kesadaran lingkungan sejak dini, sekaligus memperkuat peran pendidikan dalam membentuk generasi yang peduli terhadap keberlanjutan bumi.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Semarang dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual, SDG 13 (Climate Action) dengan meningkatkan literasi serta aksi nyata terkait perubahan iklim di lingkungan sekolah, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP IPS Kabupaten Semarang dalam mengembangkan inovasi pendidikan yang berdampak bagi masyarakat. Melalui sinergi tersebut, FISIP UNNES terus memperkuat perannya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi tantangan pembangunan berkelanjutan.




