Peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) mengkaji bagaimana pengetahuan lokal, spiritualitas, dan kelembagaan masyarakat membentuk tata kelola air di Desa Nyatnyono, Kabupaten Semarang.
Penelitian yang dilaksanakan pada 22 Juni 2026 tersebut dipimpin oleh Dr. Gunawan, M.Hum., bersama Moh Yasir Alimi, S.Ag., M.A., Ph.D. dan Dr. Kuncoro Bayu Prasetyo, S.Ant., M.A.
Penelitian ini berfokus pada cara masyarakat memahami, mengelola, dan menjaga sumber-sumber air lokal, terutama mata air yang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan dan budaya masyarakat.
“Di beberapa wilayah, termasuk Nyatnyono, air dimaknai tidak hanya sebagai sumber daya ekologis untuk pemenuhan kebutuhan harian, tetapi juga sebagai entitas sakral yang harus dijaga keberlanjutannya,” kata Gunawan.
Menurut Gunawan, pemaknaan spiritual terhadap air turut memengaruhi cara masyarakat menggunakan, mendistribusikan, dan menjaga sumber air tersebut.
“Konteks spiritualitas inilah yang membentuk tata kelola penggunaan air, persepsi kesucian, hingga mekanisme distribusinya oleh lembaga lokal,” ujarnya.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, tim peneliti FISIP UNNES melakukan observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat dan pengelola lokal, serta mengamati praktik ritual dan aktivitas ekonomi yang berkembang di sekitar mata air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola air di Nyatnyono berkaitan erat dengan praktik sosial dan budaya masyarakat. Mata air tidak hanya menopang kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki peran dalam aktivitas keagamaan dan wisata religi.
Aktivitas tersebut turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi warga yang menggantungkan sebagian penghasilannya pada kunjungan peziarah dan wisatawan.
Di sisi lain, masyarakat tetap mempertahankan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan mata air.
“Selama ini kami menjaga mata air dan tradisi spiritual ini secara turun-temurun berdasarkan ajaran leluhur,” ujar salah seorang warga.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi bagian penting dalam tata kelola lingkungan. Nilai budaya dan pengetahuan masyarakat tidak selalu bertentangan dengan pembangunan modern, tetapi justru dapat memperkuat upaya pelestarian sumber daya alam.
Tim FISIP UNNES juga menemukan bahwa kelembagaan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Melalui integrasi kearifan lokal dan tata kelola desa yang solid, masyarakat tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memetik manfaat ekonomi dan spiritual secara seimbang,” kata Gunawan.
Bagi FISIP UNNES, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian antropologi lingkungan, pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, dan pembangunan berkelanjutan.



