Semarang — Upaya pencegahan stunting berbasis komunitas terus diperkuat melalui pemanfaatan lahan tidur menjadi sumber pangan bergizi bagi keluarga. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Kapasitas Dasawisma 02 RT 07 Mangunsari Kota Semarang dalam Pencegahan Stunting melalui Pengembangan Warung Hidup sebagai Gerakan Makan Bergizi Berbasis Komunitas” yang dilaksanakan bersama Dasawisma 02 Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, sepanjang Mei 2026.
Kegiatan yang dikoordinasikan Dr. Kuncoro Bayu Prasetyo, S.Ant., M.A. tersebut menyasar 19 keluarga atau ibu rumah tangga anggota Dasawisma 02 serta warga lingkungan RT 007 RW 04 Kelurahan Mangunsari. Program diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif, sekaligus membangun gerakan pencegahan stunting yang dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Program diawali dengan sosialisasi pada 2 Mei 2026, kemudian dilanjutkan dengan penyiapan dan penataan lahan pada 9 Mei, pengadaan bibit pada 13 Mei, kerja bakti penataan kebun pada 14 Mei, serta penanaman dan pemagaran pada 23 Mei 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan “Kebun Gizi Dawis 2”, yang dikembangkan sebagai ruang budidaya tanaman pangan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari warga.
Berbagai jenis tanaman sayuran dan pangan ditanam di kebun tersebut, antara lain timun, tomat, terong, pare, cabai, sawi, pakcoy, kangkung, bayam, kemangi, kacang panjang, seledri, dan serai. Keberagaman tanaman tersebut diharapkan dapat menyediakan bahan pangan yang lebih mudah dijangkau oleh keluarga sekaligus mendorong kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi yang bersumber dari lingkungan sekitar.
Pengelolaan kebun dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan anggota Dasawisma melalui pembagian jadwal perawatan secara bergilir. Pola tersebut dirancang agar kebun tidak berhenti sebagai hasil kegiatan pengabdian, tetapi berkembang menjadi aset bersama yang dapat dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Koordinator kegiatan menjelaskan bahwa pengembangan kebun gizi tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan lahan, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar mampu membangun sistem pemenuhan pangan dan edukasi gizi di tingkat keluarga.
“Melalui penguatan kapasitas dasawisma, pemanfaatan lahan pekarangan, serta edukasi gizi berbasis komunitas, program ini mendorong ketahanan pangan keluarga, pencegahan stunting, penataan lahan tidur untuk mendukung tata kota dan permukiman yang lebih baik, serta pembangunan komunitas yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan warga menjadi faktor penting agar manfaat program dapat bertahan setelah kegiatan pengabdian selesai. Pengelolaan yang dilakukan secara bersama diharapkan menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memastikan kebun terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Yang kami bangun bukan hanya kebunnya, tetapi juga sistem pengelolaannya. Ketika warga terlibat sejak perencanaan, penataan, penanaman hingga perawatan, maka rasa memiliki terhadap program akan tumbuh dan keberlanjutannya menjadi lebih kuat,” tambahnya.
Ketua Dasawisma 02, Ratna Sari Dewi, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, keberadaan kebun memberikan manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga membantu memperbaiki kondisi lingkungan yang sebelumnya kurang tertata.
“Kami senang dengan adanya program ini karena lahan yang sebelumnya terbengkalai sekarang menjadi lebih rapi, lebih hijau, dan tentunya bermanfaat untuk pemenuhan pangan keluarga,” ujar Ratna.
Pengembangan Kebun Gizi Dawis 2 juga menunjukkan bahwa pencegahan stunting dapat dilakukan melalui langkah sederhana yang berbasis pada potensi lingkungan dan keterlibatan masyarakat. Pemanfaatan lahan tidur menjadi kebun produktif memungkinkan keluarga memperoleh sumber pangan dari lingkungan sendiri, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pola makan bergizi.
Lebih jauh, program tersebut memperkuat peran ibu rumah tangga dan kelompok Dasawisma sebagai penggerak perubahan di tingkat komunitas. Melalui keterlibatan langsung dalam perencanaan, budidaya, dan perawatan kebun, perempuan tidak hanya berperan dalam pengelolaan pangan keluarga, tetapi juga dalam pengambilan keputusan dan pengorganisasian kegiatan yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Inisiatif tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan ketahanan pangan dan akses terhadap sumber pangan keluarga; SDG 3: Good Health and Well-being melalui upaya peningkatan kualitas gizi dan pencegahan stunting; serta SDG 5: Gender Equality melalui penguatan peran dan kapasitas perempuan, khususnya anggota Dasawisma, dalam pengelolaan sumber daya dan pembangunan kesehatan keluarga.
Melalui pengembangan kebun gizi berbasis komunitas, lahan yang sebelumnya tidak produktif diubah menjadi ruang hijau yang menghasilkan pangan sekaligus menjadi sarana pembelajaran masyarakat. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan, kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan keberlanjutan lingkungan dapat dibangun secara bersamaan dari tingkat komunitas.







