Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) bersama Universiti Malaya memperkuat kolaborasi internasional dalam isu pengurangan ketimpangan sosial bagi penyandang disabilitas.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Simposium Kelestarian Pendidikan Inklusif Antarbangsa (SKPIA) yang berlangsung di Ruang The Cube, Fakulti Pendidikan Universiti Malaya, Selasa (19/5). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik lintas negara mengenai tantangan kesetaraan akses dan partisipasi kelompok disabilitas dalam kehidupan sosial.
Forum internasional ini diikuti oleh akademisi dan mahasiswa dari kedua institusi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari riset kolaboratif antara FISIP UNNES dan Fakulti Pendidikan Universiti Malaya.
Dalam simposium tersebut, tim FISIP UNNES mempresentasikan penelitian bertajuk “How the Implementation of Inclusive Education Shapes Students’ Civic Intelligence.” Kajian ini menyoroti bagaimana ketimpangan terhadap penyandang disabilitas masih menjadi persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
Melalui penguatan nilai empati, solidaritas sosial, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman, masyarakat diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih terbuka, nondiskriminatif, dan setara bagi seluruh kelompok, termasuk penyandang disabilitas.
Diskusi dalam forum tersebut juga menegaskan bahwa pengurangan ketimpangan tidak hanya berkaitan dengan akses layanan. Isu ini juga berkaitan dengan perubahan cara pandang sosial terhadap kelompok rentan.
Akademisi dari kedua universitas menekankan pentingnya membangun ruang sosial yang memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas. Kesempatan tersebut diperlukan agar penyandang disabilitas dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat.
Pihak Universiti Malaya diwakili oleh Assoc. Prof. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung dari Department of Educational Psychology and Counselling, Faculty of Education, Universiti Malaya.
Sementara itu, tim dari FISIP UNNES terdiri atas Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., Dr. Tutik Wijayanti, S.Pd., M.Pd., Didi Pramono, S.Pd., M.Pd., Moh. Farizqo Irvan, S.Pd., M.Pd., dan Hendri Irawan, S.Pd., M.A.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring akademik global. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial.
Sebagai salah satu universitas terbaik dunia dengan posisi peringkat 58 QS World University Rankings, Universiti Malaya menjadi mitra penting bagi FISIP UNNES. Kemitraan ini mendukung pengembangan riset internasional dan pertukaran gagasan lintas negara.
Kehadiran mahasiswa dalam forum ini turut memperluas wawasan global mengenai isu ketimpangan sosial dan inklusivitas di masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung penguatan nilai kesetaraan, penghargaan terhadap keberagaman, serta pengembangan ruang sosial yang lebih inklusif dan nondiskriminatif.
Melalui kegiatan ini, FISIP UNNES dan Universiti Malaya diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi akademik internasional. Kerja sama ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengurangan ketimpangan sosial bagi penyandang disabilitas.




