Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) terus memperkuat komitmennya dalam membangun pendidikan inklusif. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kuliah Tamu Mata Kuliah Pendidikan Inklusi dan Gender Equality yang digelar pada Jumat, 5 Juni 2026, di Gedung A.T. Soegito Lantai 3.
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Yayasan Sahabat Mata Semarang, Basuki, sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi pengalaman dan perspektif mengenai pentingnya pendidikan inklusif, kesetaraan gender, serta akses yang setara bagi seluruh warga negara.
Kuliah tamu diikuti oleh mahasiswa peserta Mata Kuliah Pendidikan Inklusi dan Gender Equality yang diampu Dr.sos. Puji Lestari, M.Si. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan tentang tantangan yang dihadapi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Mereka juga diajak memahami pentingnya menghargai keberagaman, menjunjung kesetaraan hak, dan membuka akses yang sama bagi semua kalangan.
Sebagai pegiat isu inklusi sosial, Basuki menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang yang ramah bagi setiap individu tanpa diskriminasi. Menurutnya, setiap orang berhak memperoleh kesempatan yang sama, terlepas dari kondisi fisik, gender, latar belakang sosial, maupun identitas lainnya.
Dalam sesi diskusi, Basuki membagikan pengalamannya sebagai penyandang disabilitas netra yang aktif memperjuangkan aksesibilitas dan pemberdayaan difabel. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi penyandang tunanetra tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan akses fisik, tetapi juga stigma sosial yang masih berkembang di masyarakat.
Ia menilai masyarakat sering memandang penyandang tunanetra dalam dua sudut yang berlawanan. Di satu sisi, terdapat ekspektasi yang terlalu tinggi yang mengharapkan penyandang tunanetra mampu mencapai prestasi luar biasa seperti figur publik terkenal. Di sisi lain, masih ada anggapan bahwa penyandang tunanetra tidak mampu berkontribusi dan hanya menjadi beban. Menurutnya, kedua pandangan tersebut sama-sama dapat menghambat terwujudnya masyarakat yang benar-benar inklusif.
Materi mengenai pendidikan inklusif, aksesibilitas, dan pemberdayaan difabel mendapat perhatian khusus dari Andriyanto, S.Pd., M.Pd., mahasiswa Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (S3 P.IPS) UNNES. Di lingkungan perkuliahannya, Andriyanto dikenal dengan julukan “Pak Braille” karena ketertarikannya yang kuat pada literasi Braille sebagai fokus penelitian disertasinya.
Menurut Andriyanto, pengalaman yang dibagikan Basuki membuka perspektif baru dalam memahami kehidupan penyandang disabilitas netra secara lebih utuh. Ia menilai pemberdayaan penyandang disabilitas perlu dibangun melalui kesempatan yang setara, bukan melalui belas kasihan maupun tuntutan yang berlebihan.
Pengalaman pribadi Andriyanto juga menunjukkan bagaimana keterbatasan dapat diubah menjadi peluang yang produktif. Berbekal jiwa kewirausahaan yang telah tumbuh sejak menempuh pendidikan magister, ia pernah membiayai studi S2 secara mandiri melalui usaha produksi batako dan paving.
Saat ini, selama menjalani studi doktoral di UNNES, Andriyanto mengembangkan usaha percetakan buku Braille. Dalam satu tahun terakhir, usaha tersebut menghasilkan penjualan bernilai ratusan juta rupiah. Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk membiayai studinya sekaligus memperluas akses bahan bacaan bagi penyandang disabilitas netra.
Bagi Andriyanto, kewirausahaan tidak sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga upaya menghadirkan solusi atas persoalan yang ada di masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan kelompok difabel perlu diarahkan pada penguatan kapasitas dan kemandirian.
Komitmennya dalam pengembangan buku Braille mendapat respons positif dari berbagai lembaga pendidikan. Bahkan, dalam dua hari setelah kegiatan berlangsung, ia menerima belasan naskah baru untuk dicetak dalam format Braille serta tawaran kerja sama dari perguruan tinggi negeri yang berencana menyediakan lebih banyak bahan ajar aksesibel bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISIP UNNES untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi langsung dengan praktisi dan tokoh masyarakat yang memiliki pengalaman nyata dalam bidang inklusi sosial.
Selain memperkuat pemahaman teoritis yang diperoleh di kelas, kuliah tamu ini juga mendorong mahasiswa mengembangkan empati, kesadaran sosial, dan kemampuan berpikir kritis dalam merespons persoalan kesetaraan serta keadilan sosial.
Melalui diskusi yang berlangsung interaktif, mahasiswa diajak memahami penerapan prinsip inklusi dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, hingga pelayanan publik. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk membangun generasi muda yang lebih peduli terhadap isu kemanusiaan dan mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif.
Sebagai bentuk apresiasi, di akhir kegiatan Dr.sos. Puji Lestari, M.Si. menyerahkan buku Braille berjudul Perempuan, Politik, dan Kepemimpinan: Motivasi Perempuan Muda untuk Berpartisipasi Politik karya Puji Lestari, Moh. Aris Munandar, dan Erisandi Arditama kepada Basuki. Penyerahan buku tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam memperluas akses pengetahuan bagi semua kalangan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya pengurangan kesenjangan tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan perubahan perspektif masyarakat. Melalui interaksi langsung dengan praktisi dan pegiat inklusi, mahasiswa diajak memahami bahwa mewujudkan masyarakat yang setara memerlukan keberpihakan pada kelompok yang selama ini menghadapi berbagai hambatan sosial.
Dengan demikian, kuliah tamu ini menjadi salah satu kontribusi nyata FISIP UNNES dalam mendukung implementasi SDGs 10: Reduced Inequalities melalui penguatan kesadaran, aksesibilitas, dan pemberdayaan kelompok rentan.




