Sebanyak 4.104 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi diterjunkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) GIAT Angkatan XVI, di Lapangan Rektorat UNNES, Selasa (7/7/2026). Mereka akan mengabdi di 384 desa yang tersebar pada 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah melalui program pemberdayaan masyarakat, penanggulangan stunting, penguatan UMKM, hingga pengembangan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Rektor UNNES, Prof. Dr. S Martono, M.Si., menegaskan Giat merupakan bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan sekaligus belajar langsung bersama masyarakat.
“Tujuan utamanya yang pertama jelas memberikan bekal kepada mahasiswa dalam pengabdian di masyarakat. Yang kedua, berupaya mensinkronkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan di masyarakat. Lalu yang ketiga, untuk menumbuhkan jiwa kreativitas dan inovasi di desa dengan memanfaatkan segala bentuk sumber daya yang ada di sana, sehingga harapannya bisa menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kemandirian,” tegasnya.
Menurutnya, pelaksanaan GIAT juga menjadi implementasi visi UNNES sebagai kampus berwawasan konservasi. Konservasi dimaknai tidak hanya menjaga sumber daya alam, tetapi juga memperhatikan keseimbangan antara lingkungan, budaya, seni, serta tata nilai yang hidup di tengah masyarakat.
“Wawasan konservasi ini artinya kita memandang semua sumber daya sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, baik dari aspek alam, budaya, seni, dan terutama tata nilai. Jadi kita tidak fokus hanya pada sumber daya alam seperti tanaman saja, tetapi harus ada keseimbangan dengan tata nilai dan norma di masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I UNNES Prof. Dr. Zaenuri, M.Si., Akt. menjelaskan bahwa KKN merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh seluruh mahasiswa, baik dari program studi kependidikan maupun nonkependidikan.
“Mahasiswa hendaknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Mereka harus bersinergi dengan elemen-elemen masyarakat dan tidak boleh menjadi beban di masyarakat.
Selain itu, UNNES juga memberikan perhatian terhadap keamanan mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual telah diberikan sejak kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), sedangkan selama di lapangan mahasiswa berada di bawah koordinasi pemerintah desa dan pemantauan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Disisi lain, Kepala Pusat Pengembangan KKN UNNES Dr. Edi Kurniawan, S.Pd., M.Pd. mengungkapkan bahwa mahasiswa akan ditempatkan di 384 desa yang tersebar pada 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan wilayah terbanyak berada di Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Batang.
“Fokus yang akan dilakukan mahasiswa meliputi empat hal utama: inisiasi pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) secara masif, penanggulangan stunting, ekonomi kreatif pendampingan UMKM, dan pemetaan inovasi desa,” ungkapnya.
Dalam pendampingan UMKM, mahasiswa akan membantu pelaku usaha mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga memberikan pelatihan pemasaran digital agar produk masyarakat memiliki daya saing yang lebih luas melalui platform perdagangan elektronik (e-commerce).




