Matematika dalam Budaya Liyangan, Inovasi Buku Ajar Mahasiswa UNNES

Pembelajaran matematika dapat dikembangkan dengan menghadirkan konteks yang dekat dengan kehidupan murid. Pendekatan tersebut dilakukan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) AMLI skema AI tahun 2026.

Tergabung dalam Tim Liyangan, Retno Wulan Astuti, Yasmine Layya Afifah, Maghfiroh, Habba Arrizal Anas, dan Sabrina Riski Astutiningtyas mengembangkan buku ajar skala dan perbandingan berbasis Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi dengan etnomatematika Desa Wisata Situs Liyangan.

Buku ajar tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd. Materi di dalamnya dirancang untuk membantu murid memahami konsep skala dan perbandingan melalui permasalahan yang kontekstual, sekaligus mengenalkan budaya lokal yang berada di sekitar mereka.

Desa Wisata Situs Liyangan dipilih sebagai konteks pembelajaran karena memiliki kekayaan sejarah dan budaya. Situs Liyangan menyimpan jejak kehidupan masyarakat masa lampau dan berada di lingkungan masyarakat yang masih mempertahankan berbagai tradisi lokal. Potensi tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran matematika melalui pendekatan etnomatematika.

Konteks yang dihadirkan dalam buku ajar tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan struktur Situs Liyangan, tetapi juga budaya masyarakat setempat, seperti Kirab Merti Tirta Amerta Bhumi dan Sadranan Tuk Tempurung. Berbagai konteks tersebut kemudian dikemas menjadi permasalahan matematika pada materi skala dan perbandingan.

Melalui permasalahan tersebut, murid tidak hanya berhadapan dengan angka dan rumus. Mereka diajak memahami permasalahan, mengidentifikasi informasi yang diperlukan, melakukan penyelidikan untuk menemukan solusi, serta menyajikan dan mengevaluasi hasil penyelesaian.

Proses pembelajaran dalam buku ajar disusun mengikuti tahapan Problem Based Learning melalui kegiatan “Ayo Kita Amati”, “Ayo Diskusikan”, “Ayo Pelajari”, dan “Ayo Presentasikan”. Setiap kegiatan mengarahkan murid untuk mengamati permasalahan, berdiskusi, mengeksplorasi konsep skala dan perbandingan, serta mengomunikasikan hasil penyelesaiannya.

Buku ajar tersebut juga dilengkapi dengan bagian “Refleksi” dan “Uji Kompetensi”. Kedua bagian tersebut digunakan untuk membantu murid meninjau kembali proses belajar dan mengukur pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari.

Pengenalan buku ajar dilakukan kepada murid kelas VII C dan VIII A SMP Negeri 1 Ngadirejo pada 11 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi murid untuk melihat keterkaitan antara matematika dengan lingkungan budaya di sekitar mereka.

Hasil pengenalan menunjukkan bahwa materi yang disajikan dapat dipahami dengan baik dan memperoleh respons positif dari murid. Melalui pemanfaatan budaya lokal sebagai konteks pembelajaran, inovasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas.

Inovasi buku ajar ini diharapkan dapat menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih dekat dengan lingkungan murid sekaligus mendorong keterlibatan aktif mereka dalam proses belajar.

Pembelajaran matematika dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan murid ketika menggunakan lingkungan dan budaya di sekitar mereka. Hal tersebut dilakukan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) AMLI skema AI tahun 2026.

Lima mahasiswa tersebut tergabung dalam Tim Liyangan. Mereka terdiri atas Retno Wulan Astuti, Yasmine Layya Afifah, Maghfiroh, Habba Arrizal Anas, dan Sabrina Riski Astutiningtyas.

Di bawah bimbingan Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd., Tim Liyangan mengembangkan buku ajar skala dan perbandingan berbasis Problem Based Learning (PBL). Buku ajar tersebut juga mengintegrasikan etnomatematika dengan konteks Desa Wisata Situs Liyangan.

Buku ajar ini dirancang untuk membantu murid memahami konsep skala dan perbandingan melalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, murid juga diperkenalkan dengan budaya lokal yang ada di lingkungan sekitar.

Desa Wisata Situs Liyangan dipilih karena memiliki kekayaan sejarah dan budaya. Situs tersebut menyimpan jejak kehidupan masyarakat masa lampau. Di lingkungan sekitarnya, masyarakat juga masih mempertahankan berbagai tradisi lokal.

Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai konteks dalam pembelajaran matematika. Pendekatan etnomatematika digunakan untuk menghubungkan konsep matematika dengan budaya yang ada di Desa Wisata Situs Liyangan.

Konteks dalam buku ajar tidak hanya mengambil sejarah dan struktur Situs Liyangan. Tim juga memasukkan budaya masyarakat setempat, seperti Kirab Merti Tirta Amerta Bhumi dan Sadranan Tuk Tempurung.

Berbagai konteks tersebut kemudian disajikan dalam permasalahan pada materi skala dan perbandingan. Murid tidak hanya mengerjakan soal dengan angka dan rumus. Mereka juga diajak memahami permasalahan, mencari informasi yang diperlukan, melakukan penyelidikan, serta menemukan solusi.

Proses pembelajaran dalam buku ajar mengikuti tahapan Problem Based Learning. Kegiatan tersebut dikemas melalui bagian “Ayo Kita Amati”, “Ayo Diskusikan”, “Ayo Pelajari”, dan “Ayo Presentasikan”.

Melalui kegiatan tersebut, murid diarahkan untuk mengamati permasalahan, berdiskusi, dan mengeksplorasi konsep skala dan perbandingan. Murid juga diberi kesempatan untuk mengomunikasikan hasil penyelesaiannya.

Buku ajar tersebut dilengkapi dengan bagian “Refleksi” dan “Uji Kompetensi”. Bagian ini membantu murid meninjau kembali proses belajar dan mengukur pemahaman terhadap materi.

Pengenalan buku ajar dilakukan kepada murid kelas VII C dan VIII A SMP Negeri 1 Ngadirejo pada 11 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi murid untuk melihat keterkaitan antara matematika dan budaya yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Hasil pengenalan menunjukkan bahwa materi yang disajikan dapat dipahami dengan baik dan memperoleh respons positif dari murid.

Inovasi tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education. Pemanfaatan budaya lokal sebagai konteks pembelajaran menjadi salah satu upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan lingkungan murid dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar.

Related Posts

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

GDPR

  • Privacy Policy

Privacy Policy

Who we are

Our website address is: https://unnes.ac.id.

Comments

When visitors leave comments on the site we collect the data shown in the comments form, and also the visitor’s IP address and browser user agent string to help spam detection.

An anonymized string created from your email address (also called a hash) may be provided to the Gravatar service to see if you are using it. The Gravatar service privacy policy is available here: https://automattic.com/privacy/. After approval of your comment, your profile picture is visible to the public in the context of your comment.

Media

If you upload images to the website, you should avoid uploading images with embedded location data (EXIF GPS) included. Visitors to the website can download and extract any location data from images on the website.

Cookies

If you leave a comment on our site you may opt-in to saving your name, email address and website in cookies. These are for your convenience so that you do not have to fill in your details again when you leave another comment. These cookies will last for one year.

If you visit our login page, we will set a temporary cookie to determine if your browser accepts cookies. This cookie contains no personal data and is discarded when you close your browser.

When you log in, we will also set up several cookies to save your login information and your screen display choices. Login cookies last for two days, and screen options cookies last for a year. If you select “Remember Me”, your login will persist for two weeks. If you log out of your account, the login cookies will be removed.

If you edit or publish an article, an additional cookie will be saved in your browser. This cookie includes no personal data and simply indicates the post ID of the article you just edited. It expires after 1 day.

Embedded content from other websites

Articles on this site may include embedded content (e.g. videos, images, articles, etc.). Embedded content from other websites behaves in the exact same way as if the visitor has visited the other website.

These websites may collect data about you, use cookies, embed additional third-party tracking, and monitor your interaction with that embedded content, including tracking your interaction with the embedded content if you have an account and are logged in to that website.

Who we share your data with

If you request a password reset, your IP address will be included in the reset email.

How long we retain your data

If you leave a comment, the comment and its metadata are retained indefinitely. This is so we can recognize and approve any follow-up comments automatically instead of holding them in a moderation queue.

For users that register on our website (if any), we also store the personal information they provide in their user profile. All users can see, edit, or delete their personal information at any time (except they cannot change their username). Website administrators can also see and edit that information.

What rights you have over your data

If you have an account on this site, or have left comments, you can request to receive an exported file of the personal data we hold about you, including any data you have provided to us. You can also request that we erase any personal data we hold about you. This does not include any data we are obliged to keep for administrative, legal, or security purposes.

Where your data is sent

Visitor comments may be checked through an automated spam detection service.

Ada yang bisa kami bantu?