Perkembangan kawasan perkotaan yang berlangsung semakin pesat menghadirkan berbagai tantangan terhadap keberlangsungan bangunan dan situs bersejarah. Di tengah perubahan tata ruang dan kebutuhan pembangunan modern, upaya pelestarian cagar budaya menjadi isu penting yang memerlukan perhatian berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
Sebagai institusi yang memiliki komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya, Universitas Negeri Semarang (UNNES) terus mendorong penguatan pemahaman dan praktik konservasi sejarah melalui kegiatan akademik yang melibatkan mahasiswa dan para praktisi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar Konservasi Kesejarahan bertajuk “Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya: Strategi Pelestarian di Tengah Tantangan Urbanisasi” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNNES di Aula Gedung C7 FISIP UNNES, Kamis (4/6).
Kegiatan ini diikuti sekitar 150 mahasiswa yang antusias mendiskusikan berbagai strategi pelestarian warisan budaya sebagai bagian penting dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FISIP UNNES, Andy Suryadi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pembelajaran konservasi sejarah tidak cukup dilakukan melalui teori di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa perlu memperoleh pengalaman langsung melalui penelitian lapangan serta berinteraksi dengan para praktisi yang selama ini berkecimpung dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya.
Ia menegaskan bahwa pendampingan dari pegiat sejarah dan pelaku lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa. Karena itu, Program Studi Pendidikan Sejarah menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan rekam jejak kuat dalam penelitian maupun pelestarian sejarah lokal.
“Mahasiswa harus belajar langsung dari mereka yang selama ini bergelut dengan sumber sejarah, arsip, hingga persoalan pelestarian di lapangan. Pengalaman semacam itu tidak selalu bisa diperoleh dari buku,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, pembicara pertama, Syamsul Nurhidayat, memaparkan berbagai proyek yang telah dikerjakan mahasiswa melalui Mata Kuliah Konservasi Sejarah. Salah satu luaran yang dikembangkan berupa dokumentasi dan video sejarah yang mengangkat bangunan bersejarah serta situs warisan budaya di Kota Semarang.
Menurutnya, pemanfaatan media digital menjadi pendekatan yang relevan dalam memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. Melalui pembuatan video dokumenter, mahasiswa tidak hanya belajar melakukan riset dan observasi lapangan, tetapi juga mengembangkan kemampuan mengomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat secara lebih luas.
“Ketika sejarah dikemas dalam media yang dekat dengan generasi muda, pesan pelestarian akan lebih mudah diterima dan disebarluaskan,” jelasnya.
Diskusi semakin menarik saat wartawan senior Suara Merdeka sekaligus pegiat sejarah Semarang, Rukardi Achmadi, mengajak peserta menelusuri jejak sejarah kawasan Simongan dan Gedong Dhuwur. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa kawasan Simongan menyimpan lapisan sejarah panjang yang membentang sejak masa kedatangan armada Cheng Ho hingga perkembangan Kota Semarang pada era modern.
Menurut Rukardi, kawasan tersebut menjadi saksi berbagai dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang turut membentuk identitas Kota Semarang. Ia mengulas sejumlah tokoh dan situs penting yang pernah mewarnai sejarah kawasan tersebut, termasuk jejak kepemilikan lahan luas di Simongan serta keberadaan Gedong Dhuwur yang dibangun di kawasan perbukitan sebagai tempat peristirahatan.
Selain itu, Rukardi juga menyinggung berbagai aset milik pengusaha besar Oei Tiong Ham yang dikenal sebagai Raja Gula dari Jawa, termasuk kompleks kediamannya di kawasan Jalan Kyai Saleh yang dahulu populer dengan sebutan Istana Gergaji. Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap bangunan dan kawasan bersejarah memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sosial masyarakat yang membentuk karakter suatu kota.
Sementara itu, dosen Pendidikan Sejarah UNNES, Dr. Syaiful Amin, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa konservasi sejarah tidak hanya berfokus pada upaya mempertahankan bangunan tua secara fisik. Lebih dari itu, konservasi merupakan langkah menjaga memori kolektif masyarakat yang melekat pada bangunan maupun ruang-ruang bersejarah.
Menurutnya, revitalisasi cagar budaya perlu dilakukan secara adaptif agar bangunan bersejarah tetap memiliki fungsi dan manfaat di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai historis yang dikandungnya.
“Ketika sebuah bangunan bersejarah hilang, yang lenyap bukan hanya fisiknya, tetapi juga jejak pengalaman dan ingatan masyarakat yang pernah hidup bersamanya,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait strategi revitalisasi bangunan bersejarah, pemanfaatan teknologi digital dalam konservasi, hingga tantangan pelestarian cagar budaya di tengah ekspansi pembangunan perkotaan. Antusiasme peserta menunjukkan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Melalui seminar ini, FISIP UNNES kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pelestarian warisan budaya dan sejarah sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan melalui perlindungan warisan budaya dan sejarah.
Diharapkan kegiatan ini mampu memperkuat kesadaran serta partisipasi mahasiswa dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Indonesia, sehingga nilai-nilai sejarah yang dimiliki dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang di tengah dinamika pembangunan perkotaan yang terus berkembang.




