Krisis lingkungan global atau triple planetary crisis yang meliputi perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi tantangan besar bagi masyarakat dunia.
Kondisi tersebut mendorong pentingnya penguatan pendidikan sains dan ilmu lingkungan sebagai fondasi dalam membangun literasi kebencanaan dan ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Rumpun IPA dan Lingkungan FMIPA menyelenggarakan Seminar Nasional IPA XVI pada Sabtu, (23/5) di Auditorium Prof. Wuryanto UNNES.
Seminar nasional tahun ini mengusung tema “Kecemerlangan Pendidikan IPA dan Ilmu Lingkungan untuk Literasi Kebencanaan”. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 UNNES sekaligus peringatan 16 tahun berdirinya Rumpun IPA dan Lingkungan.
Seminar Nasional IPA XVI dirancang sebagai forum ilmiah tahunan untuk bertukar pikiran, berbagi pengalaman terbaik, mempresentasikan inovasi penelitian, serta mendiskusikan berbagai gagasan inovatif dalam pembelajaran sains dan bidang lingkungan.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan nasional. Ketiganya yaitu Dr. Iwan Junaedi, M.Pd., Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., dan Dr. Muhamad Taufiq, S.Pd., M.Pd.
Dalam pemaparannya, Dr. Iwan Junaedi, M.Pd. yang saat ini menjabat sebagai Direktur KSPSTK Kemendikdasmen membahas pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam. Menurutnya, pendekatan tersebut menitikberatkan pada pemahaman konsep secara utuh dan bermakna, bukan sekadar menghafal fakta.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Sementara itu, Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc. dari Universitas Diponegoro memaparkan materi mengenai bencana alam, khususnya bencana hidrometeorologi, beserta tantangannya terhadap sumber daya air dan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi kebencanaan serta praktik mitigasi bencana berbasis kearifan lokal sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan global.
Adapun Dr. Muhamad Taufiq, S.Pd., M.Pd. menjelaskan mengenai mitigasi bencana alam dan pentingnya kontribusi mahasiswa pendidikan sains sebagai calon guru, serta mahasiswa ilmu lingkungan dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan di masa depan.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan budaya tanggap bencana di masyarakat.
Seminar Nasional IPA XVI diikuti sekitar 400 peserta, termasuk para pemakalah, yang berasal dari 19 provinsi di Indonesia. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan tingginya perhatian akademisi, guru, mahasiswa, dan praktisi terhadap isu pendidikan sains, lingkungan, dan literasi kebencanaan di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, FMIPA UNNES turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas, tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim, serta tujuan ke-15 tentang menjaga ekosistem daratan.
Seminar Nasional IPA XVI menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pendidikan sains dan ilmu lingkungan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya tantangan kebencanaan global.
Melalui kegiatan ini, diharapkan penguatan literasi kebencanaan dapat terus dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas, penguatan literasi publik, penyusunan policy brief, diseminasi hasil riset, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam berbagai upaya mitigasi dan adaptasi bencana.




