Mahasiswa PPG Dibekali Strategi Cegah Bullying melalui Workshop di Semarang

Semarang — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan inklusif terus diperkuat melalui berbagai kegiatan pengembangan kompetensi calon guru. Salah satunya diwujudkan dalam Workshop Pencegahan dan Penanganan Bullying bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang diselenggarakan pada 24 Mei 2026 di Hotel MG Setos Semarang, pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.

Kegiatan ini hadir sebagai respons atas masih maraknya praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, baik dalam bentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga memengaruhi pelaku, saksi, hingga iklim pembelajaran secara keseluruhan.

Dalam workshop tersebut, mahasiswa PPG dibekali pemahaman sekaligus keterampilan praktis untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menangani kasus bullying secara tepat dan edukatif. Selain itu, peserta juga dilatih untuk membangun budaya kelas yang positif, inklusif, serta berbasis empati.

Hadir sebagai narasumber pertama, Bunda Vivi, psikolog sekaligus pemilik SD Bintang Juara Semarang, yang menekankan pentingnya peran guru dalam memahami dinamika psikologis peserta didik. Ia menjelaskan bahwa bullying sering kali muncul dari ketidakmampuan anak dalam mengelola emosi dan relasi sosial.

“Guru harus peka terhadap tanda-tanda awal bullying. Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kasus sudah terjadi,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan empati dan komunikasi yang hangat menjadi kunci dalam menciptakan rasa aman bagi siswa.

Sementara itu, narasumber kedua, Prof. Dr. Eko Handoyo, M.Si., Guru Besar Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila serta pegiat anti korupsi, menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Menurutnya, praktik pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pembentukan nilai moral, termasuk sikap saling menghargai dan keadilan sosial.

“Bullying adalah bentuk ketidakadilan yang harus dilawan melalui pendidikan. Guru memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam membangun budaya sekolah yang berintegritas dan berperikemanusiaan,” tegasnya.

Kegiatan ini juga menggarisbawahi bahwa mahasiswa PPG sebagai calon guru profesional tidak hanya dituntut menguasai kompetensi pedagogik dan profesional, tetapi juga kompetensi sosial dan kepribadian. Kemampuan membangun relasi yang sehat serta menciptakan iklim kelas yang inklusif menjadi bagian penting dari profesionalisme guru di era pendidikan abad ke-21.

Melalui workshop ini, diharapkan mahasiswa PPG mampu mengimplementasikan nilai-nilai empati, respek, toleransi, dan keadilan sosial dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, mereka dapat menjadi guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga humanis, responsif, dan berkarakter dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan.

About the author

PPG UNNES

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: