Semangat di Bumi Karanggeneng: Calon Guru UNNES Menyemai Jiwa Kepemimpinan melalui KMD dan KML

Pagi hari tanggal 6 Juni 2026, puluhan kendaraan bermotor bergerak serempak menuju Bumi Perkemahan Karanggeneng, Kota Semarang. Dari kejauhan, arah tujuan mereka begitu mudah dikenali—tongkat-tongkat pramuka yang dibawa dengan bangga menjadi penanda. Wajah-wajah penuh semangat terpancar di antara mereka. Sebuah pemandangan yang menumbuhkan keyakinan: masa depan guru Indonesia akan tetap bersinar, ditopang oleh generasi pendidik yang mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati.

Mereka adalah 504 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Semarang (UNNES) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026. Hari itu menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjut (KML) yang diselenggarakan bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Tengah.

Sebelum tiba di bumi perkemahan, para peserta telah lebih dahulu menempuh pembelajaran secara daring pada tanggal 2 hingga 5 Juni 2026. Selama empat hari tersebut, mereka mengkaji konsep, nilai, dan keterampilan dasar kepramukaan sebagai bekal awal. Namun, di Karanggeneng-lah semua itu diuji—dihidupkan dalam kebersamaan, kedisiplinan, dan pengalaman nyata melalui Kemah Bhakti yang berlangsung pada 6 hingga 7 Juni 2026.

Sebagian besar dari mereka, khususnya mahasiswa PGSD, telah lebih dahulu menapaki tahap KMD. Kini, mereka melangkah lebih jauh ke jenjang KML—sebuah tahap yang menuntut kedewasaan sikap, ketangguhan, dan kepemimpinan yang lebih matang. Sementara itu, peserta lain mengikuti KMD dan KML pada jenjang Siaga, Penggalang, hingga Penegak, yang keseluruhannya terbagi dalam 9 kelas pendidikan.

KMD dan KML bukan sekadar pelatihan teknis. Ia adalah proses pembentukan jati diri. Di dalamnya, calon guru ditempa untuk menjadi pembina dan pelatih pramuka yang tidak hanya memahami metode, tetapi juga mampu menanamkan nilai. Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan cinta tanah air—nilai-nilai yang kelak akan mereka wariskan kepada peserta didik di ruang-ruang kelas maupun di alam terbuka.

Kegiatan ini dibuka melalui sebuah seremoni yang sarat makna: penyerahan tunggak atau kampak pelatihan kepada para pelatih. Dalam simbol itu, tersirat amanah besar—bahwa proses pendidikan kini berada di tangan para pelatih, yang akan membimbing para peserta menapaki perjalanan belajar yang tidak hanya mengasah kemampuan, tetapi juga membentuk karakter.

Ketika tenda-tenda mulai berdiri, api unggun bersiap dinyalakan, dan suara-suara yel-yel menggema di antara pepohonan Karanggeneng, satu hal menjadi semakin nyata: pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi tentang menyalakan semangat. Dan di tempat itulah, semangat itu tumbuh—di hati para calon guru yang suatu hari nanti akan menyalakan semangat yang sama pada generasi berikutnya

About the author

PPG UNNES

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: