Semarang — Dalam upaya memperkuat kompetensi calon guru dalam menghadapi realitas keberagaman di Indonesia, diselenggarakan Workshop Kebhinekaan bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan wawasan, sikap, dan keterampilan dalam mengelola pembelajaran yang inklusif, adil, serta responsif terhadap keragaman peserta didik.
Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan tingkat keberagaman tinggi—baik dari suku, agama, ras, budaya, bahasa, hingga latar belakang sosial ekonomi—menjadi konteks penting dalam dunia pendidikan. Kondisi ini tidak hanya menjadi kekayaan bangsa, tetapi juga tantangan bagi para pendidik dalam menciptakan proses pembelajaran yang mampu mengakomodasi seluruh perbedaan tersebut.
Dalam workshop ini, hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Direktur Sekolah Pascasarjana, yang menyampaikan materi tentang pendidikan multikultural. Ia menekankan bahwa guru harus memiliki kesiapan untuk mengajar siapa saja tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun ras. Menurutnya, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam memahami dan menghargai keberagaman peserta didik.
“Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi agen pembentuk karakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan,” ujarnya.
Narasumber kedua, Bapak Adebhakti, yang dikenal sebagai influencer sekaligus Wakil Ketua Damkar Kota Semarang, turut memberikan perspektif praktis melalui tema “Melayani Siapa Saja, Kapan Saja.” Dalam pemaparannya, ia menegaskan pentingnya sikap pelayanan dalam profesi guru. Menurutnya, guru harus mampu memberikan pelayanan pendidikan yang optimal kepada seluruh siswa tanpa diskriminasi.
“Seorang guru harus hadir untuk semua siswa, kapan pun dibutuhkan, dengan pelayanan yang adil dan penuh empati,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga menyoroti bahwa mahasiswa PPG sebagai calon guru profesional akan ditempatkan di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi, komunikasi lintas budaya, serta membangun relasi sosial yang harmonis menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki.
Melalui workshop ini, diharapkan mahasiswa PPG tidak hanya memahami konsep kebhinekaan secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, para calon guru dapat menjadi pendidik yang inklusif, profesional, dan berkontribusi dalam memperkuat persatuan di tengah keberagaman bangsa.
Dokumentasi Kegiatan:







