Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, merupakan desa yang berada di lereng Gunung Merbabu dengan sektor pertanian dan peternakan sapi sebagai salah satu penopang utama kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan Desa Jetak memiliki potensi besar untuk mengembangkan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan, khususnya melalui pemanfaatan limbah peternakan, energi terbarukan, biomassa, dan sumber daya air.

Pemanfaatan sumber daya lokal untuk energi telah menjadi bagian dari perjalanan Desa Jetak. Pada 2017, Perusahaan Gas Negara (PGN) memberikan dukungan pengembangan infrastruktur biogas melalui pembangunan sejumlah reaktor biodigester dan fasilitas edukasi. Penguatan tersebut turut mendorong Desa Jetak dikenal sebagai salah satu desa yang mengembangkan konsep Desa Mandiri Energi. Pada 2018, pemanfaatan biogas oleh masyarakat juga telah berkembang secara luas untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan energi bersih di Desa Jetak. Namun, keberlanjutan pemanfaatan biogas tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga membutuhkan pengelolaan instalasi yang aman, pemanfaatan residu secara optimal, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola teknologi energi terbarukan.
Pada 2026, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan dua kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Jetak yang saling melengkapi. Kedua kegiatan tersebut mengembangkan pemanfaatan sumber daya lokal melalui teknologi biogas, Internet of Things (IoT), rainwater harvesting, dan biochar berbasis pirolisis.
Kegiatan pertama merupakan Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) dalam skema pengabdian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), dengan judul “Pemberdayaan Kelompok Tani dan Karang Taruna Desa Jetak melalui Integrasi Circular Economy Biogas dan Teknologi Rainwater Harvesting untuk Pangan Berkelanjutan.” Program ini dilaksanakan oleh tim PMM FMIPA UNNES bersama Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNNES GIAT 16 LPPM.
Program tersebut mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular dengan menghubungkan peternakan, energi, pertanian, pengelolaan limbah, dan teknologi digital. Kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku biogas dikembangkan lebih lanjut melalui penerapan sistem IoT untuk meningkatkan keamanan instalasi dan mendeteksi potensi kebocoran gas.
Sistem IoT memungkinkan kondisi instalasi biogas dipantau secara lebih cepat dan memberikan notifikasi ketika sensor mendeteksi indikasi kebocoran. Penerapan teknologi ini sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari teknologi digital dalam pengelolaan energi bersih dan meningkatkan kapasitas lokal dalam menjaga keamanan fasilitas energi terbarukan.

Kegiatan tersebut melibatkan dosen pembimbing sekaligus Ketua Tim PMM UNNES, Abdul Jabbar, S.Si., M.Ling., bersama Yahya Nur Ifriza, S.Pd., M.Kom., dan Dr. Andhina Putri Heriyanti, S.T., M.Si. Pendekatan yang diterapkan menempatkan digitalisasi dan ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya pedesaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Tidak berhenti pada pemanfaatan kotoran sapi untuk menghasilkan energi, tim juga mendorong pemanfaatan residu biogas atau slurry. Slurry yang masih mengandung unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Organik Padat (POP). Dengan demikian, residu dari proses produksi energi dapat kembali dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian.
Pola tersebut membentuk siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih terpadu. Peternakan menyediakan bahan baku biogas, biogas menghasilkan energi bersih untuk kebutuhan masyarakat, sedangkan residunya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung pertanian. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi potensi limbah, tetapi juga meningkatkan nilai guna sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap input pertanian dari luar.

Program PMM juga memperkenalkan teknologi Rainwater Harvesting (RWH) atau pemanenan air hujan. Desa Jetak yang berada di wilayah pegunungan dengan curah hujan relatif tinggi memiliki peluang untuk mengoptimalkan air hujan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan.
Melalui pengenalan RWH, masyarakat didorong untuk tidak hanya memandang air hujan sebagai limpasan yang perlu dialirkan, tetapi sebagai sumber daya yang dapat ditampung dan dimanfaatkan secara lebih efisien. Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Rangkaian pelatihan PMM dilaksanakan di Balai Desa Jetak pada 26 Juli dan 1 Agustus 2026 dengan melibatkan kelompok tani, peternak, dan Karang Taruna. Peserta mendapatkan materi dan praktik langsung, termasuk pemasangan sensor gas berbasis IoT yang terhubung dengan sistem notifikasi otomatis untuk mendeteksi indikasi kebocoran biogas. Keterlibatan Karang Taruna juga memperkuat peran generasi muda dalam adopsi teknologi tepat guna dan pengelolaan energi terbarukan di tingkat desa.
Kegiatan kedua dilaksanakan melalui pendanaan FOLU Net Sink 2030 dengan kegiatan utama berupa Sosialisasi dan Pelatihan Biochar Pirolisis pada 11 Juli 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan UNNES sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan biomassa.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa bersama masyarakat Desa Jetak diperkenalkan pada konsep biochar dan proses pirolisis melalui penyampaian materi dan praktik langsung. Biomassa yang tersedia di sekitar masyarakat dikenalkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui teknologi sederhana, sehingga tidak hanya berakhir sebagai limbah.
Pemanfaatan biochar juga memiliki keterkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Biomassa yang diolah melalui pirolisis dapat menghasilkan material yang berpotensi dimanfaatkan dalam sistem pertanian sekaligus menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan karbon berbasis sumber daya lokal.
Kedua kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan Desa Mandiri Energi di Jetak dapat terus dikembangkan dari sekadar penggunaan biogas menuju sistem pengelolaan sumber daya yang lebih terintegrasi. Peternakan sapi tidak hanya menjadi sektor ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari sistem energi melalui pemanfaatan kotoran ternak. Residu biogas selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pertanian, sementara biomassa lainnya dapat diolah menjadi biochar. Pada saat yang sama, air hujan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian dan peternakan.
Rangkaian kegiatan FMIPA UNNES tersebut secara langsung mendukung SDG 7: Affordable and Clean Energy, khususnya melalui penyediaan edukasi bagi masyarakat mengenai energi bersih, efisiensi pengelolaan energi, pemanfaatan biogas sebagai energi terbarukan, dan penerapan teknologi IoT untuk meningkatkan keamanan instalasi. Kegiatan di luar kampus ini juga menjadi bentuk promosi publik mengenai pemanfaatan energi terbarukan dan pentingnya penguatan kemandirian energi berbasis sumber daya lokal.
Selain edukasi, FMIPA UNNES memberikan bentuk dukungan langsung kepada sektor ekonomi lokal Desa Jetak, khususnya peternakan sapi yang menjadi salah satu sumber utama bahan baku biogas. Pelatihan mengenai keamanan instalasi biogas, pemanfaatan slurry, dan penerapan teknologi IoT dapat dipandang sebagai layanan berbasis pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan efektivitas serta keberlanjutan pengelolaan energi bersih pada sektor peternakan lokal.
Kegiatan tersebut juga berkontribusi pada SDG 6: Clean Water and Sanitation melalui edukasi pengelolaan sumber daya air dengan teknologi Rainwater Harvesting. Pemanfaatan air hujan menjadi relevan bagi masyarakat Desa Jetak karena kondisi geografis dan curah hujan yang memungkinkan air hujan ditangkap, disimpan, dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan.
Pemanfaatan slurry menjadi pupuk organik dan biomassa menjadi biochar turut memperkuat kontribusi terhadap SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengurangan limbah. Pemanfaatan energi terbarukan dan biomassa juga mendukung SDG 13: Climate Action, sedangkan pemanfaatan pupuk organik, air hujan, dan penguatan sektor pertanian berkontribusi terhadap SDG 2: Zero Hunger.
Penerapan IoT, teknologi biogas, rainwater harvesting, dan pirolisis juga mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengenalan dan penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemberdayaan kelompok tani, peternak, dan Karang Taruna turut mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal. Sementara itu, pendekatan biochar dan pengelolaan biomassa dalam konteks FOLU Net Sink 2030 memperkuat keterkaitan kegiatan dengan SDG 15: Life on Land melalui pengelolaan sumber daya hayati dan biomassa secara lebih berkelanjutan.
Dengan demikian, kegiatan FMIPA UNNES di Desa Jetak tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga membangun sebuah ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan yang menghubungkan energi bersih, peternakan, pertanian, air, biomassa, teknologi digital, dan ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut memperkuat posisi masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan sumber daya sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, FMIPA UNNES berkontribusi dalam memperkuat perjalanan Desa Jetak sebagai desa yang mengembangkan kemandirian energi berbasis sumber daya lokal. Integrasi biogas, IoT, rainwater harvesting, pemanfaatan slurry, dan biochar menunjukkan bahwa transisi menuju pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dapat dimulai dari sumber daya yang telah tersedia di sekitar masyarakat. Upaya ini sekaligus menjadi kontribusi nyata FMIPA UNNES dalam mendukung pencapaian SDG 7, SDG 6, SDG 12, dan SDG 13, serta SDGs lainnya yang saling berkaitan.




