SEMARANG – Tim dosen Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar program pemberdayaan guru IPA SMP untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kearifan lokal dan teknologi digital.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pemberdayaan MGMP IPA Kabupaten Semarang Mengembangkan STEM-LoCal Berbasis Kearifan Lereng Ungaran untuk Literasi Sains”. Program ini menjadi bagian dari komitmen FMIPA UNNES dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026.
Program ini memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran IPA yang lebih kontekstual, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Ellianawati, M.Si. bersama tim yang terdiri atas Dr. Bambang Subali, M.Pd., Dr. Pratiwi Dwijananti, M.Si., Dr. Ian Yulianti, M.Eng., dan Ridho Adi Negoro. Program ini juga didukung oleh mahasiswa dan alumni Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA UNNES.
Sebanyak 40 guru IPA SMP yang tergabung dalam MGMP IPA Kabupaten Semarang mengikuti program tersebut. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Plt. Kepala Dinas Kependidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Semarang, M. Taufiqur Rahman, S.Ag., M.Si., serta Pembina MGMP IPA SMP Kabupaten Semarang, Dr. Sugito, M.Pd.
Pendanaan program berasal dari Dana DPA LPPM UNNES tahun 2026 melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat bagi dosen. Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi guru dalam menerapkan pendekatan STEM-LoCal berbasis kearifan lokal Lereng Ungaran.
Melalui program ini, guru dibekali pemahaman mengenai etnosains, pemanfaatan teknologi pembelajaran digital, serta pengembangan praktikum menggunakan bahan-bahan lokal. Teknologi yang diperkenalkan meliputi PhET Simulation, Augmented Reality atau AR, dan Tinkercad sebagai bagian dari pembelajaran sains abad ke-21.
Penggunaan teknologi digital dalam kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 9 tentang inovasi. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu guru menyusun media dan perangkat pembelajaran yang lebih mudah dipahami siswa, sekaligus tetap mengaitkan materi dengan konteks lokal.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap melalui workshop tatap muka yang dipadukan dengan pendampingan secara daring. Pada tahap awal, peserta mengikuti pretes untuk mengukur pemahaman terkait etnosains, STEM-LoCal, pembelajaran berbasis kearifan lokal, dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

Peserta mengikuti sesi workshop pengembangan pembelajaran IPA berbasis STEM-LoCal yang mengintegrasikan kearifan lokal Lereng Ungaran dengan teknologi digital.
Hasil pretes menunjukkan nilai rata-rata peserta sebesar 51,27. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kompetensi guru pada aspek etnosains, STEM-LoCal, pembelajaran berbasis kearifan lokal, dan teknologi pembelajaran masih perlu diperkuat.
Setelah pretes, peserta memperoleh materi sesuai bidang keahlian masing-masing narasumber. Materi yang diberikan mencakup etnosains, STEM-LoCal, praktikum sains berbahan lokal, serta pemanfaatan PhET Simulation, Augmented Reality, dan Tinkercad dalam pembelajaran IPA.
Guru kemudian didampingi untuk menyusun perangkat pembelajaran yang menggabungkan potensi lokal Lereng Ungaran dengan teknologi digital. Melalui proses pendampingan dan monitoring, peserta berhasil menghasilkan empat bahan ajar dan empat Lembar Kerja Peserta Didik atau LKPD berbasis STEM-LoCal.
Seluruh produk tersebut mengintegrasikan kearifan lokal Lereng Ungaran dengan berbagai teknologi digital untuk mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual. Tema yang dikembangkan meliputi bioteknologi, zat aditif, fisika gamelan, dan listrik statis yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam setiap tema, guru memadukan fenomena budaya lokal dengan media pembelajaran digital seperti simulasi virtual, Augmented Reality, dan laboratorium virtual Tinkercad.
Ketua tim pengabdian, Dr. Ellianawati, M.Si., menjelaskan bahwa pendekatan STEM-LoCal membantu siswa memahami konsep sains melalui fenomena yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami keterkaitan ilmu pengetahuan dengan budaya dan aktivitas masyarakat setempat.
Model pembelajaran ini sekaligus menjadi sarana pelestarian kearifan lokal melalui dunia pendidikan. Keberhasilan program terlihat dari peningkatan kompetensi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Nilai rata-rata postes guru meningkat menjadi 91,56 dan masuk dalam kategori sangat baik. Hasil analisis menunjukkan nilai N-Gain mencapai 0,83 yang termasuk kategori tinggi.
Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru mengenai STEM-LoCal, etnosains, PhET Simulation, Augmented Reality, dan Tinkercad.
Selain peningkatan kompetensi, UNNES juga memberikan berbagai bentuk dukungan kepada MGMP IPA Kabupaten Semarang. Dukungan tersebut mencakup fasilitasi delapan Hak Kekayaan Intelektual atau HKI, pendampingan setara 32 jam pelatihan, serta penyerahan empat box kit praktikum.

Tim Pengabdi UNNES menyerahkan bahan ajar dan kit praktikum berbasis kearifan lokal kepada MGMP IPA Kabupaten Semarang sebagai dukungan keberlanjutan pembelajaran STEM-LoCal.
Kit praktikum tersebut terdiri atas delapan set praktikum berbasis kearifan lokal Gunung Ungaran, seperti pembuatan batik dan lilin aromaterapi.
Pada akhir program, Tim Pengabdi UNNES menyerahkan berbagai aset hasil kegiatan kepada MGMP IPA Kabupaten Semarang. Aset tersebut meliputi bahan ajar, LKPD, HKI, kit praktikum, dan sertifikat pelatihan.
Seluruh aset diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembelajaran IPA berbasis STEM-LoCal di berbagai sekolah di Kabupaten Semarang.
Melalui program ini, FMIPA UNNES berharap para guru dapat menjadi agen perubahan dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas guru diharapkan terus berlanjut guna memperkuat literasi sains sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal sebagai sumber belajar yang bernilai tinggi. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi FMIPA UNNES dalam mendukung pendidikan berkualitas melalui penguatan literasi sains, pemanfaatan teknologi digital, dan pembelajaran berbasis kearifan lokal.





