Kendal – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) terus memperkuat komitmennya dalam pelestarian keanekaragaman hayati melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di desa-desa lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Kendal. Melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, kelompok masyarakat, serta organisasi mahasiswa, FMIPA UNNES mengembangkan berbagai kegiatan konservasi flora dan fauna, rehabilitasi lingkungan, edukasi masyarakat, serta pengembangan ekowisata berbasis konservasi di Desa Peron dan Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan. Kedua desa tersebut merupakan bagian dari kawasan Padang Sumampir, sebuah kawasan Community-Based Ecotourism (CBE) yang dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengintegrasikan konservasi keanekaragaman hayati, pelestarian budaya lokal, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Di Desa Peron, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan (HIMA IPA dan Lingkungan) menyelenggarakan Sosialisasi Mengenal Keanekaragaman Flora dan Fauna Langka Lokal serta Upaya Konservasinya pada 23 September 2025 di Balai Desa Peron. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai spesies flora dan fauna langka yang terdapat di kawasan lereng Gunung Ungaran, faktor-faktor penyebab penurunan populasinya, serta langkah-langkah konservasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Sisca Febrianti Listyaningrum, S.P., yang memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna langka lokal beserta habitatnya. Dalam sesi tersebut, peserta juga memperoleh pengetahuan tentang cara hidup berdampingan secara harmonis dengan satwa liar, termasuk teknik menghadapi hewan buas dan satwa berbisa secara aman dan bertanggung jawab untuk meminimalkan konflik antara manusia dan satwa. Selanjutnya, materi disampaikan oleh Rheza Rizky Al Fath’Qi, S.Ling., alumni Program Studi Ilmu Lingkungan FMIPA UNNES sekaligus Kader Konservasi Nasional Tingkat Madya, yang menjelaskan posisi strategis Desa Peron sebagai bagian dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri. Ia menekankan pentingnya menjaga fungsi hidrologi kawasan hulu melalui konservasi flora dan fauna, penanaman pohon penyangga, serta penguatan kapasitas masyarakat melalui Training of Trainers (ToT) konservasi dan mitigasi bencana. Menurutnya, pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan hulu DAS tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, menjaga ketersediaan sumber daya air, serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah hilir.
Sementara itu, di Desa Ngesrepbalong, Tim Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UNNES yang diketuai Prof. Dr. Enni Suwarsi Rahayu mengembangkan Unit Edukasi Budidaya dan Konservasi Anggrek Hutan berbasis Kultur Jaringan sebagai destinasi ekowisata edukatif. Program yang didanai melalui DPA LPPM UNNES Tahun 2025 tersebut mengembangkan laboratorium kultur jaringan, rumah kaca konservasi (Omah Anggrek), paket wisata edukasi, pelatihan budidaya anggrek hutan, pelatihan pemandu wisata (expert guide), hingga pendampingan penyusunan paket ekowisata berbasis konservasi.
Melalui program yang diberi nama “Rumat Anggrek”, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada keanekaragaman anggrek hutan khas Gunung Ungaran, tetapi juga memperoleh keterampilan mengenai teknik kultur jaringan, konservasi spesies, pengelolaan ekowisata, pemasaran, serta perhitungan ekonomi paket wisata. Pendekatan tersebut membuka peluang usaha baru berbasis konservasi sekaligus memperkuat identitas Desa Ngesrepbalong sebagai desa wisata berbasis pelestarian keanekaragaman hayati.
Kedua program tersebut menunjukkan bagaimana FMIPA UNNES memanfaatkan kawasan lereng Gunung Ungaran sebagai laboratorium pembelajaran sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi. Melalui edukasi, pelatihan, pendampingan, dan transfer teknologi, masyarakat didorong untuk menjadi pelaku utama dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Kolaborasi dengan BKSDA Jawa Tengah, pemerintah desa, kelompok pegiat konservasi, organisasi mahasiswa, serta masyarakat menjadi contoh nyata sinergi multipihak dalam mendukung konservasi spesies lokal, perlindungan habitat, rehabilitasi kawasan hulu DAS, serta pengembangan ekowisata berkelanjutan. Selain meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara lestari, program ini juga memperkuat kesadaran generasi muda mengenai pentingnya pelestarian flora dan fauna lokal sebagai bagian dari warisan alam Indonesia.
Program-program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 15 (Life on Land) melalui konservasi flora dan fauna lokal, rehabilitasi habitat, dan pelestarian keanekaragaman hayati; SDG 4 (Quality Education) melalui pendidikan dan pelatihan konservasi berbasis masyarakat; SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan ekowisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan desa berbasis konservasi; SDG 13 (Climate Action) melalui penanaman pohon dan konservasi kawasan hulu DAS sebagai bagian dari adaptasi perubahan iklim; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga konservasi, organisasi mahasiswa, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.




