Kendal – Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Semarang (UNNES), terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya tersebut dilaksanakan di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, melalui pengembangan alpukat unggul Deane bersama Kelompok Tani Gunung Berkah di Dusun Gunungsari.
Program Pengabdian Kemitraan yang dilaksanakan pada 17 Mei 2025 tersebut didanai melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) LPPM UNNES Tahun 2025. Kegiatan diarahkan untuk mendukung pengembangan Desa Ngesrepbalong sebagai sentra alpukat unggul berbasis masyarakat, dengan target pengembangan sekitar 400 bibit alpukat yang dapat didistribusikan kepada keluarga petani.

Tim pengabdian terdiri atas Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. sebagai ketua, Prof. Dr. Enni Suwarsih Rahayu, M.Si., Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A., serta mahasiswa Bintang Faisal Akbar dan Danissa Wirna Karmesti. Program dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, evaluasi dan pendampingan, serta penguatan keberlanjutan program.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada petani adalah teknik pembelahan biji alpukat untuk memperbanyak rootstock atau batang bawah. Melalui teknik tersebut, satu biji dapat dibelah menjadi dua hingga empat bagian sehingga berpotensi menghasilkan lebih banyak batang bawah dibandingkan metode konvensional. Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab kendala petani berupa keterbatasan batang bawah dan rendahnya keberhasilan grafting, sekaligus mendukung penyediaan bibit alpukat unggul dalam jumlah lebih besar. Teknologi tersebut juga telah diajukan untuk memperoleh hak cipta sebagai teknologi tepat guna.
Selain teknologi perbanyakan bibit, petani memperoleh pelatihan mengenai pemeliharaan bibit hasil grafting, pengelolaan tanaman, pengendalian permasalahan pada bibit muda, serta strategi mempercepat masa berbuah. Pendampingan kemudian diarahkan pada aspek pengembangan usaha melalui materi branding produk pertanian, pengemasan, pencatatan keuangan sederhana, dan pemanfaatan media digital untuk pemasaran.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada transfer teknologi budidaya. Petani juga dibekali kemampuan untuk mengembangkan produk pertanian menjadi kegiatan ekonomi yang lebih kompetitif. Dengan meningkatnya kemampuan menghasilkan bibit berkualitas dan mengelola pemasaran, masyarakat diharapkan memiliki peluang untuk memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan bibit maupun produk alpukat.
Pengembangan kapasitas masyarakat tersebut didukung oleh fasilitas unggulan yang dimiliki Program Studi Biologi FMIPA UNNES, salah satunya Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan. Laboratorium ini menjadi fasilitas untuk perbanyakan tanaman secara in vitro, penelitian, dan praktikum mahasiswa. Fasilitas tersebut dilengkapi ruang persiapan, ruang inokulasi dengan Laminar Air Flow (LAF), serta ruang inkubasi yang mendukung kegiatan praktikum, penelitian skripsi, riset dosen, dan program pengabdian kepada masyarakat, termasuk kegiatan konservasi dan perbanyakan tanaman.

Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan juga membuka jasa pelatihan dan konsultasi kultur jaringan tumbuhan melalui Sasana Kultura, yang dibina oleh Prof. Dr. Enni Suwarsih R., M.Si. Kehadiran fasilitas tersebut memperluas akses masyarakat dan mitra terhadap pengetahuan serta teknologi perbanyakan tanaman, sekaligus memperkuat hubungan antara kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks pengembangan pertanian lokal, pengalaman tersebut juga diterapkan dalam kegiatan pengabdian UNNES di wilayah lain. Di Desa Sendangsari, Kabupaten Purworejo, tim pengabdian masyarakat UNNES melaksanakan penguatan ekosistem ekonomi masyarakat berbasis pertanian lokal bersama Tim Penggerak PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) pada 10 Mei 2025. Kegiatan tersebut memberikan edukasi mengenai tanaman obat keluarga (TOGA), strategi pemasaran produk, pembuatan kompos dan eco-enzyme, serta praktik penanaman tanaman TOGA dan tanaman buah pada lahan produktif desa.
Kegiatan di Sendangsari menunjukkan pendekatan yang serupa, yaitu mengintegrasikan produktivitas pertanian, pengelolaan sumber daya lokal, pengetahuan masyarakat, dan pengembangan ekonomi. Masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai budidaya tanaman, tetapi juga diarahkan untuk mengolah potensi pertanian lokal menjadi bagian dari sistem ekonomi desa dan mendukung ketahanan pangan.
Di Ngesrepbalong, pengembangan alpukat unggul juga melibatkan kemitraan dengan Yayasan Alpukat Nusantara melalui dukungan in cash, sedangkan Kelompok Tani Gunung Berkah memberikan dukungan in kind berupa lahan dan media tanam. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan komoditas pertanian dapat dilakukan melalui sinergi antara perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan mitra eksternal.
Keterlibatan mahasiswa dalam kedua program juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran berbasis masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan akademik secara langsung, berinteraksi dengan kelompok tani, mengidentifikasi permasalahan produksi, serta mendukung proses transfer teknologi. Dengan demikian, kegiatan pengabdian sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan persoalan nyata di masyarakat.
Program pengembangan alpukat di Ngesrepbalong juga memiliki dimensi konservasi dan keberlanjutan. Perbanyakan tanaman melalui teknologi pembibitan dan kultur jaringan dapat mendukung penyediaan bahan tanaman secara lebih terencana, sementara pengembangan komoditas lokal memberikan alternatif pemanfaatan lahan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pendekatan berbasis potensi lokal tersebut diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara konservasi sumber daya tanaman, produktivitas pertanian, dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Program Studi Biologi FMIPA UNNES menunjukkan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai penyedia pengetahuan, teknologi, pelatihan, dan pendampingan bagi masyarakat. Pemanfaatan fasilitas laboratorium, teknologi perbanyakan tanaman, pendampingan petani, serta penguatan pemasaran menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian masyarakat yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini berkontribusi terhadap beberapa Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 1 (No Poverty) didukung melalui penguatan kapasitas ekonomi dan peluang usaha masyarakat berbasis pertanian. SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam produksi tanaman pangan dan pengembangan sistem pertanian lokal yang lebih produktif dan berkelanjutan. SDG 4 (Quality Education) melalui pelatihan, transfer teknologi, pembelajaran berbasis praktik, serta keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.
Selanjutnya, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) didukung melalui pengembangan usaha tani, peningkatan keterampilan kewirausahaan, branding, pemasaran, dan komersialisasi produk pertanian. SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) diperkuat melalui penerapan inovasi teknik perbanyakan rootstock, teknologi tepat guna, serta pemanfaatan fasilitas laboratorium untuk mendukung pengembangan teknologi tanaman. SDG 12 (Responsible Consumption and Production) didukung melalui pengembangan produksi berbasis sumber daya lokal dan pemanfaatan teknologi budidaya yang lebih efisien.
Program ini juga relevan dengan SDG 15 (Life on Land) melalui pengembangan pengetahuan dan teknologi perbanyakan tanaman serta penguatan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Sementara itu, SDG 17 (Partnerships for the Goals) diwujudkan melalui kemitraan antara UNNES, kelompok tani, Yayasan Alpukat Nusantara, pemerintah desa, serta berbagai mitra masyarakat dalam mendukung pengembangan pertanian lokal. Melalui penguatan teknologi budidaya, fasilitas laboratorium, pendidikan masyarakat, pendampingan usaha, dan kemitraan, Biologi FMIPA UNNES terus mendorong agar potensi tanaman lokal tidak hanya berhenti sebagai sumber daya biologis, tetapi berkembang menjadi modal pengetahuan, ketahanan pangan, dan kekuatan ekonomi masyarakat.




