Matematika dapat dipelajari melalui berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk budaya lokal. Pendekatan ini diterapkan mahasiswa Rumpun Matematika Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui pengembangan buku ajar berbasis Tradisi Baratan khas Jepara.
Buku ajar tersebut menggabungkan materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), model pembelajaran Problem Based Learning, dan animasi clay. Inovasi ini diperkenalkan di SMP Negeri 13 Semarang pada 23 April 2026 dan SMA Negeri 7 Semarang pada 8 Mei 2026.
Buku ajar ini mengajak murid mempelajari konsep SPLDV melalui permasalahan yang berkaitan dengan Tradisi Baratan. Dengan cara ini, materi matematika tidak hanya dipelajari melalui rumus, tetapi juga diterapkan dalam situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu murid memahami konsep matematika sekaligus mengenal budaya lokal Jepara. Pengembangan buku ajar ini juga mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang relevan dan bermakna.
Sejumlah unsur Tradisi Baratan dimasukkan ke dalam materi dan kegiatan belajar. Murid diajak mengenal pembuatan perlengkapan penerangan berupa impes dan oncor, makanan tradisional puli yang menjadi sajian khas saat Tradisi Baratan, serta pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai ikon tradisi tersebut yang memiliki kriteria umur khusus.
Unsur-unsur tersebut menjadi konteks untuk menyajikan permasalahan SPLDV sehingga murid dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi nyata.
Buku ajar ini juga dilengkapi video animasi clay yang menggambarkan suasana dan pelaksanaan Tradisi Baratan. Video tersebut menjadi media pendukung dalam setiap kegiatan belajar untuk membantu murid memperoleh gambaran mengenai tradisi yang diangkat. Perpaduan materi matematika, budaya lokal, dan animasi ini diharapkan membuat kegiatan belajar lebih menarik dan mudah dipahami.
Pengenalan buku ajar di SMP Negeri 13 Semarang dan SMA Negeri 7 Semarang menjadi bagian dari proses untuk mengetahui kelayakan buku serta respons murid terhadap penggunaannya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa buku ajar dapat dipahami dengan baik dan memperoleh respons positif.
Buku ajar ini dikembangkan oleh Rafida Yulia Rahmah, Naila Haniyatus Tsaniyah, Aulia Kartika Widiandri, Daniel Ignasius Iwan Lutan, dan Moh. Fahri Al Halim, dengan bimbingan Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd.
Melalui inovasi ini, mahasiswa UNNES menghadirkan pembelajaran matematika yang menghubungkan konsep akademik dengan budaya lokal. Selain membantu murid mempelajari SPLDV, penggunaan Tradisi Baratan sebagai konteks pembelajaran juga menjadi upaya mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal Jepara.




