Transformasi Universitas di Era Otomatisasi


Transformasi Universitas di Era Otomatisasi

McKinsey & Co baru saja menerbitkan laporan yang berjudul “Automation and the future of work in Indonesia: jobs lost, jobs gained, jobs changed” pada bulan September 2019. Dalam laporan tersebut, perusahaan manajemen konsultan terkemuka dunia itu memproyeksikan sebanyak 23 juta pekerjaan akan tergantikan dengan derasnya otomatisasi di berbagai sektor.

Secara umum, diskusi publik tentang dampak otomatisasi di Indonesia masih menitikberatkan pada risiko terhadap masa depan pekerjaan, peralihan jenis pekerjaan, serta peluang dan tantangan dari otomatisasi. Lantas, bagaimana peran universitas dalam menyikapi transformasi zaman yang sangat cepat dan disruptif?

Universitas dituntut untuk mengikuti cepatnya perkembangan zaman dengan melakukan berbagai terobosan inovatif. Beberapa diantaranya, universitas diharapkan berperan aktif dengan menciptakan kurikulum yang relevan yang tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk jenis pekerjaan hari ini, tetapi juga dalam memprediksi pekerjaan apa yang akan ada di masa depan. Selanjutnya, universitas juga perlu memfasilitasi penguasaan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa di tengah ketidakpastian konteks ekonomi dan sosial yang terjadi secara global, dan mempersiapkan lulusannya dalam mengikuti perkembangan zaman untuk selalu meningkatkan kompetensi diri mereka.
Lebih lanjut, David Staley dalam karyanya yang berjudul Alternative Universities: Speculative Design for Innovation in Higher Education (2019), mengajukan model baru yang dapat dipertimbangkan oleh universitas dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan dinamis yaitu model Polymath University. Model ini merekomendasikan mahasiswa untuk dapat mengambil beberapa mata kuliah pilihan lintas jurusan yang diminati seperti akuntansi, matematika, sosiologi, yang intinya menyiapkan mereka dalam menghadapi sengitnya persaingan dunia pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan lintas ilmu.

Seperti upaya yang dilakukan oleh Western Sydney University dengan mengembangkan mata kuliah interdisipliner yang disebut “Spesialisasi Abad 21”. Mata kuliah ini dimaksudkan untuk memberikan mahasiswa ruang dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang kompleks untuk menjawab perubahan zaman dengan kebijakan teknologi, ekonomi, dan sosial. Salah satu contoh dari mata kuliah multi-disiplin baru ini adalah Teknologi Sosial, yang mengajarkan pelatihan konkret dalam keterampilan teknis terkait implikasi teknologi modern dan etika penggunaannya untuk seluruh mahasiswa baik jurusan eksakta maupun sosial humaniora.
Selain itu, terdapat model lainnya yaitu model Interface University, yang menitikberatkan pada keterlibatan kecerdasan buatan dalam interaksi belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa. Universitas terkemuka dunia seperti University of California Berkeley, mengakomodir gagasan ini dengan mengintegrasikan keterampilan multidisiplin yang disebut “full-stack quant”. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan bisnis diharuskan mempunyai keterampilan integratif yang terdiri dari pengetahuan dasar perbankan, akuntansi, dan teknologi seperti coding, blockchain technology, kecerdasan buatan dalam menghadapi laju teknologi keuangan digital yang masif.

Di Macquarie University tempat saya belajar saat ini, juga baru saja menerapkan kurikulum baru yang disebut MQ2020. Kurikulum ini mempunyai karakterisitik khusus dengan menitikberatkan pada ‘Personalised Study Plans’. Artinya, mahasiswa mempunyai fleksibilitas yang longgar dalam memilih mata kuliah pilihan lintas jurusan sesuai minat masing-masing dengan model pembelajaran yang dapat diakses baik secara daring maupun tatap muka dikelas.

Dalam kurikulum baru ini, juga diperkenalkan sistem penilaian yang baru dengan tidak lagi menggunakan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai indikator hasil belajar namun menggunakan Weighted Average Mark (WAM) yang mencerminkan representasi nilai dengan lebih akurat dari pencapaian hasil belajar mahasiswa. Dalam sistem WAM ini menggunakan nilai aktual mahasiswa misalnya 56, 65, 75, 90, dan seterusnya. Sedangkan IPK mendasarkan pada pengelompokan nilai yaitu A, AB, B, BC, C, CD, D, E yang mempunyai rentang nilai dalam setiap kategorinya. Sebagai contoh, mahasiswa mendapatkan nilai 86, dalam perhitungan IPK akan mendapatkan nilai A dengan bobot nilai 4,00 tetapi mahasiswa lainnya yang mendapatkan nilai 97 juga akan sama mendapatkan nilai A dengan bobot nilai 4,00.

Tentu saja, penilaian ini bukanlah cerminan akurat terhadap pencapaian hasil belajar mahasiswa yang semakin kompetitif dalam mendapatkan pekerjaan. Walaupun, masih terdapat hal signifikan lainnya untuk mendapatkan pekerjaan seperti pengalaman magang, organisasi, prestasi non akademik, kepribadian, dan lainnya. Namun, pencapaian hasil belajar akurat menjadi hal yang sangat penting dan dianggap lebih adil terhadap kerja keras mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.

Program magang yang lebih relevan dengan perubahan ekosistem industri yang berubah cepat juga menjadi salah satu faktor penting dalam menyiapkan mahasiswa untuk siap kerja di era otomatisasi. Universitas harus dilibatkan secara aktif dalam membangun kerangka kerja keterampilan masa depan dalam agenda kebijakan industri. Dengan adanya harmonisasi perspektif antara universitas dan industri maka program magang yang dijalani mahasiswa dapat benar-benar memberikan manfaat positif sebagai salah satu cara untuk menyiapkan mahasiswa ke dunia kerja. Universitas juga mendapatkan manfaat dari penggunaan fasilitas mutakhir perusahaan untuk menguji aplikasi praktis dan perusahaan mendapatkan manfaat dengan memperoleh pengetahuan terkini dari mahasiswa yang melakukan magang sesuai bidangnya masing-masing.
Dibutuhkan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, universitas, dosen, staf, mahasiswa, dan masyarakat secara luas untuk dapat menyiapkan lulusan universitas yang siap bekerja di era yang penuh tantangan ini. Dengan kuatnya kerjasama antara pemangku kepentingan, maka lulusan universitas di Indonesia akan mampu menjadi pemain andal dalam era otomatisasi yang memberikan berjuta peluang.

Sandy Arief, Dosen Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi, kandidat Doktor Ilmu Akuntansi dan Tata Kelola Perusahaan dan Asisten Peneliti di Macquarie Business School, Macquarie University, Sydney, Australia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: