Sebanyak 38 alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali ke kampus dalam rangkaian Semarak FISIP 2026, Selasa (27/10/2026). Pertemuan yang berlangsung di aula FISIP, Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu menjadi ruang berbagi pengalaman profesional, kuliah bagi mahasiswa, sekaligus diskusi dengan pimpinan fakultas untuk memperkuat jejaring alumni.
Para alumni yang hadir berasal dari beragam bidang pekerjaan. Pengalaman mereka di dunia pendidikan dan pengelolaan perguruan tinggi menjadi bekal untuk memperkaya pembelajaran mahasiswa sekaligus membuka peluang kolaborasi antara fakultas dan lulusan.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FISIP UNNES Fadly Husain mengatakan, alumni memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan institusi. Kontribusi tersebut tidak terbatas pada kegiatan akademik, tetapi juga mencakup pengisian survei alumni, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga penguatan kurikulum dan layanan pendidikan.
Menurut Fadly, FISIP UNNES memiliki 13.364 alumni dari periode 2002 hingga 2026. Jumlah tersebut merupakan potensi besar untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara kampus dan para lulusan.
Ia mengajak alumni, khususnya lulusan baru, untuk berpartisipasi dalam survei alumni atau tracer study. Hasil survei itu diperlukan untuk memetakan perjalanan karier lulusan, mengevaluasi relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, serta mendukung pemeringkatan dan pengembangan layanan pendidikan di UNNES.
“Kontribusi alumni yang paling mendasar adalah mengisi survei alumni. Hasilnya sangat bermanfaat bagi pengembangan kurikulum, layanan universitas, dan pemeringkatan institusi,” ujar Fadly.
Selain melalui survei, alumni juga dapat terlibat langsung dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Fakultas membuka peluang bagi alumni untuk berkolaborasi dengan dosen, terutama melalui penelitian yang relevan dengan bidang pekerjaan maupun lingkungan tempat mereka berkarya.
Keterlibatan tersebut memungkinkan alumni menjadi mitra penelitian sekaligus penghubung antara pengetahuan akademik dan persoalan nyata di masyarakat. Hasil kolaborasi diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menghasilkan luaran yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Fadly menambahkan, program alumni back to campus menjadi salah satu sarana penting untuk mempertemukan pengalaman profesional alumni dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa. Alumni dapat memberikan kuliah, berbagi informasi mengenai perkembangan bidang pekerjaan, serta memperkenalkan kompetensi yang dibutuhkan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.Salah seorang alumni, Lazuardi Fajar, yang kini bekerja sebagai guru di MAN 1 Pati, menilai kegiatan temu alumni memiliki manfaat bagi pengembangan pembelajaran. Menurut dia, keterlibatan alumni dalam kegiatan akademik perlu ditingkatkan, terutama melalui kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dari praktisi pendidikan.
Ia berharap kegiatan praktik mengajar dan kolaborasi dengan sekolah tidak hanya berpusat di sekitar Semarang, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk Kabupaten Pati.
Menurut Lazuardi, perluasan jangkauan tersebut dapat memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi mahasiswa sekaligus membuka kesempatan bagi sekolah-sekolah di luar kota untuk berinteraksi dengan calon pendidik.
“Praktik mengajar perlu terus ditingkatkan. Kalau memungkinkan, jangan hanya di sekitar Semarang, tetapi juga di daerah yang lebih jauh, seperti Pati. Dengan begitu, mahasiswa dapat ikut memotivasi anak-anak di daerah,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Didik Tri Setyoko, alumni FISIP UNNES yang kini menjabat Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhadi Setiabudi, Brebes, Jawa Tengah. Ia menilai penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan alumni perlu menjadi agenda berkelanjutan, terutama untuk mendukung peningkatan kualitas serta daya saing institusi.
Menurut Didik, alumni dapat berkontribusi dalam berbagai proses pengembangan perguruan tinggi, termasuk pengisian tracer study, penguatan akreditasi, serta penyusunan visi dan misi institusi. Pengalaman alumni yang bekerja di berbagai sektor dapat menjadi sumber informasi untuk menilai kesesuaian program akademik dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan alumni, lanjutnya, juga dapat membantu perguruan tinggi merumuskan arah pengembangan yang lebih relevan dengan perubahan lingkungan profesional dan tantangan pendidikan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Temu alumni dalam Semarak FISIP 2026 dengan demikian tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana membangun hubungan timbal balik antara kampus dan lulusan. Perguruan tinggi memperoleh masukan mengenai relevansi pembelajaran, sementara alumni mendapatkan ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan jejaring profesional dengan generasi mahasiswa berikutnya.
Penguatan jejaring tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang relevan dan kolaborasi dengan praktisi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama berkelanjutan antara perguruan tinggi, alumni, dan masyarakat. Dengan menjadikan alumni sebagai mitra strategis, FISIP UNNES berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak berhenti ketika mahasiswa lulus, tetapi terus berkembang melalui kontribusi bersama.




